oleh Giswa Juanda
akubukanmanusiapurba.blogspot.com
akubukanmanusiapurba.blogspot.com
Nadut; 3 tahun; Pengangguran
(06.00-07.00) Rebahan depan TV sambil nonton kartun pagi..
(09.30-11.30) Mainan mobil-mobilan, minum susu, teriak-teriak, sambil nonton Sinetron Adaptasi..
(11.30-13.30) Tidur dengan dot di mulut, dan remote TV ditangan..
(14.30-16.00) Nonton Cartoon Channel, Sinema anak, sambil tiduran dan nglemparin sesuatu ke Ucil (kucing rumah)..
(16.30-17.30) Maen ke tempat tetangga sesama balita pengangguran buat nonton bareng sebangsa Tom and Jerry, atau sebaliknya, mengajak mereka nonton bareng di rumah..
(19.00-21.00) Lompat-lompatan, corat-coret kertas, ngedot, sambil nemenin Neneknya nonton Sinetron..
(21.00-06.00) Tak sadarkan diri, terlelap..
(06.00-07.00) Rebahan depan TV sambil nonton kartun pagi..
(09.30-11.30) Mainan mobil-mobilan, minum susu, teriak-teriak, sambil nonton Sinetron Adaptasi..
(11.30-13.30) Tidur dengan dot di mulut, dan remote TV ditangan..
(14.30-16.00) Nonton Cartoon Channel, Sinema anak, sambil tiduran dan nglemparin sesuatu ke Ucil (kucing rumah)..
(16.30-17.30) Maen ke tempat tetangga sesama balita pengangguran buat nonton bareng sebangsa Tom and Jerry, atau sebaliknya, mengajak mereka nonton bareng di rumah..
(19.00-21.00) Lompat-lompatan, corat-coret kertas, ngedot, sambil nemenin Neneknya nonton Sinetron..
(21.00-06.00) Tak sadarkan diri, terlelap..
(7 dari 11 jam masa sadarnya beraktivitas bersama TV)
Mak Min; 51 tahun; Tamat SD; Kerja Momong Nadut
(05.00-08.00) Masak, Nyuci, Beres-beres rumah..
(08.30-09.00) Jemput, Mandiin, Nyuapin Nadut..
(09.30-11.30) Ngawasin Nadut mainan, sambil mereka nonton Sinetron Adaptasi..
(11.30-13.30) Memastikan Nadut terlelap tidur, sambil berusaha ngambil remote TV dari tangan Nadut supaya dia bisa nonton berita dan reality show..
(14.00-14.30) Nyuapin dan bikin susu buat Nadut..
(14.30-16.00) Nemenin Nadut nonton Cartoon Channel, Sinema anak, sambil dia sesekali beberes ngambilin barang-barang yang dilemparin Nadut ke Ucil..
(16.00-16.30) Mandiin Nadut lantas mengantarnya pulang ke Ibunya..
(16.30-19.00) Beberes, lantas setelahnya terserah dia mau ngapain, bukan urusan saya, apalagi kamu..
(19.00-22.30) Nonton sinetron-sinetron-sinetron
(05.00-08.00) Masak, Nyuci, Beres-beres rumah..
(08.30-09.00) Jemput, Mandiin, Nyuapin Nadut..
(09.30-11.30) Ngawasin Nadut mainan, sambil mereka nonton Sinetron Adaptasi..
(11.30-13.30) Memastikan Nadut terlelap tidur, sambil berusaha ngambil remote TV dari tangan Nadut supaya dia bisa nonton berita dan reality show..
(14.00-14.30) Nyuapin dan bikin susu buat Nadut..
(14.30-16.00) Nemenin Nadut nonton Cartoon Channel, Sinema anak, sambil dia sesekali beberes ngambilin barang-barang yang dilemparin Nadut ke Ucil..
(16.00-16.30) Mandiin Nadut lantas mengantarnya pulang ke Ibunya..
(16.30-19.00) Beberes, lantas setelahnya terserah dia mau ngapain, bukan urusan saya, apalagi kamu..
(19.00-22.30) Nonton sinetron-sinetron-sinetron
(9 dari 17 jam masa sadarnya beraktivitas bersama TV)
Slamet, 42 tahun; Sarjana; PNS
(06.00-07.00) Beberes sambil nonton berita pagi
(07.30-14.30) Menunaikan tugas Negara, oleh karenanya ia digaji, di beri tunjangan, di kasih kesejahreraan oleh negara, beraktivitas sebagaimana PNS kebanyakan..
(14.30-18.30) Istirahat, beberes, sambil nonton berita..
(18.30-20.00) Fitness, biar tetap bugar untuk melayani negara, biar negara tidak kecewa dan tetap memberi tunjangan kesejahteraan kepadanya..
(20.30-00.30) Santai sambil nonton acara diskusi, debat, film dan atau acara TV lainnya..
(00.30-0600) Terlelap dengan TV masih menyala dan bersuara guna menemani Slamet tidur..
(06.00-07.00) Beberes sambil nonton berita pagi
(07.30-14.30) Menunaikan tugas Negara, oleh karenanya ia digaji, di beri tunjangan, di kasih kesejahreraan oleh negara, beraktivitas sebagaimana PNS kebanyakan..
(14.30-18.30) Istirahat, beberes, sambil nonton berita..
(18.30-20.00) Fitness, biar tetap bugar untuk melayani negara, biar negara tidak kecewa dan tetap memberi tunjangan kesejahteraan kepadanya..
(20.30-00.30) Santai sambil nonton acara diskusi, debat, film dan atau acara TV lainnya..
(00.30-0600) Terlelap dengan TV masih menyala dan bersuara guna menemani Slamet tidur..
(7 dari 18 jam masa sadarnya beraktivitas bersama TV)
Hampir bahkan lebih dari 50% aktivitas manusia digunakan untuk menonton TV dalam kesehariannya. Faktor usia, pendidikan, juga pekerjaan mempengaruhi preferensi mereka dalam memilih acara. Semakin berpendidikan semakin berkualitas acara yang mereka tonton, sebaliknya, semakin rendah tingkat pendidikannya, semakin asal mereka memilih tayangan untuk mereka tonton, kebanyakan berdasar ketertarikan pada sifat entertain semata, bukan pada titik edukasinya.
Bagi anak-anak, terdapat Parental Guidance, kewajiban orang tua untuk membimbing serta mengarahkan bahkan memilihkan acara televisi mana yang baik untuk mereka. Terkait dengan penyerapan keilmuan yang ditawarkan berbagai acara televisi, anak-anak belum mampu untuk membedakan mana yang baik untuk seusianya. Maka perlu peran intensif orang tua untuk mengawasi mereka, hal ini karena anak-anak berada pada posisi penerima ilmu, sedang orang dewasa sebagai pemberi ilmu.
Lantas bagaimana dengan orang dewasa yang tingkat pendidikannya rendah, seperti kebanyakan masyarakat Indonesia yang masih berada pada kondisi yang sama? Mampukah mereka menyaring sendiri tontonan yang patut bagi mereka, sedang mereka seharusnya berada pada posisi pemberi ilmu bagi generasi dibawah mereka.
Sebenarnya, asalkan kondisi pendidikan di Indonesia telah mumpuni untuk diterapkan kepada seluruh warga negaranya, secara otomatis pendidikan inilah yang akan membantu proses penyaringan informasi terutama melalui media televisi. Namun kondisi secara faktual, pendidikan yang diterima tidak merata seperti yang dikonsepkan, ada beberapa generasi sebelum kita yang tidak mendapat pendidikan sebagaimana mestinya karena beberapa hal, utamanya karena faktor capital, kebanyakan dari mereka tidak mempunyai modal untuk membiayai pendidikan diri mereka sendiri, bahkan anak-anak mereka.
Disinilah peran negara untuk membantu memilihkan secara tidak langsung acara yang berkualitas bagi masyarakat kebanyakan. Tidak dengan intervensi represif pada media penyiaran, namun dengan aturan serta pengawasan yang mereka laksanakan. Sehingga tidak menyisakan tayangan-tayangan yang tidak pantas diserap oleh mayarakat kebanyakan. Juga perlunya membangun kesadaran produser-produser acara televisi agar menciptakan tayangan yang berkualitas dan dapat diserap masyarakat kebanyakan, tidak hanya tayangan pengobar semangat fatalis semata dan dengan latar kapitalis, serta pengarahan pada media agar bergerak sesuai fungsinya.
Harapan ini tidak hanya untuk media, orang tua, ataupun anak-anak, namun juga bagi mahasiswa yang merasa kreatif untuk mengasup wacana dan membuat perubahan. Kreatif memilih dan kreatiflah mencipta!!
Bagi anak-anak, terdapat Parental Guidance, kewajiban orang tua untuk membimbing serta mengarahkan bahkan memilihkan acara televisi mana yang baik untuk mereka. Terkait dengan penyerapan keilmuan yang ditawarkan berbagai acara televisi, anak-anak belum mampu untuk membedakan mana yang baik untuk seusianya. Maka perlu peran intensif orang tua untuk mengawasi mereka, hal ini karena anak-anak berada pada posisi penerima ilmu, sedang orang dewasa sebagai pemberi ilmu.
Lantas bagaimana dengan orang dewasa yang tingkat pendidikannya rendah, seperti kebanyakan masyarakat Indonesia yang masih berada pada kondisi yang sama? Mampukah mereka menyaring sendiri tontonan yang patut bagi mereka, sedang mereka seharusnya berada pada posisi pemberi ilmu bagi generasi dibawah mereka.
Sebenarnya, asalkan kondisi pendidikan di Indonesia telah mumpuni untuk diterapkan kepada seluruh warga negaranya, secara otomatis pendidikan inilah yang akan membantu proses penyaringan informasi terutama melalui media televisi. Namun kondisi secara faktual, pendidikan yang diterima tidak merata seperti yang dikonsepkan, ada beberapa generasi sebelum kita yang tidak mendapat pendidikan sebagaimana mestinya karena beberapa hal, utamanya karena faktor capital, kebanyakan dari mereka tidak mempunyai modal untuk membiayai pendidikan diri mereka sendiri, bahkan anak-anak mereka.
Disinilah peran negara untuk membantu memilihkan secara tidak langsung acara yang berkualitas bagi masyarakat kebanyakan. Tidak dengan intervensi represif pada media penyiaran, namun dengan aturan serta pengawasan yang mereka laksanakan. Sehingga tidak menyisakan tayangan-tayangan yang tidak pantas diserap oleh mayarakat kebanyakan. Juga perlunya membangun kesadaran produser-produser acara televisi agar menciptakan tayangan yang berkualitas dan dapat diserap masyarakat kebanyakan, tidak hanya tayangan pengobar semangat fatalis semata dan dengan latar kapitalis, serta pengarahan pada media agar bergerak sesuai fungsinya.
Harapan ini tidak hanya untuk media, orang tua, ataupun anak-anak, namun juga bagi mahasiswa yang merasa kreatif untuk mengasup wacana dan membuat perubahan. Kreatif memilih dan kreatiflah mencipta!!
Purwokerto, 050410

0 comments:
Post a Comment