oleh Giswa Juanda
akubukanmanusiapurba.blogspot.com
Purwokerto, 030410
akubukanmanusiapurba.blogspot.com
Farhan tetap duduk lekat-lekat di karpet itu, rutinitasnya memandangi kotak elektronik yang memendarkan cahaya visual nampaknya membuatnya mengacuhkan permainan lainnya, permainan yang lebih mendidik ketimbang menyaksikan acara yang diprogram untuk menghipnotis bocah seusianya untuk pasif.
”Mak, Ular, Mak Ular!!” rengeknya kepada biyung asuhnya meminta disetelkan televisi yang menyiarkan tontonan kisah-kisah irrasional. Tidak hanya Farhan, bocah 3 tahun, namun juga nenek serta biyung asuhnya pun terbawa ke persepsi yang acara itu tayangkan. Sungguh memilukan pikirku, beberapa tayangan televisi di Indonesia masih menganggap penontonnya sebagai komoditi, bukan sebagai subjek yang dipandang cerdas.
Apabila diperhatikan, kualitas dunia penyiaran di Indonesia semakin meningkat dalam hal penggunaan teknologi, namun dari segi substansi penyampaian fungsi mereka sebagai media penyiaran, sangatlah kurang.
Mereka lupa bahwa media penyiaran bukan saja tentang lembaga ekonomi yang melihat masyarakat sebagai komoditi tanpa memperdulikan aspek edukasi apa yang tersampaikan dari acara yang ditayangkan dari perusahaannya, namun juga ada fungsi pendidikan disana yang harus mereka perhatikan.
Simak saja beberapa acara yang menampilkan sisi privasi yang sebenarnya merupakan aib bagi kebanyakan orang, atau film-film dengan label ”adaptasi” namun sebenarnya tiruan yang sangat tidak berkualitas. Dan sayangnya, masyarakat menerima begitu saja adonan visual ini tanpa menyaringnya untuk tidak sekedar mereka konsumsi sendiri, namun juga disajikan pula untuk buah hati mereka.
Penyaringan tentu saja bisa dilakukan secara pribadi untuk memilah-milah mana program yang layak kita konsumsi serta mana yang perlu dihindari. Namun kemampuan memilah seperti itu dipengaruhi oleh faktor-faktor penunjang, yang paling dominan yaitu tingkat pendidikan. Semakin orang tersebut berpendidikan, semakin rasional pula pemikirannya untuk memilih acara mana yang berkualitas untuk ia konsumsi bersama keluarganya. Namun, kondisi pendidikan di Indonesia tidak membuat para nara didiknya tersebar rata, masih lebih dari 40% penduduk Indonesia tidak dapat mengenyam pendidikan.
Dilain sisi, pemenuhan kebutuhan akan hiburan seperti televisi sangatlah mudah didapatkan ketimbang membiayai diri mereka untuk mendapatkan pendidikan. Maka menjadi hal yang lumrah apabila kebutuhan tersier seperti televisi menempati urutan kedua setelah perumahan ketimbang pendidikan yang menempati urutan ke tujuh dalam hal preferensi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Dengan pendidikan yang minim dan berimbas pada daya nalar rasional yang lemah, maka filter terhadap program televisi yang tak edukatif sangatlah kurang. Hal ini nantinya berimbas pada pola hidup mereka yang mudah termakan dengan hal non ilmiah tadi. Terlebih pada masyarakat Indonesia yang sebagian adaptif, senang meniru.
Lantas bagi kondisi psikologis anak yang sedang berkembang yang tentunya berpengaruh pada pola pikir mereka nanti. Oleh karenanya hendaknya Badan sensor dan pengawas penyiaran di Indonesia lebih selektif terhadap program-program televisi yang layak siar. Dan tidak mudah meloloskan acara yang sama sekali tidak memiliki nilai edukasi, hal ini tentunya semakin memanjakan produser-produser malas yang hanya memakai label ”adaptasi” tadi untuk meraup keuntungan, seharusnya mereka malu dengan tidak menjadi kreatif seperti itu.
”Mak, Ular, Mak Ular!!” rengeknya kepada biyung asuhnya meminta disetelkan televisi yang menyiarkan tontonan kisah-kisah irrasional. Tidak hanya Farhan, bocah 3 tahun, namun juga nenek serta biyung asuhnya pun terbawa ke persepsi yang acara itu tayangkan. Sungguh memilukan pikirku, beberapa tayangan televisi di Indonesia masih menganggap penontonnya sebagai komoditi, bukan sebagai subjek yang dipandang cerdas.
Apabila diperhatikan, kualitas dunia penyiaran di Indonesia semakin meningkat dalam hal penggunaan teknologi, namun dari segi substansi penyampaian fungsi mereka sebagai media penyiaran, sangatlah kurang.
Mereka lupa bahwa media penyiaran bukan saja tentang lembaga ekonomi yang melihat masyarakat sebagai komoditi tanpa memperdulikan aspek edukasi apa yang tersampaikan dari acara yang ditayangkan dari perusahaannya, namun juga ada fungsi pendidikan disana yang harus mereka perhatikan.
Simak saja beberapa acara yang menampilkan sisi privasi yang sebenarnya merupakan aib bagi kebanyakan orang, atau film-film dengan label ”adaptasi” namun sebenarnya tiruan yang sangat tidak berkualitas. Dan sayangnya, masyarakat menerima begitu saja adonan visual ini tanpa menyaringnya untuk tidak sekedar mereka konsumsi sendiri, namun juga disajikan pula untuk buah hati mereka.
Penyaringan tentu saja bisa dilakukan secara pribadi untuk memilah-milah mana program yang layak kita konsumsi serta mana yang perlu dihindari. Namun kemampuan memilah seperti itu dipengaruhi oleh faktor-faktor penunjang, yang paling dominan yaitu tingkat pendidikan. Semakin orang tersebut berpendidikan, semakin rasional pula pemikirannya untuk memilih acara mana yang berkualitas untuk ia konsumsi bersama keluarganya. Namun, kondisi pendidikan di Indonesia tidak membuat para nara didiknya tersebar rata, masih lebih dari 40% penduduk Indonesia tidak dapat mengenyam pendidikan.
Dilain sisi, pemenuhan kebutuhan akan hiburan seperti televisi sangatlah mudah didapatkan ketimbang membiayai diri mereka untuk mendapatkan pendidikan. Maka menjadi hal yang lumrah apabila kebutuhan tersier seperti televisi menempati urutan kedua setelah perumahan ketimbang pendidikan yang menempati urutan ke tujuh dalam hal preferensi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Dengan pendidikan yang minim dan berimbas pada daya nalar rasional yang lemah, maka filter terhadap program televisi yang tak edukatif sangatlah kurang. Hal ini nantinya berimbas pada pola hidup mereka yang mudah termakan dengan hal non ilmiah tadi. Terlebih pada masyarakat Indonesia yang sebagian adaptif, senang meniru.
Lantas bagi kondisi psikologis anak yang sedang berkembang yang tentunya berpengaruh pada pola pikir mereka nanti. Oleh karenanya hendaknya Badan sensor dan pengawas penyiaran di Indonesia lebih selektif terhadap program-program televisi yang layak siar. Dan tidak mudah meloloskan acara yang sama sekali tidak memiliki nilai edukasi, hal ini tentunya semakin memanjakan produser-produser malas yang hanya memakai label ”adaptasi” tadi untuk meraup keuntungan, seharusnya mereka malu dengan tidak menjadi kreatif seperti itu.
Purwokerto, 030410

0 comments:
Post a Comment