Candu yang mana?

oleh AkuBukanManusiaPurba

Aku tetap berkutat dalam candu..
Candu diriku yang manusiawi..
Candu yang penuh nafsu..

Aku hampiri yang kedua,
setelah aku puas dengan yang pertama..
Aku hampiri yang ketiga,
Setelah aku bosan pada yang kedua..

Hatiku berontak,
saat kalian teriakan;
tahan.. tahan..

Apa yang harus aku tahan?
Bahkan apa yang harus aku cari?

Aku terhenyak saat melihat jawaban pada cermin diriku..

Awalnya; aku candu pada nafsuku..
Salahnya; aku menahan kesabaranku..
Tololnya; aku mencari-cari kemarahanku..

Pada hati aku bertanya..
Jawabnya; tahan kemarahanmu..
Carilah kesabaranmu..

Candulah itu!!
Read More...

Apa?

oleh AkuBukanManusiaPurba

Aku bukan Apa.. dan Apa aku ini?
Kenapa bukan Apa.. lalu Apa itu Kenapa?
Dimana bukan Apa.. tapi Dimana Apa itu?
Kau bertanya Mengapa.. jadi, Apa itu Mengapa?

Tanyakan Apa pada Siapa!! Siapa? Aku?

Aku dan kau; dirimu; Apa?
Aku akan berkata, Aku makhlukNya..
Aku manusia dengan intelegensi sangat landai..
dengan segala keterbatasanku saat tercipta..
dengan tawaran kata Apa,
sebagai amunisi serta benih rentetan fakta..

Fakta akan Apa? Apa itu Fakta?

Sebuah guliran kenyataan
bahwa awalnya kita bukan Apa-apa..
kita terbentuk sebagai Apa..
dan mencari, Apa kita ini nantinya..

katakan Apa!! karena tanpa Apa,
kita bukan Apa-apa..
Read More...

Anaknya yang Lain

oleh AkuBukanManusiaPurba

Aku malu pada Ibu Negara ini;
Anaknya yang duduk, tak peduli pada anaknya yang menangis..

Aku malu pada Ibu Negara ini;
Kebunnya yang lapang, kini bukan miliknya lagi..

Aku malu pada Ibu Negara ini;
Perhiasannya yang apik, digerogoti tetangga Negara ini.. emas yang hilang, batubara yang menguap, terganti dengan hutang yang menggunung..

Anaknya bertikai berebut kursi negaranya, dan anak yang lain menangis menahan tampuk dosa saudara yang duduk..

Aku anaknya yang yang lain..
yang masih berlatih berjalan dan berbicara..
yang masih menyusu kepadanya..

kelak; aku dan saudaraku,
akan berlari dan berteriak lantang..

Kembalikan milik Ibuku
Read More...

Pelabelan dalam Realitas Sosial


oleh AkuBukanManusiaPurba

Pada awalan kehidupan ketika manusia mulai diretaskan dengan kemampuan berpola pikir sederhana dan dengan keterbatasan akan pengetahuan tentang batasan itu sendiri, manusia mulai diantarkan pada bentuk pengenalan akan keadaan sekitar. Manusia mulai mampu menganalisa struktur segala sesuatu yang dilihatnya dengan pemaknaan yang cukup dangkal untuk ukuran manusia modern saat ini. Manusia mulai mampu berkomunikasi dengan bahasa atau visualisasi gerakan tubuh sebagai bentuk penyampaian maksud dari individu yang satu pada individu yang lain. Berbanding lurus dengan perkembangan pola pemikiran manusia, peradabanpun semakin berkembang. Penilaian akan peradaban tersebut dapat dimulai dari bagaimana masyarakat suatu bangsa menorehkan perkembangannya pada suatu bentuk simbolisasi pada suatu peninggalan peradaban sebagai dokumentasi bagi generasi selanjutnya.

Pergantian era juga waktu membuat pola pikir kian berkembang, dipengaruhi berbagai faktor serta unsur, manusia menemukan berbagai penemuan-penemuan yang bertujuan untuk mempermudah berbagai kinerja manusia. Berbagai bentuk simbol, label, serta tanda-tanda telah membuncah seiring modernitas berjalan. Tiap sudut pandangan manusia kini dijejalkan dengan kemudahan dalam memaknai sesuatu, dengan adanya suatu simbol atau tanda tertentu. Tanpa repot membuka kamus atau bertanya pada seseorang kita dipermudah dengan tanda serta simbol tadi dengan pemaknaan yang sederhana. Bersifat mudah dimengerti serta dicerna oleh pikiran dan dengan bentuk yang sederhana, simbol atau tanda membantu otak manusia untuk berpikir cepat karena hanya menyentuh permukaan dari bentuk tadi, tidak mendalam mengartikan maknanya.

Tanda atau simbol tak hanya terpaku pada suatu bentuk tulisan atau gambar saja, dapat juga dalam bentuk suara ataupun gerakan tubuh (body language). Kesemuanya merujuk pada suatu tujuan yaitu penyampaian maksud. Agar kita mampu memahami serta mengerti maksud apa yang hendak disampaikan, kita harus mampu membaca situasi serta kondisi saat penyampaian itu agar tidak miss perception. Bidang ini ternaungi dalam suatu ilmu tersendiri mengenai pemaknaan suatu tanda dan symbol, yaitu Semiotika. Dalam semiotika kita dituntut untuk lebih peka memaknai sebuah bentuk penyampaian agar maksud dapat kita tangkap tanpa kehilangan makna aslinya. Celakanya ketika manusia menerapkan cara mereka menilai simbol pada kepribadian seseorang dengan hanya melihat penampilan atau gambaran luar saja. Darisini dapat tercipta suatu pelabelan.

Pelabelan

Memaknai suatu pelabelan lebih sulit daripada memaknai suatu simbol atau tanda biasa. simbol atau tanda merujuk pada suatu hal yang memiliki arti yang konkret, sedang pelabelan dapat bersifat sangat ambigu bahkan sulit diterka makna sebenarnya. Menyoroti akan adanya pelabelan, akan ada permasalahan yang muncul apabila kita memaknai hanya pada permukaan saja tanpa pendalaman. Sebagai contoh penyimbolan, gambar huruf P yang dicoret dengan garis miring, dengan mudah kita menerka bahwa itu tanda dilarang parkir ditempat tanda tersebut dipasang, atau gambar garpu dan sendok yang menyilang, tidak mungkin kita akan mengartikan bahwa itu toilet, pastilah rumah makan. Pada contoh penyimbolan diatas penyampaiannya dimaksudkan pada sesuatu yang konkret yaitu larangan, rumah makan, toilet, dsb dan dengan mudah kita memahami tanpa harus memutar otak lebih keras untuk mengetahuinya.

Lalu bagaimana jika cara tersebut digunakan untuk menilai sebuah kepribadian seseorang dengan melihat tampilan luar mereka?

Judge the book by the cover, itulah yang akan kita lakukan nantinya apabila kita menerapkan cara tersebut, menghakimi. Sebagai contoh, wanita diidentikkan dengan kelembutan dan kelemahan, orang dengan rambut gimbal dan panjang dianggap sebagai preman, seseorang dengan pakaian kucel dan tampang kotor dianggap sebagai gelandangan, dll. Coba telusuri dan maknai lebih dalam, bisa saja wanita tersebut adalah seorang petinju atau pegulat dan jauh dari kesan lemah, bisa saja orang dengan rambut gimbal merupakan seorang ilmuwan yang karena kesibukannya sehingga jarang keramas, atau bisa saja seseorang dengan pakaian kucel tadi merupakan artis yang sedang istirahat dalam masa shooting.

Memang, sebatas tiada yang dirugikan maka pemikiran seperti ini baik-baik saja. Namun, pemahaman yang parsial seperti ini ditakutkan malah akan menjadi boomerang bagi kita sendiri, pikiran kita akan dangkal dan pragmatis dalam memahami sesuatu. Setiap penilaian juga dipengaruhi unsur-unsur tertentu, seperti latarbelakang sosial, ekonomi serta budaya masing-masing. Penilaian seorang dosen berbeda dengan penilaian seorang petani pada mahasiswa, penilaian orang miskin berbeda dengan penilaian orang kaya. Sebagai contoh sebuah pemahaman, kata “hari ini makan apa?” maknanya akan berbeda ketika diucapkan oleh orang miskin dan orang kaya, pada orang miskin kata tersebut merujuk pada pengertian kebingungan bahwa tak ada sesuatu yang dapat mereka makan pada saat itu dengan kondisi memang tak ada pilihan, berbeda halnya ketika kata tersebut dilontarkan oleh borjuis atau konglomerat yang maknanya merujuk pada kebingungan atas berbagai pilihan serta referensi tempat makan serta jenis makanan yang dapat mereka nikmati. Oleh karenanya, sebagai mahasiswa kita dituntut untuk lebih kritis dalam memahami suatu simbol terlebih pelabelan.

Let’s preserve what must be preserved, perfect what cannabe perfected!!

Menurut Heraklitus, seorang filsuf Yunani, bahwa dengan belajar melupakan dan berpikir lateral maka kita akan bisa memperoleh makna yang sesungguhnya. Terkait dengan contoh tadi, apabila kita dalam menilai mereka dengan sejenak kita lupakan bahwa wanita itu lemah, gimbal itu preman, dan kucel itu gelandangan, maka kita akan berusaha secara objektif mencari makna baru. Dan dengan berpikir lateral yaitu berusaha berpikir menyamping yaitu tidak memandang bahwa status kita lebih tinggi dari siapapun dan anggap semua sama maka tak ada subjektifitas yang merugikan dalam penilaian kita.

Sekarang, dapatkah kita berpikir seperti itu??
Read More...

IA DAN ILMU YANG MENGHIBURKU


oleh Akubukanmanusiapurba

Aku bersandar pada dunia yang penuh warna..

Menyajikan beranda surga yang samar dan fana..
Konon, semua sama dan setara,
Kini, semua berbeda dengan tingkat yang beraneka..

Apakah mataku telah tertutup?
Menatap jalanNya pun aku tak mampu..
Apakah aku telah tuli?
Mendengar ratapanNya pun aku ragu..

Dunia bergerak dengan atau tanpa diriku,
Memilih untuk mengejar atau tertinggal..
Saat sedikit tergelak, aku sadar..
Ilmu yang membuat kita setara,
Walau dengan materi yang berbeda..
Yang tetap menghibur dalam duka,
Atau terhibur dengan paksa..

TanpaNya semua pun sia..
Read More...

Hiburan sebagai Topeng



Kebutuhan akan hiburan bagi sisi rohani, bagaikan kebutuhan akan pangan bagi sisi jasmani manusia. Keduanya menjadi hal yang primer dan tak terganti dengan suplai kehidupan lainnya. Tetapi terkadang hiburan dijadikan kedok bagi tindakan yang sebenarnya dapat diklasifikasikan sebadai tindakan yang bertentangan dengan asusila, moral, bahkan hukum.”

Tiap aspek kehidupan tak elak manusia membutuhkan sesuatu untuk mengimbangi penat rutinitas mereka, kebutuhan akan tawa, rasa riang, serta rileks, semua berorientasi pada kepuasan rohani mereka. Untuk itulah mereka mencari sesuatu yang bersifat entertain, menghibur jiwa mereka. Berbagai hal dapat dijadikan sebagai alat pemuas akan hiburan seperti musik, olahraga, games, serta berbagai hal lain. Tak heran tiap individu memiliki
preferensi tersendiri sebagai hiburan mereka, dengan kata lain hiburan merupakan sesuatu yang relatif bagi tiap individu. Hiburan pun dapat menjadi parameter strata sosial, mungkin bagi kaum papa, traveling ke luar negeri, permainan Golf, karaoke di RestoCafe mahal merupakan hal yang hanya mampu mereka jamah di alam mimpi, tapi bagi kaum borjuis hal itu lumrah dan teramat murah.

Kini tilik fenomena masyarakat yang mengatasnamakan hiburan pada kegiatan yang kerap disebut Penyakit Masyarakat, yaitu gambling. Gambling atau Judi yang kata Rhoma Irama merusak keimanan ternyata efektif sebagai obat penat bagi masyarakat. Lihat saja dari berbagai kemasan yang mampu diciptakan oleh masyarakat dan dicap dengan label Hiburan. Dari sabung ayam hingga permainan kelas kasino, dari yang bermodal receh hingga emas batangan, semua kian diminati masyarakat dari berbagai kalangan. Bahkan dunia maya pun kian memberi berbagai akses ke permainan ini. Kotor dan menyedihkan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hal yang tersirat dari Judi sabung ayam bahkan pada level yang lebih tinggi, judi gulat manusia. Kita terhibur melihat kekerasan dan menilai itu dengan nominal uang, betapa rendah martabat manusia saat itu, dan atas nama hiburan semua menjadi legal dipertontonkan dan disandingkan demi kepuasan segelintir manusia.

Judi merupakan tindakan yang menaruhkan resiko atas harta bendanya pada hasil akhir yang tak pasti. Pada taraf hiburan, hal ini tidak signifikan menguras ekonomi seseorang karena hanya sekedar mengisi waktu, tetapi sifat addicted (candu) dari permainan ini mampu menghipnotis manusia untuk mengubah preferensi dari permainan menjadi mata pencaharian. Seperti drugs, seseorang akan kecanduan untuk terus mengambil resiko kehilangan harta bendanya hingga ia menang. Dipadukan dengan sifat ego manusia yang tidak pernah merasa puas dan selalu ingin lebih, mereka terus bertaruh. Permasalahan muncul apabila mereka telah kecanduan dan tidak memiliki apapun untuk dipertaruhkan, mereka akan mencari dan terus mecari bahkan bukan harta miliknya, dengan kata lain mencuri atau merampok. Inilah mengapa Judi disebut sebagai penyakit manyarakat, karena akibat yang ditimbulkan setelahnya mengarah pada tindak kriminal. Walau seperti itu, nama hiburan tetap kental sebagai topeng yang menutupi belang dari penyakit masyarakat ini.

Pada kasus lainnya, hiburan kerap kali digunakan sebagai kedok untuk menghadirkan tontonan asusila di hadapan publik. Dengan dalih meng-entertain masyarakat, mereka menampilkan goyangan dengan penampilan yang membutakan mata, jelas imbasnya pada sisi moral masyarakat yang terkontaminasi. Lebih berani lagi, café-café remang di beberapa daerah menyajkan hiburan yang benar-benar menggiurkan namun merusak, pijat plus-plus, karaoke striptease dan layanan kencan misalnya. Kini memang keinginan akan hiburan yang terimajinasikan oleh seseorang kian berbanding terbalik dengan norma dalam masyarakat. Maka itulah peran akal serta pikiran difungsikan, sebagai penyaring segala tindakan agar sesuai dengan apa yang disepakati, bukan apa yang diinginkan.

Sekarang semua kembali pada kita sebagai penentu hal yang pantas atau tidak yang akan kita tetapkan sebagai penghibur diri. Sempurnakan apa yang kita anggap kurang, bukan mengurangi yang telah sempurna.

Lets perfect what cannabe perfected!! Mampu gak ya!!!!
Read More...

Aku Bukan Tiwi


Sera duduk di samping jendela sore itu, memperhatikan dr. Pram yang sedang sibuk dengan clipboardnya mencatat setiap jawaban yang Sera lontarkan. dr. Pram ialah dokter ahli kejiwaan di RS Giziest, dan tentu saja Sera tak lain ialah salah satu pasiennya. “Sera, apa yang kau rasakan hingga saat ini?”, dr. Pram melanjutkan pertanyaannya. “Aku masih tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu, yang aku ingat saat ini ialah rasa kekecewaan atas kematian Ibuku. Saat itu aku gagal untuk tetap menjaga ibuku, hingga pondok itu terbakar didepan mataku!”. Pertanyaan ini sebenarnya telah berulang-ulang ditanyakan kepadanya, dan biasanya ia langsung terisak mengenang kejadian tragis itu. Dan ini ialah kali terakhir dr. Pram melontarkan pertanyaan ini, karena menurutnya Sera telah siap untuk meninggalkan tempat ini dan kembali tinggal bersama keluarganya yang tersisa, hanya tinggal menunggu waktu hingga Ayahnya menjemputnya.

Kejadiannya tiga tahun yang lalu, saat itu Sera sedang kalut dalam perjalanannya pulang dari kencan yang ia lakukan bersama Andry, kekasihnya. Mereka telah dua bulan berpacaran dan hubungan mereka kian jauh, namun hampir terlalu jauh hingga Sera melepas paksa pelukan Andry dan pergi bergegas untuk pulang, dia marah karena kenekatan Andry untuk meminta lebih darinya. Dalam kondisi seperti itu dia menghampiri gudang yang terpisah beberapa meter dari rumahnya untuk mengambil minyak tanah yang seingatnya untuk menyulut perapian di rumahnya, kondisinya memang dingin saat itu. Sera bergegas masuk ke rumah dan menuangkan sedikit minyak dalam botol tadi ke kayu dalam perapian, belum sempat ia menyalakanya terdengar suara dari dapur yang sedikit aneh baginya. Ia mengira itu suara Tiwi, kakak perempuannya, namun ia yakin Tiwi belum kembali dari tadi sore waktu ia pergi bersamanya ke tempat Selly, sepupu Andry. Dengan sedikit dorongan ia enggan untuk melihat ke dapur, namun akhirnya ia menggerakan kakinya untuk menghampiri suara tadi. Ia berjingkat berjalan ke sana agar siapapun atau apapun yang ada di sana tidak mengetahui kedatangannya, namun pintu dapur didapatinya terkunci. Tanpa pikir panjang ia lalu mengintip ke dalam dapur melalui lubang kunci dan melihat sesuatu yang sangat tidak ia harapkan dan ia duga akan dia lihat disana, Ayahnya sedang bermesraan dengan Greis, perawat pribadi ibunya. Ibunya memang sudah setahun terkena stroke dan terbaring lemah di pondok samping gudang persis, rumahnya memang terdiri dari tiga bangunan, yakni pondok tempat Ibu dan Greis tidur, gudang dan pondok utama tempat ia, Ayah, dan Tiwi tidur.

Emosi Sera langsung memuncak melihat kejadian itu dan ia langsung berlari keluar berniat mengambil lebih banyak lagi minyak untuk membakar rumahnya sendiri, rumah yang ia dapati sedang digunakan untuk menghianati kepercaan keluarga dan dirinya sendiri. Ia berlari dengan satu jirigen minyak di tangannya menuju ke arah luar dapur tempat Ayah dan Greis berada, namun belum sempat ia menyentuh gagang pintu, terdengar bunyi ledakan kecil dari arah gudang dan api yang sangat besar meluap membungkus gudang dan separuh dari pondok tempat dimana ibu berada. Ia menjerit memanggil ibunya dengan berlari ke arah pondok itu, namun ledakan keras dari pondok ibunya menghempasnya seolah bagai ada yang memukulnya hingga pingsan dan membuatnya tidak sadarkan diri. Itulah pecahan memori yang ia ingat tentang malam tragis saat ibunya meninggal.

Terkadang Sera sangat membenci Ayahnya karena malam itu, tetapi ia berpikir bahwa Ayahnyalah satu-satunya orang tua yang tersisa dan dia mulai memaklumi kejadian malam itu sebagai suatu kewajaran, Ayahnya sudah setahun sejak Ibu terkena stroke tidak mendapat jatah dari ibu. Namun walau begitu ia masih memendam benci kepada Ayahnya dan Greis, walau mereka tidak tau kalau Sera pernah memergoki mereka berdua malam itu.

”Sera, Sera!!” suara dr Pram membangunkannya dari lamunan. ”Sera, barang-barangmu sudah kau kemas? Sepertinya Ayahmu telah datang.” sambung dr Pram. ”Ya, sebentar lagi aku akan menemuinya di luar, mohon dokter menemani Ayahku dulu, aku ingin berganti pakaian.” ucap Sera malas. Sera justru merasa berat untuk kembali ke tempat itu lagi, tempat dimana kejadian tragis itu membuatnya terpukul, namun satu hal yang membuatnya ingin kembali ialah Tiwi, kakak perempuannya, ia sangat rindu kepadanya, Tiwi lama tidak menjenguknya dan ia ingin bertemu dan berenang bersamanya lagi di danau depan pondok mereka.

”Sera, boleh Ayah masuk sayang?” Ayahnya mengetuk di balik pintu. Kini Sera telah siap untuk menemui Ayahnya dan meninggalkan rumah sakit ini. ”Ya, buka saja!!” timpal Sera. Ayah dan dokter langsung masuk ke kamar dan melihat Sera yang berbeda dari yang biasanya, ia memang berbeda sekarang, tampil lebih anggun layaknya seorang wanita remaja, dan itu sudah lama tak Ayahnya dapati, Sera memang cantik, ia sedikit kurus dengan kulit yang putih cerah, rambutnya pendek dengan poni yang baru saja ia buat dengan sedikit sentuhan gunting rumah sakit.

”Yap, aku siap sekarang!!” seru Sera, ia tersenyum cerah pada Ayahnya yang menghampirinya dengan pelukan sayang. ”Oke Sera, semoga kita tidak berjumpa lagi sebagai dokter dan pasien ya!” canda dr Pram. Sera tertawa dan menghampiri dokter Pram dan memeluknya, ”terimakasih dok, aku bakal rindu dokter!” serunya. Sera memang telah menganggap dr Pram sebagai orang tuanya selama tiga tahun bersamanya, begitu pula tampaknya bagi dr Pram. Setelah berpamitan, Sera dan Ayahnya bergegas ke mobil dengan membawa barang-barang Sera di bagasi. Tidak perlu waktu lama untuk menuju ke samping kota tempat rumahnya berada, tempatnya memang agak jauh dari keramaian, suasana relaksasi yang khusus di pesan oleh Ayahnya untuk Ibunya, dengan tiga pondok yang menghadap ke danau dan udara yang sejuk mengitari rumah mereka.

Dalam perjalanan Sera hanya diam, walau Ayahnya sepertinya hendak mengobrol dengannya, namun suasana menjadi kaku sejak Sera melihat cincin perkawinan Ayahnya berbeda dengan yang biasa ia kenakan. Karenannya ia bertanya perihal cincin itu, ”Ayah, itu..” Sera bertanya sambil memperhatikan cincin di pergelangan jari Ayahnya. ”Oh, ini juga yang mau Ayah sampaikan tadi, Ayah telah menikah dengan Greis setahun yang lalu dan kami pikir kami akan memberitahumu setelah kau benar-benar sembuh sayang.” jawabnya. Mendengar itu Sera hanya diam, dan memang tiada haknya untuk marah dan ia menerimanya, namun yang ia pikirkan yakni bagaimana perasaan Tiwi waktu itu, pasti ia sangat marah. Sera sangat berbeda dengan kakaknya, Tiwi sangat tomboy dan keras, Tiwi juga sangat menyayangi ibunya dan Sera pikir Tiwi tidaklah semudah itu menerima Greis menggantikan posisi Ibunya. Kendatipun Sera menerima, namun ia mendukung apabila Tiwi berbuat sesuatu yang tidak mengenakan pada Greis seperti yang sedang ia bayangkan, pasti seru pikirnya.

”Sera, sayang, kau tidak apa-apa?” Ayahnya bertanya. Ia melamun lagi, ”oh, ada apa Yah?”, timpalnya sambil melihat kotak yang ia kenali milik Tiwi ada di pangkuan Ayahnya, sepertinya Ayahnya akan memberikan kotak itu padanya. ”Ini milik Tiwi, dia ingin kau memilikinya, kau tau, sejak kejadian itu Greis merasa bersalah ter..” kata-kata Ayahnya sama sekali tidak Sera dengarkan, ia mengamati kotak itu dengan penuh semangat, dan sembari Ayahnya berceloteh, ia memperhatikan isi kotak itu dan mengingat-ingat kenangan yang pernah ia alami bersama Tiwi, sungguh itu membuatnya ingin segera bertemu dengan kakaknya itu. Di dalamnya ada beragam barang milik Tiwi bersamanya dulu, foto-foto, arloji, gantungan kunci, dan belati gunungnya. Namun anehnya kenapa Tiwi ingin Sera memilikinya, Sera tak pikir panjang mengenai hal itu, yang ia pikirkan ialah berlari ke depan pondok menemui Tiwi dan berenang bersamanya nanti, selang beberapa waktu terlihatlah rumah mereka.

Sera segera berlari seperti yang ia harapkan tadi ke depan pondok ibunya, berharap melihat Tiwi ada disana. Namun ia hanya mendapati pondok kosong yang rupaya telah dibangun ulang setelah habis dilalap api, ia memerhatikan pondok itu dan mulai mengingat kenangan itu, kenangan pahitnya, dan ia mulai melamun lagi. Di tengah lamunannya ia di kagetkan dengan suara di samping pondok, di danau yang padahal dilihatnya kosong tadi, dan kemudian ia melihat Tiwi disana dengan baju renangnya. ”Tiwi!!” ia meneriakan nama itu seolah baru pernah berlatih berbicara, dan sambil berlari ia memerhatikan sosok tinggi nan cantik itu. ”Hai Poni..” timpal Tiwi biasa. Poni memang panggilan Tiwi untuk adiknya itu, dan meskipun tampak biasa saja, namun Sera yakin Tiwi sangat senang bertemu dengannya.

Sera berlari dan menubruk Tiwi kemudian memeluknya erat, ia sungguh sangat rindu kepada kakaknya itu. Mereka sangat berbeda, namun justru karena perbedaan itu mereka saling mengisi, Tiwi sosok yang keras dan sangat perhatian dengan segala hal tentang adiknya, sepertinya dia sudah terlihat iklas dengan perginya Ibu mereka dan dengan pengganti barunya, Greis. Sera pada awalnya menyangka demikian, bahwa Tiwi telah iklas dengan Greis, dan kepergian Ibunya, namun dalam obrolannya sangat-sangat terkesan dia membenci Greis, seperti yang ia tunjukan dalam kata-katanya, ”kau tadi sudah ke rumah? Kau cium bau busuk tidak dari dapur, itu bau masakan pelacur yang mengaku jadi ibu kita!” ucap Tiwi, memang tadi dari mobil ia melihat jendela dapur terbuka dan ada bau panggangan sesuatu yang sempat ia cium sebelum ke danau. ”Oh, belum, tapi aku sempat mencium bau masakan, dan aku pikir itu tidaklah buruk. Kamu gak senang dengan kehadirannya, bukannya kamu udah setahun sama dia, dan aku pikir demi kebaikan Ayah juga dia ada di sini bersama kita!” kilah Sera dengan penuh kemunafikan, sebenarnya Serapun enggan untuk menerimanya, namun ini hanya untuk menenangkan Tiwi saja. ”Hehe, kau cukup dewasa juga, ternyata gak sia-sia kamu disekolahkan di bidang kejiwaan!!” ledek Tiwi yang sambil berlari menghindar dari kejaran Sera. Sera tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan Tiwi, malah ia terhibur, kini mereka berdua saling kejar dan berlari ke arah pondok utama dimana Greis dan Ayah sedang menantinya untuk makan.

Sera masuk sendiri kerumahnya karena didapatinya Tiwi menghilang waktu ia mengejarnya, Sera berpikir selain Tiwi jago berlari, dia basah kuyup sehabis berenang dan dari ucapannya tadi di danau, dia tak mau makan makanan yang bau busuk seperti yang Tiwi pikir tadi, karenanya mungkin Tiwi menghilang dan lewat pintu belakang sekalian mandi. Namun Sera tidak menyangka Tiwi sekeras itu terhadap Greis, karena dari pertemuan pertamanya Greis tampaknya baik-baik saja dan memang begitulah ia yang Sera tau saat merawat Ibu dulu, hanya saja kekurangannya yakni mencoba menggantikan posisi Ibu, dan bagaimanapun Ibu tetaplah Ibu, tak ada orang lain yang dapat menggantikan ibu, sebaik apapun orang itu, dan itu mungkin yang Tiwi rasakan sekarang.

”Hai Sera,” sapa Greis kepadanya saat ia menghampiri ruang keluarga, Ayah dan Greis berdiri menyambutnya. ”Maaf tadi aku tak bisa ikut dengan Ayahmu untuk menjemputmu, aku harus menyiapkan makan malam untuk kita semua malam ini..” sambutnya lagi. ”Ya, tak apa lagian Ayah sudah cukup menerangkan kenapa kau tidak ikut menjemputku tadi di mobil, ya kan Ayah?” jawab Sera sambil memandang Ayahnya yang balik tersenyum pada Sera karena ternyata Sera memperhatikan apa yang diucapkannya tadi di perjalanan. Suasana kian menghangat saat makan malam yang di hadiri hanya oleh mereka bertiga, Sera belum mendapati kakaknya kembali dari tadi sore sehabis dari danau. Sera berpikir itu memang kebiasaannya sejak setahun yang lalu, tak pernah makan bersama dengan Greis dan Ayah, dan Sera segan menanyakan ini pada Ayah ataupun Greis yang ia pikir hanya akan membuyarkan suasana yang Greis dan Ayahnya coba untuk dibuat hangat, dan Sera mencoba menghargai mereka dengan ikut bersikap manis.

Malamnya, ia pergi ke kamarnya dan mencoba berbenah, walau Greis sudah cukup membantunya dengan ikut menata barang-barangnya saat ia ada di danau bersama Tiwi tadi sore. Hanya tersisa beberapa pekerjaan yang memang harus Sera sendiri untuk membenahinya. Dan hari mulai gelap ketika ia melihat kotak milik Tiwi lagi, ia teringat kalau tadi ia belum berterima kasih pada kakaknya itu atas barang-barang miliknya yang ia beri untuk Sera. Karena itu ia pergi ke kamar Tiwi seusai berbenah, tadinya kamar Tiwi ada di sebelah kamarnya, namun kini pindah ke bekas kamar ibunya di pondok samping gudang. Sera pergi kepondok itu dan didapatinya pondok itu terang, sepertinya Tiwi ada di sana. Alih-alih mendapati kakaknya, Sera malah mendapati Andry ada di sana bersama Greis. Ada perahu ditambatkan di danau yang aku kenali sebagai kapal milik toko serba ada milik keluarga Andry, karena begitulah bunyi tulisan di dinding kapal itu. Sera menghampiri mereka, dan mereka bertiga terlihat kikuk, nampaknya Andry sedang mengantarkan barang yang di beli Greis. ”Hai Sayang, belum tidur?” tanya Greis, namun Sera sibuk memandangi Andry yang juga sibuk memandangi Sera. ”Sera!!” panggil Greis sekali lagi, ”oh, ya aku belum ngantuk, tadi aku melihat lampu menyala dari atas, aku pikir ada orang jadi aku kemari” jawabnya kaget. Andry hanya diam dan sama sekali tidak menyapa Sera. Keduanya masih ingat kejadian malam itu, sebelum kejadian tragis itu terjadi.

”Sera, bisa bantu aku membawa ini ke gudang?” tanya Greis sekali lagi sambil menunjuk banyak barang yang baru saja di turunkan dari kapal milik Andry. ”Ya, sebentar!” jawabnya sambil melihat Greis berlalu membawa barang ke gudang. Perginya Greis membuat suasana lebih cair dan Andry terlihat begitu santai, ”hai, maaf, dulu, aku, tadi..” ucap Andry terbata-bata mencoba mengawali pembicaraan. ”Oh, hai, sekarang kau menggunakan itu untuk mengantar barang?” jawab Sera tenang sambil menunjuk kapal yang ada di pinggir danau. ”Ya, maksud aku tadi aku dengar kamu sudah balik dari Ayahmu sewaktu memesan barang-barang ini dari tokoku. Oh ya, sekarang aku yang mengantar barang-barang toko, dan beberapa bulan lalu Ayah membeli kapal khusus untuk mengantar barang ke pelanggan-pelanggan di pinggir danau, termasuk Greis” jawab Andry. Dulu memang Ayahnya yang mengantar barang dengan truk pick up, namun memang harus berputar jauh karena tokonya ada di ujung danau, dan Andry belum cukup umur untuk mengendarai mobil atau kapal saat itu. Danau di depan pondok memang terhubung dengan sungai besar yang dilalui kapal barang, danau terbesar yang ada di propinsi ini. ”Sera, maaf kejadian dulu itu, aku gak ada maksud buat..” sela Andry, Sera paham yang Andry maksudkan dan ia sudah lama melupakan itu. ”Oh, gak masalah kok Ndri, itu udah lama, lagian itu wajar kok, maksud aku, kamu cowok!!” jawab Sera. Obrolan mereka terputus dengan kembalinya Greis dari gudang dan berdehem kepada mereka berdua sebagai sindiran. Merasa tersindir, Andry dan Sera ikut membantu mengangkat barang kegudang, dan sambil mengobrol, kini mereka kian akrab.

Barang-barang kebutuhan sudah masuk ke gudang, dan Andry sudah kembali, namun ia tertarik dan penasaran dengan kata-kata terakhir sebelum mereka berpisah, ”Sera, aku tahu semuanya, kejadian malam itu, kalau mau, aku tunggu kau besok di tempat biasa!!” Namun Sera tidak begitu paham dengan apa yang ia maksudkan, dan terkesan Andry sangat hati-hati sekali dengan Greis, karena ia tidak melanjutkan kata-katanya ketika ia melihat Greis datang untuk memberi uang sisa pembayaran barang tadi siang. Penasaran dengan itu, Sera berniat menemui Andry besok malam, namun ia teringat tujuannya datang ke pondok, yakni melihat apakah Tiwi sudah kembali atau belum, dan tadi ia lupa menanyakan apakah Tiwi ada bersama Selly kepada Andry. Sera mengecek lewat jendela dan ia tidak melihat Tiwi ada di sana, Sera pun kembali ke kamarnya.

Sera ada di kamar ibunya, melihat ibunya ingin berkata-kata namun tiada kata yang terdengar dari mulut rentanya, ia terlihat sangat tua dan ia menunjuk sesuatu menerobos jendela ke arah pondok utama, Sera menghampiri Ibunya, dan dilihatnya api mulai berkobar, Sera berteriak, menjerit sekeras-kerasnya melihat ia menjauh dari gambaran ibunya. Sera berada diluar pondok sekarang, dia melihat api menyala dari gudang dan menjalar ke pondok ibunya, Sera berlari ke arah pondok dan melihat seseorang berdiri disana, di tempat yang ditunjuk oleh Ibunya tadi sambil memegang sebuah kaleng jerigen minyak, dan ia mengenali orang itu sebagai Greis. Greis tertawa saat Sera meminta pertolongannya, ”dimana Tiwi, dimana Ayah? Greis tolong ibu, Greis, tolong ibu!!!”, teriak Sera dalam mimpinya. Sera tak menyadari itu hanya mimpi sampai ia terbangun di tengah malam karena panggilan Tiwi. Peluh Sera mengalir di keningnya, ia kaget mendapati Tiwi ada di sampingnya, ”hei darimana saja kau ini? Sekarang siapa pacar kamu berani membuat kamu pulang jam segini?” tanya Sera. ”Kau mimpi buruk? Aku dari tadi ada di bawah, aku juga tau waktu Andry datang, dan aku tau kalau tadi Andry ingin mengatakan sesuatu..” timpal Tiwi, ”dibawah, kapan, tadi aku liat dari jendela gak ada!! Udahlah, eh kak, kamu temenin aku yah malem ini, trus besok temenin aku ke tempat Andry ya, ya!!” pinta Sera. ”iya-iya, tidur lagi gih!!” balas Tiwi sambil ikut tertidur. Sera tertidur lagi dan melihat Tiwi telah tiada di sampingnya esok paginya, dia tau kebiasaan olahraga kakaknya itu, jadi Sera berpikir pasti Tiwi sedang lari pagi.

Pagi ini Serapun mendapati Tiwi tidak makan bersama dengan Ayah dan Greis, dan itu menggambarkan betapa hubungan mereka sangat renggang, Sera belum berani menanyakan hal ini kepada Ayahnya maupun Greis. ”Yah, nanti aku mau pergi ke tempat Andry sama..” belum selesai Sera berucap, Greis telah berkata dan memotong ucapan Sera, ”oh, kebetulan, nanti kamu ikut aku aja sekalian ke toko Andry, ada sesuatu yang kemarin lupa aku beli, biar kamu gak repot pergi sendiri nanti. Sera sempat kesal pada Greis, lagian siapa yang mau pergi sendiri, Sera berniat pergi bersama Tiwi tadinya. Namun ia juga tidak berani menolak ajakan Greis, dan ia berniat menemui Tiwi untuk membatalkan janjinya, namun ia tidak melihat Tiwi disekitar pondok. Pagi itu Ayah membicarakan pendidikan lanjutannya, seharusnya ia telah di perguruan tinggi sekarang, namun tiga tahun di rawat membuatnya tertinggal dan harus ikut pendidikan susulan sendiri, dan ia baru sadar Tiwi harusnya juga kuliah, namun ketika akan menanyakannya pada Ayah, Ayah telah berangkat dan ia cukup segan bertanya hal itu pada Greis. Greis berbicara panjang lebar pagi itu di ruang makan tentang masa depan Sera dan pendidikan yang pantas untuknya, namun Sera tidak mendengarkan dan di malah memikirkan ucapan Andry semalam, Greis mulai membereskan meja dan menuju dapur, saat itulah Tiwi datang dengan baju olahraganya dan keringat yang bercucuran dan langsung menyambar roti bakar di meja. Dia hanya berkedip pada Sera dan pergi lagi ketika Sera memberi tahu tentang batalnya ia mengajak Tiwi pergi. Tiwi memang aneh pikir Sera.

Di toko Sera tidak ngobrol banyak dengan Andry, seperti yang ia pikirkan, Greis akan membuat Andry jadi segan untuk mengobrol dengan Sera. Dan hingga mau pulangpun Andry hanya sibuk dengan barang belanjaan kami, namun Andry sempat berucap ”nanti malam di tempat biasa saja!!” dan Greis terkesan mengamati kami dari dalam mobil saat Andry mengucapkan itu sembari meletakkan barang di bagasi. Sera sebenarnya bingung dengan kata tempat biasa, karena tiga tahun tak bersamanya tidak menjadikan itu biasa lagi, namun ia menebak tempat biasa yang dimaksud Andry yakni tebing di atas pantai tempat mereka biasa pacaran dulu.

Di rumah, Sera tidak bertemu dengan Tiwi, ia sibuk membantu Greis di dapur menyiapkan segala kebutuhan pesta besok lusa. Lusa malam akan diadakan pesta syukuran kembalinya Sera ke rumah ini dan pesta ulang tahun perkawinan Ayah dan Greis yang pertama. Itu menjawab kenapa banyak barang yang ia beli semalam dan hari ini. Greis menghadiahi Sera gaun yang cantik, yang harus ia gunakan di pesta nanti. ”Kau akan terlihat cantik dengan gaun ini!!” papar Greis, ”Yup, kau juga akan terlihat cantik besok malam Greis!!” balas Sera saat Greis mencocokkan gaun Sera dengan badan Sera. ”Aku akan sangat bersyukur kalau kau mau menerima aku sebagai pengganti ibumu, dan aku juga akan sangat berterima kasih bila kau tidak merusak hubunganku dengan James, Ayahmu!!” ungkap Greis, dan kata-kata tadi sungguh menyinggung Sera hingga ia pergi meninggalkan Greis di dapur. ”aku, pengganggu, siapa yang penggangu sebenarnya disini, aku atau dia” gerutu Sera di kamar. ”Pantas saja Tiwi gak betah di rumah, pasti dulu juga dia berkata seperti itu pada Tiwi.” tambahnya. Tak sadar karena kelelahan, Sera tertidur dengan bayangan Greis, Andry dan Tiwi ada di kepalanya.

Sera melihat ibunya melambai kepadanya, menyuruhnya untuk menghampirinya, mereka ada di pondok itu, tepat sebelum kebakaran terjadi, dan sekali lagi ibunya ingin berteriak tentang sesuatu, ia menunjuk ke arah Sera sekarang dan berkata ”bahaya!!” dengan suara yang tak keluar, dan api mulai berkobar disertai jeritan Sera meminta pertolongan, dia melihat Andry sekarang, namun dengan tempat yang berbeda, suasana gerimis saat itu dan dia berada di tebing di atas bukit yang semestinya di penuhi bintang. Andry ada di sana, dia menunjuk ke arah Sera, sama seperti yang ibunya lakukan tadi, namun ia meminta pertolongan sekarang dia memegang tangan Sera kuat, sangat kuat, seolah Andry sedang ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat hingga tarikan itu membuat kulit Sera terkelupas. Andry menangis dan menjerit, tulangnya terlihat keluar perlahan dan semakin kuar tarikan itu hingga Sera menjerit ketakutan. Sera terbangun dari tidurnya, dan merasakan seolah-olah hal itu baru terjadi, dia melihat jam dan sekarang sudah lebih dari tengah malam, dia teringat janjinya dengan Andry, namun di luar hujan dan sepertinya Andry juga telah pulang. Sera menghidupkan lampu kamarnya dan melihar ada jejak lumpur dan pakaian basah di depan kamar mandi, dan beberapa saat kemudian Tiwi keluar dari kamar mandi sambil memegangi pergelangan tangannya yang terlihat terluka. ”darimana kamu kak malam-malam gini? Ini apaan baju kotor ama bekas lumpur?” tanya Sera. ”Entahlah, aku malam ini tidur disini ya!! Jawab Tiwi. Setelah membereskan kamar dan luka Tiwi, Sera kembali tidur dengan ingatan yang masih sama seperti tadi dan dengan teka-teki apa yang hendak Andry sampaikan.

Esoknya, Sera dibangunkan oleh Ayah dengan Tiwi yang sekarang entah kemana. Mungkin Ayah ingin memberi informasi mengenai sekolah baruku, atau tentang Greis yang kemarin mengadukanku tentang ketidaksopananku padanya. Namun bukan keduanya yang Ayah sampaikan pada Sera pagi itu, melainkan berita kematian, ”Sera, Ayah harap kamu tabah, Andry ditemukan terjatuh dari tebing di sisi pantai danau tadi pagi, tulang-tulangnya patah dan dokter tidak dapat berbuat banyak untuk hidupnya, Andry meninggal sayang!!” ucap Ayah pada Sera yang langsung terisak mendengar kabar itu.

Sera bingung dengan kejadian-kejadian yang ia alami, seolah ada sesuatu dibalik ini semua, dia ingin sekali bercerita dengan kakaknya, namun Tiwi entah pergi kemana, mungkin ia pergi ke tempat pemakaman Andry bersama Selly setelah tadi diberitahu oleh Ayah, pikir Sera. Mimpi-mimpinya, sikap Andry, sikap Tiwi, juga sikap Greis yang aneh, Sera punya banyak pikiran tentang ini semua dan ia harus tahu kebenaran dari ini. Dan saat Sera sedang menyusun potongan-potongan memori di otaknya, Tiwi datang dengan mata sembab, dan sepertinya dia memang dari pemakaman bersama Selly. Tiwi, Selly dan Andry merupakan kawan akrab, ia pula yang mengenalkan Andry pada Sera, karenanya pasti Tiwi sangat sedih. Namun Sera kaget dengan kata-kata yang diucapkan oleh Tiwi pertama kali datang ke kamarnya dia mencari kotak miliknya yang diberikan Ayah padaku dan mengambil belati gunungnya. ”Akan ku bunuh wanita jalang itu, dia sudah keterlaluan, dulu ibu, lalu Ayah, dan sekarang Andry!!” ucapnya dengan emosi yang menjadi-jadi. Sera takut saat itu, dan ia memandang mata Tiwi dengan penuh tanda tanya, dan Tiwi paham maksud Sera, ia duduk dan menjelaskan semuanya. ”Maaf aku baru menjelaskan ini padamu Sera, kamu harus tahu kalau Greislah yang meracuni pikiran Ayah, dia ingin merebut posisi ibu dan lalu mengambil harta Ayah, dia perawat gadungan, dia berpura-pura bekerja sebagai perawat agar bisa meracuni ibu sekaligus merebut hati Ayah, dia yang membakar pondok ibu, Sera!!” jelasnya cepat. Sera semakin bingung, namun ini menjawab semua teka-teki itu. ”Semua itu gak ada buktinya kak, kita gak bisa asal nuduh kalau Greis yang bunuh Ibu!!” papar Sera. ”Sera sayang, selama tiga tahun ini aku mencari bukti itu, aku tahu kalau dia bukanlah perawat dari data yang aku dapat di rumah sakit. Dia tidak pernah bekerja sebagai perawat di kota ini, Ayah telah dibohongi. Lalu Andry juga tau tentangnya tentang kebusukannya, itu pula yang ingin Andry ungkap kepadamu, namun Andry telah dibunuhnya juga, sekarang aku akan bunuh dia Sera, sekarang juga, sebelum Ayah atau kamu jadi korban dia!!” ucap Tiwi.

Sera terlalu takut untuk membayangkan kejadian dibawah, Tiwi telah turun dengan membawa belati ke bawah, Sera sudah mencoba meyakinkan untuk melaporkan Greis ke polisi, namun Tiwi tidak mau mendengarkan, ”polisi tidak dapat dipercaya, sayang!!, ucap Tiwi. Dan kini Tiwi sedang menuju dapur dimana Greis sedang sibuk dengan persiapan pestanya. Dan Ayah sedang tidak dirumah, Sera merasa sangat dilema dengan ini semua. Akhirnya Sera memutuskan untuk turun dan melihat kejadian dibawah, Sera melihat keadaan yang berubah sepi, kemana mereka semua. Sera perlahan menuju dapur dan melihar bercak darah dilantai, pikirannya entah kemana, dan yang dilihatnya Greis sedang membungkus sesuatu dengan bercak darah. Sera secara tidak sadar berteriak kepada Greis, ”Apa yang kau lakukan, dimana Tiwi, kau apakan Tiwi, kau apakan Andry?” jeritnya pada Greis. Greis hanya diam melihat Sera berteriak, dan Sera tiba-tiba melihat belati Tiwi yang berlumpur ada di samping bak cuci piring, Sera meraih belati itu dan mengacungkannya pada Greis. ”Apa lagi ini, tolong jangan kau hancurkan rumah tanggaku dengan James, dari awal aku tidak setuju kau ada disini, kau masih gila, kau masih tanya tentang Andry dan Tiwi yang jelas-jelas mereka sudah mati!!” ungkapnya.

Mendengar kata-kata itu Sera sontak kaget dan emosinya memuncak, ”mereka mati karenamu, kau memang pelacur!!” makinya pada Greis. Dan tiba-tiba ada tangan mendekap Sera dari belakang dan dilihatnya Greis lari keluar dapur, Sera berteriak namun tangan yang mendekapnya lebih kuat dari dirinya sendiri. Greis kembali beberapa saat kemudian dengan membawa alat suntik di tangannya. Dan Sera mulai terkulai lemas setelah jarum suntik itu menembus kulit tangannya. Dia masih setengah sadar saat tangan kekar itu membaringkannya di atas sofa, dan dia juga sempat mendengar percakapan mereka berdua. ”Terima kasih Pak, iya nanti saya telepon lagi bila saya butuh bantuan, suami saya sedang memanggil dokter untuknya!!” ucap Greis. Dan beberapa saat kemudian Greis datang dengan senyum di wajahnya, mengucapkan sesuatu yang Sera mengerti dengan kondisi yang lemah terkulai, ”Aku mohon kepadamu untuk menjadi anak yang baik, sungguh selama disini kelakuanmu kurang normal, kau sering berbicara sendiri dan tak mau toleran dengan apa yang telah aku dan Ayahmu lakukan” tambah Greis. Sungguh kata-kata tadi membuat Sera muak, dan benar-benar ingin memusnahkan Greis dari hadapannya. Greis sedang ke atas mengambil selimut untuk Sera ketika Sera melihat pisau buah di meja samping sofa, Sera dengan sekuat tenaga menggerakan tangannya untuk mengambil pisau itu, upayanya tampaknya membuahkan hasil, ia berhasil memegang pisau itu, namun pisau itu diambil oleh sosok tangan yang muncul, tangan Greis, dan dikembalikannya pisau itu ke meja. Greis lalu menyelimuti Sera lalu menatap matanya, dan Sera pun tak sadarkan diri, ia tertidur.

Sera terbangun dan melihat Greis sedang duduk membelakanginya di samping telepon, ia sedang bercakap-cakap serius dengan seseorang di telepon. Sera bergegas bangun karena didapatinya tenaganya telah cukup untuk meraih pisau tadi, namun ketika dilihat ternyata pisau itu telah lenyap. Sera dengan tergopoh berdiri dan berjalan kearah dapur, namun ia jatuh lagi dan pingsan. Dia terbangun lagi ketika bau darah menyengat hidungnya, pemandangan pertama yang ia dapati ialah Tiwi sedang berjongkok di sampingnya dengan badan penuh darah, baju putihnya terisi dengan bercak-bercak merah dan itulah asal bau tadi. Tiwi membangunkan Sera yang kaget melihat Tiwi masih hidup, namun Tiwi menangis saat itu juga. ”Maafkan aku, aku telah menjadi seorang pembunuh” katanya dengan air mata yang menetes. Sera segera berdiri dan melihat bekas seretan darah di lantai, ”kau benar-benar membunuh Greis kak?” tanyanya tak percaya.

Sera mengikuti jejak seretan itu, sambil memandangi Tiwi ia berjalan bersama ke luar rumah, menuju tempat sampah di samping jalan depan gudang, tempat dimana jejak seretan itu berhenti, tempat dimana mayat Greis berada, tempat dimana Ayahnya ada di sana dengat raut sesal yang teramat sangat terhadap pemandangan yang ia dapati, Ayah bersama orang lain malam itu, dokter Pram. Sera memandang Tiwi sekali lagi, Tiwi ada disampingnya, tetap seperti tadi dengan bercak darah dan memegang pisau, ”akan aku jelaskan semuanya pada Ayah, dia pasti akan mengerti!!” ucapnya pada Tiwi. Sera berjalan menuju Ayahnya dan dokter Pram berada. ”Ayah, ini tidak seperti yang kau kira, dia pantas mendapatkannya, dia yang membunuh Ibu dan dia membohongi Ayah selama ini dengan berpura-pura menjadi perawat, dia juga yang membunuh Andry Ayah, kami punya buktinya!!” ucap Sera tegas pada Ayahnya. Ayah hanya menangis melihat Sera dan mayat Greis, ”James, biar aku yang bicara,” ucap dokter Pram. ”Sera, pertama-tama letakkan pisau itu dan tenang, semua bisa diatasi. Ada siapa lagi di dalam selain kamu?” tanya dr Pram. ”Pisau, pisau apa, hanya ada kami berdua, aku dengan Tiwi!!” timpalnya dengan memandang Tiwi sekali lagi. ”Sera, kau ini sedang apa, apa yang sedang kau lakukan dengan semua ini? Sera, Tiwi sudah lama meninggal, kakakmu meninggal bersama dengan Ibumu tiga tahun yang lalu!!” jawab Ayahnya tegas. Sera melihat ke arah Tiwi tidak percaya, dan dia terbangun dari khayalnya, dia sadar kini dia memegang pisau itu, pisau yang ia gunakan untuk membunuh Greis, dan pakaian yang dikenakan Tiwi ialah pakaian yang ia kenakan sekarang. Sera lemas dan jatuh tersungkur.

Bayangan-bayangan itu mulai ia ingat lagi, malam itu setelah ia kembali dari kencannya dan ia mendapati Ayahnya dan Greis sedang bermesraan di dapur, ia berlari ke gudang untuk mengambil minyak tanah, dan sebelum meninggalkan gudang, ia membakar sisa minyak tanah digudang itu dan berlari keluar untuk membakar pondok utama. Tanpa ia sadari Andry mengikutinya saat ia kembali dari bukit bersama Andry, dan Andry melihat Sera membakar gudang itu, Andry pula yang menghadang Sera dan memukulnya hingga pingsan agar Sera tidak membakar pondok utama, dan akan berlari ke arah pondok dimana Tiwi dan ibunya berada saat semua terlambat, Pondok meledak karena aliran gas didapur pondok, membawa serta Tiwi dan Ibunya dalam kematian.

Sera tidak mengetahui meninggalnya Tiwi sampai saat kotak itu diberikan oleh Ayahnya saat perjalanan dari rumah sakit. Sera menangis sepanjang perjalanan, karenanya tidak banyak obrolan dengan Ayahnya saat itu, Sera tidak terima dengan meninggalnya Tiwi, karena itu pula terbentuk karakter khayal Tiwi setiap dia melamun, saat dia sendiri, apa yang dilakukan oleh Tiwi, adalah apa yang ia lakukan sendiri, termasuk mendorong jatuh Andry dari atas tebing malam itu, seketika itu ia melihat lengannya, dan ia mendapati luka goresan di kulitnya sama seperti yang ia dapati di mimpinya malam itu. Dia menjadi karakter yang berbeda ketika mengingat tragedi itu, dan tidak terima ketika itu di ungkapkan oleh Andry malam saat ia dibunuh, olehnya sendiri. Sera menangis dan menangis.

”Sera, coba ingat apa yang kamu lakukan tadi, cuma kamu yang ada disini, dan cuma kamu yang bisa melakukan ini, tadi polisi yang mengatakan kamu mengarahkan pisau kepada Greis saat dia datang dan menenangkanmu, dan Ayahmu mendengar jeritan dari telepon yang sebelum terputus, hanya ada suaramu dan suara Greis.” papar dr Pram. Sera hanya diam dan tetap menangis, ”kami sedang mengawasimu Sera, Ayahmu melaporkan saat kau tida disini kau sering berbicara sendiri di danau, di kamarmu saat tengah malam, bahkan saat sedang makan!!” imbuh dr Pram dan mulai mendekati Sera yang tersungkur. Sera kini telah terdiam, dan saat dr Pram membantunya berdiri, Sera hanya tersenyum, senyum penuh misteri.

Dari beberapa film psikologi misteri yang pernah ditonton
Kamar hitam, November 2009

Read More...

iii Prinsipal


Kalau dengar judulnya memang agak mirip-mirip dengan ill Principlenya Nicollo Machiavelli yang isinya tentang sikap Raja untuk mengarahkan rakyat yang dipimpinnya ke tujuan akhir dari negara/kerajaannya kudu keras dan tegas serta absolut, nah ditengah-tengah ada tujuan antara, tujuan antara ini dipake sembari proses ke tujuan akhir. Namun, aku sedang tidak berfilosofi tentang tujuan Negara, hanya saja itu bisa dijadikan sedikit patokan dan gak usah banyak-banyak biar gak dikira plagiat. iii Prinsipal disini terbentuk dari tiga huruf ”i” yang diambil dari akhiran tiga kata yakni Studi, Organisasi, dan Hati. Ini merupakan bentukan dari nasihat seorang kawan yang nama belakangnya Wahyudi dengan nama depan biar enak dipanggil aja jadi disebut Hendra, jadi Hendra Wahyudi lengkapnya. Dia merupakan kawan kental satu organisasi yang aku fokusi sekarang, pokoknya dia ngasih tau 3i ini waktu aku menjadi anggota bersama dia awal-awal dulu dia masih cupu dan aku juga tak kalah cupu, ”Ju, inget 3i, jangan Cuma organisasi aja yang lo pentingin, tapi studi ama hati juga, tiga-tiganya kudu seimbang, jangan bolos mulu lo kuliahnya!!” celotehnya kala itu, dan itu seperti nasehat seorang kakek pada cucunya, sungguh betapa tuanya dirimu kawan.

Pada mulanya aku memang sudah punya alur untuk aku sendiri ketika memutuskan untuk di hukum, bukan karena salah lantas di hukum, namun belajar di fakultas hukum. Aku sendiri lulusan Teknik Audio Video (TAV), yang tujuannya biar sesuai dengan hobby dan bakat aku yang tukang ngutak-ngutik barang sumbangsih dari sifat rese aku bawaan orok. Namun ”Sebelas-Sembilan Puluh Sembilan” bukan ”Sebelas-Dua belas”, maksud aku gak mirip dan jauh beda dengan yang telah dibayangkan, ternyata masuk ke TAV tak seasyik yang aku kira-kira, mungkin karena saat itu memang aku tiada pandai dalam mengira-ira sesuatu. Lalu lantas kenapa di hukum? Wah, sebenernya aku lebih tertarik dengan Psikologi dan Teknik Informatika, namun memang tiada nasib, Unsoed kala itu tak siap sedia jurusan itu. Batasannya memang Unsoed saja, itu titipan orang tua, karena biar aku tetap terawasi oleh keluarga yang ada di Unsoed, sungguh betapa bijak kalian hai orang tuaku.

Dan sebenarnya pula aku mendapat tawaran untuk melanjutkan studi ke Universitas Gajah Mada (UGM) di Jogjakarta melalui jalur Program Penjaringan Siswa Berprestasi (PPSB), ini sumbangsih kesuksesan aku dalam meresehi suatu barang Audio Video dan berhasil membuat terkesan para guru sehingga mungkin dengan terpaksa memberi nilai bagus guna di bubuhkan dirapot siswa. Namun, tak berkenan dan berminat, dari tiga siswa, hanya satu saja yang mengambil kesempatan itu, Nandank Utan namanya, sungguh nama yang berkesan bukan. Sedang dua lainnya yakni aku dan seorang kawan bernama Supirman, manusia yang tak bisa terbang, lebih memilih untuk tidak memilih, tapi memilih hal lain dengan maksud menolak. Dan tiada kata tentang hal-hal tadi yang aku sampaikan kepada orang tua nun jauh disana, bukan bermaksud durhaka, namun ini berkaitan dengan masa depan diri seorang aku.

Nah demi tadi itu, diarahkan pula diriku oleh paman dan bibiku untuk mengambil Hukum dan Elektro Unsoed, betapa memang jodoh, masuklah aku di kampus yang katanya merah ini tapi nyatanya krem warnanya. Tujuan aku jelas sepandangan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang terpaksa berurusan dengan pendidikan demi masa depan yang cemerlang esok hari mereka, yakni lulus cepet dengan IPK luar biasa dan bekerja dengan insentif gaji yang luar biasa pula, amin. Nah, iii Prinsipal ini yang aku gunain buat mencapai tujuan itu, walau mungkin nanti tak seperti itu, namun di usahakan agar seperti itu. Aku akan bahas satu-satu prinsip sumbangsih seorang kawan dan aku fusikan dengan prinsip yang aku percayai bukan yakini biar tiada kesan musrik nanti. Ada Studi, Organisasi dan Hati, yang pertama dengan urutan prioritasnya walau memang kudu seimbang, aku menempatkan Organisasi pada prioritas pertama lalu Studi dan menyusullah Hati, sebagai prioritas setelah organisasi, oh betapa organisasi menjadi puncak tonggak harapanku. Untuk itu akan aku sampaikan satu persatu mengenai hal tadi.

Organisasi

Idealnya semua mahasiswa harusnya memprioritaskan studinya diatas yang lain, namun berbeda halnya dengan aku, aku tidak ingin disebut peniru kebiasaan, namun bukan itu alasannya kenapa aku membedakan diriku atas prioritas tadi. Awalnya memang aku melihat suatu niat menuju nilai apik yang dikukuhkan IPK melalui KHS, oh betapa formal hal itu tadi. Namun aku melihat lagi bahwasanya yang dibutuhkan bukan hanya itu saja, melainkan kemampuan verbal dan teknis diluar formal. Terlebih, jurusan yang aku pilih berbeda 130derajat dengan basic aku yang lalu, lebih ke ilmu sosial yang butuh lebih banyak interaksi dengan dunia nyata, tidak teori semata.

Akibat perbedaan basic pula sebuah rasa yang di sebut minder muncul, aku merasa nanti tak bisa melebur dengan kawan-kawan yang lain, nah dari situ aku melihat sebuah obat penawar dari organisasi, walau sebenarnya itu Cuma perasaan aku saja, dan tanpa organisasipun bahkan aku bisa dikatakan lebih mendominasi kawan-kawan dalam bergaul, karena memang itu sifat alami bawaan genetik aku. Dan aku terlanjur cinta dengan kehidupan organisasi kala itu, dengan pengalaman organisasi yang aku pkir sangat minim. Pengalaman sebelum aku menjadi mahasiswa paling-paling hanya sebagai panitia teknis dari sebuah Event Organizer yang di ketuai Om aku yang kini bubar seiring bertambah tua pemimpinnya, tak tau bagaimana kinerja forumnya. Lalu juga sebagai pengikut event kepramukaan saja, dan sebagai anggota organisasi remaja di daerahku sana.

Suatu hal konkret dan nyata yang ingin aku dapat yakni ilmu dari masing-masing organisasi yang diwujudkan dalam suatu penghargaan dari beberapa kompetisi atau kegiatan, sungguh bertapa Oportunisnya dirimu hai Juanda. Ouch, jangan salah menilai, karena pada dasarnya semua manusia itu oportunis, selalu mencari apa yang bermanfaat bagi mereka dan itu yang akan ia geluti untuk mencapai itu. Namun bagaimana kita pintar-pintar memisahkan apa yang dinamakan dengan ego dan urusan organisasi dalam bentuk keprofesionalitasan. Dan sungguh, profesionalisme dalam organisasi kampus merupakan suatu hal yang tidak apik, kenapa? Karena organisasi dalam kampus sebenarnya didirikan dengan dasar kebutuhan bersama yang dibalut dengan rasa persaudaraan dan cinta kasih antar anggota dan pengurusnya. Profesional nantinya hanya mengarah ke keadaan terpaksa untuk mengerjakan tanggung jawabnya, bukan karena keiklasan untuk mengembangkan organisasi, dan apabila ada gagasan cemerlang, mungkin menjadi malas untuk di terapkan.

Dari sinilah aku memberi waktu untuk mencari suatu Experience dan Achievement selama 4 semester pertama, kenapa? 4 semester pertama mahasiswa khususnya FH belum begitu di sibukkan dengan praktek-prekteknya yang sering disebut dengan PLKH. Dengan tidak begitu sibuknya mereka, semangat yang dikasih dari darah muda mereka hendaknya tidak disia-siakan hanya dengan tongkrongan atau berkasih-kasih ria semata, tapi ada upaya konkret yang menghasilkan sesuatu bagi mereka sebagai penolong apabila nanti mereka lulus. Bagi dirikupun, studi melulu tidak menjadi jaminan kita bakal dapet IPK bagus dan lulus cepet lalu dapet kerja dan kawin lalu punya anak cakep-cakep. Maaf, penggunaan kata kawin tidak berkonotasi jelek karena justru kawin adalah kata baku di Indonesia seperti yang disebutkan dalam UU Per”Kawin”an sejak tahun 1974. Dan justru ini adalah upaya pemberi skill bagi mereka yang, maaf, kurang bisa mengejar IP standar dan terkena evaluasi, paling tidak mereka telah mendapat suatu ilmu yang berharga dari organisasi sedangkan ilmu formalnya sendiri tidaklah komplit selesai, sungguh aku sangat menghargai kalian yang dikeluarkan karena D.O dan tetap berjuang hai kawan.

Nah demikian tadi yang menjadi pertimbangan dipilihnya organisasi sebagai prioritas pertama, yakni demi pengalaman dan hasil konkret dari pengalaman itu yang dikukuhkan dalam bentuk penghargaan. Aku sendiri selain menjadi pengurus dari organisasi yang aku geluti, juga mengikuti kegiatan yang diadakan oleh organisasi itu, tidak sia-sia karena beberapa penghargaan sempat aku kenyam, walau tanpa predikatpun pengalaman telah menjadikan itu tak sia-sia. Mungkin konsep awal aku ialah bagaimana mendapat penghargaan sebanyak-banyaknya, namun kecintaanku pada organisasi justru membuat itu aku anggap tak penting lagi, aku anggap itu sebagai bonus apabila aku mendapatkannya. Aku lebih senang mendapatkan suatu ilmu yang ditemukan bersama dengan kawan-kawan organisasi, entah dalam suatu forum kepengurusan, kepanitiaan, atau pengalih ilmuan ke kawan baru. Beberapa kegiatan perlombaan aku ikuti juga karena ada hiden motivation dari seorang kawan, yang ingin aku tunjukan aku bisa juga mendapat ilmu seperti yang ia dapatkan, bukan semata karena predikat pemenang yang bisa aku raih, sekali lagi kini itu Cuma bonus.

Ada beberapa hal yang kadang menjadi kendala, yakni ketidaksukaan orang tua terhadap banyaknya kegiatan yang kita geluti dan ketidakfokusan terhadap studi kita. Namun bagiku memang hal itu tak begitu berarti, fokus aku memang ke pengalaman organisasi baru ke studi, sungguh seharusnya mereka tahu bahwa itu sangat membantu.

Studi

Adalah sebuah konsekuensi bagiku dengan resiko nilai yang pas-pasan untuk empat semester pertama, namun itu ketika aku lebih memrioritaskan organisasi dan aku samasekali membengkalaikan studi aku. Memang terkadang bolos kuliah menjadi hal yang biasa, namun ada pertimbangan dibaliknya, kalau memang kuliah tersebut sangat tidak menyumbang bagi keilmuan aku pribadi, maksud aku, kita bisa belajar sendiri karena kebanyakan yang diajarkan hanya teori yang ada dibuku melulu, lebih baik melakukan sesuatu yang lebih berguna. Toh belajar bukan hanya kita dapat lakukan di bangku, bahkan di toilet pun kita bisa dapat pelajaran, sungguh betapa ilmu ada dimana-mana. Aku mendapat nilai yang cukup stabil empat semester berturut-turut, dibanding dengan beberapa kawan yang sangat rajin mengikuti perkuliahan pun nilaiku bisa sepadan bahkan lebih dari mereka, beberapa kawan sempat kesal dengan ketidakadilan yang mereka peroleh, paling tidak itu yang mereka pikirkan ketika tau aku yang jarang masuk kelas tapi memperoleh nilai maksimal, sekalipun sebelumnya pernah ada perkara dengan dosen pengampunya yang notabene itu pertanda nilaiku akan hancur, sungguh usaha dan niat baik tiada yang sia-sia.

Pernah dalam satu mata kuliah aku sama sekali tidak mengenal bahkan tau wajah dosen pengampu, maaf bukan durhaka pada ibu/bapak. Dan hampir hal itu sangat mengecilkan kepalaku saat berhadapan dengan beliau untuk mengumpulkan suatu tugas dan dengan penuh percaya diri aku bertanya pada beliau tentang keberadaan beliau yang jelas-jelas orang yang aku tanyailah orang yang aku cari, betapa tadi menunjukan keaktifan aku dalam membolos kuliah beliau.

Kini, telah genap empat semester pertamaku, pengalihan orientasi dan fokus kini sedang aku upayakan demi nilai yang maksimal tertera dalam kartu hasil studiku nanti, amin. Studi menjadi fokus prioritasku mengalahkan yang lain saat ini. KHS ternyata berpengaruh terhadap kebahagiaan orang tua kita, mindset mereka, nilai bagus ialah cermin kesuksesan, dan aku masih yakin faktor lain yang lebih menunjang kesuksesan masih banyak, jadi bukan jaminan KHS bagus nasibpun bagus, oh Bunda Panda dengarlah ini. Yang aku kejar kini yaitu kesempatan untuk menjadi salah satu lulusan terbaik dengan predikat Cumlaude, yang memang tidak mudah. Aku mengejarnya hanya demi keformalan belaka, karena sungguh aku tiada punya minat untuk menjadi seorang praktisi hukum. Dunia Jurnalistik atau Perbankan lebih nyaman di otakku untuk aku kenang dulu dan aku praktekkan kemudian, alasannya agar nanti aku tidak terlalu bosan dengan hal-hal yang itu-itu saja, hukum, hukum, dan hukum. Dunia jurnalistik menawarkan berbagai hal yang penuh tantangan, deadline, grafis, fotografi, liputan, sungguh banyak hal yang bisa dikembangkan. Nah, baru kalau jurnalistik gagal aku dapatkan, masuklah aku dalam dunia perbankan, aku termasuk orang yang suka kesibukan, selain menjanjikan kesejahteraan, perbankan juga menawarkan kesibukan. Di luar itu sebenarnya ada hiden motivation kenapa aku memilih dua dunia tadi yang terus memacu untuk aku lebih mengembangkan potensi untuk sukses. Aku bersyukur, studi aku malah terbantu dengan aku bergabung dalam organisasi, hubungan antara keduanya saling mengembangkan satu dengan yang lainnya, aku mendapatkan tempat pengaplikasian teori yang aku peroleh dari studi, dan kini tinggal masalah hati turut mendukung atau tidak.

Hati

Hati yang dimaksud disini lebih ke hubungan special antara dua hati. Konkretnya ada hubungan khusus yang terbentuk dalam suatu komitmen. Sebenarnya hati, organisasi, dan studi memang harus seimbang, kepuasan batin kadang susah untuk ditemukan, dan hubungan dengan lawan jenis yang bisa memberi kepuasan batin tadi. Adalah kurang tepat kalau dibilang hati adalah bonus dari organisasi atau studi, ketiganya berdiri sendiri dan harus kita cermati matang-matang. Hanya saja kita tidak dapat memikirkan ketiganya sekaligus dalam satu waktu, ada pembagian prioritas yang harus di ambil, namun bukan berarti yang tidak diprioritaskan samasekali dilupakan. Sudah sukur apabila ada yang mau hatinya kita ajak dalam suatu pertautan, kalau tidak ada, susahlah kita. Susah dan tidak realistis memang ketika berbicara masalah hati, tapi tak apa bila itu menjadi motivasi untuk saling mengembangkan. Justru ketika aku memikirkan seseorang yang aku tunggu namun aku sedang dalam masa prioritas ke organisasi atau studi, aku akan lebih semangat untuk lebih berkreasi dalam sumbangsih ilmu ke studi atau organisasi aku. Dan hati itu aku jadikan motivasi.

Hati kadang menjadi ganjalan bagi studi dan organisasi pula, oleh karenanya baik-baik kita menempatkan ketiganya dan tidak mencampuraduknya. Kadang susah untuk tidak memikirkan masalah hati, sangat sensitif. Oleh karenanya jangan berani bermain hati kalau takut resikonya, tapi kalau berani ambil resiko, itu patut dicoba dan memang ini saatnya kita mengekspansi hati kita dengan tujuan bukan untuk bermain-main tetapi mencari yang tepat demi masa depan cemerlang.

Itulah iii prinsipal yang aku maksud, yang sedang aku upayakan berhasil di ketiganya, agar tiada yang dikecewakan karena ketidak becusanku menjalankan apa yang telah prinsip. Bukanlah sebuah hal yang baku apa yang telah aku sebut diatas, namun akan menjadi lebih terarah apabila kita memiliki sebuah pedoman dalam hidup kita. Semoga!!
Read More...

Outsourcing dan Stratifikasi Sosial

Outsourcing di Indonesia

Outsourcing secara eksplisit tidak disebutkan dalam klausul perundang-undangan di Indonesia, namun secara implisit terdapat pada pasal 64 Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam pasal tersebut disiratkan mengenai outsourcing sebagai berikut, “suatu proses, kegiatan atau tindakan perusahaan yang menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerja atau penyedia jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis.”

Outsourcing dalam bahasa Inggris dapat diartikan dilihat dari 2 kata dasar yang membentuknya, yaitu Out yang berarti keluar dan Source yang berarti sumber, yang dalam bahasa dapat diartikan sebagai Alih Daya. Dalam konsep hukum outsourcing dapat dibedakan menjadi 2 jenis , pertama mengenai penyerahan pekerjaan melalui perjanjian pemborongan yang diatur pula di dalam pasal 65 Undang-undang No 13 tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan. Outsourcing jenis ini pengaturannya pada prakteknya telah lama ada dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata dalam pasal 1601 b. Menurut pasal ini outsourcing disamakan dengan perjanjian pemborongan kerja. Sehingga pengertian outsourcing adalah suatu perjanjian dimana pemborong mengikat diri untuk membuat suatu kerja tertentu bagi pihak lain yang memborongkan dengan menerima bayaran tertentu dan pihak lain yang memborongkan mengikatkan diri untuk memborongkan pekerjaan kepada pihak pemborong dengan bayaran tertentu. Kedua, mengenai penyerahan pekerjaan dari satu pihak ke pihak lain dalam bentuk jasa tenaga kerja yang diatur di dalam pasal berikutnya yaitu pasal 66 Undang-undang No. 13 tahun 2003. Mekanisme perekrutan dengan sistem kerja ini adalah dengan cara buruh mendaftar atau melamar pekerjaan kepada suatu perusahaan penyedia jasa pekerja, lalu perusahaan ini akan menyerahkan atau menyalurkan pekerjaan tersebut kepada perusahaan yang membutuhkan atau perusahaan pemberi kerja. Perlindungan upah dan kesejahteraan, syarat-syarat kerja, serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja. Hubungan kerja yang ada ialah antara buruh dengan perusahaan penyedia jasa pekerja dan perusahaan penyedia jasa kerja dengan perusahaan pemberi kerja.

Pengertian tenaga kontrak outsourcing nampaknya hanyalah pengertian practical saja , terutama dipandang dari sudut pengusaha sebagai pemberi kerja. Dalam situasi sekarang ini dimana banyak berdiri perusahaan dan pabrik-pabrik maka nampak sulit bagi perusahaan untuk merekrut atau menjaring tenaga kerja dalam jumlah banyak secara langsung. Biasanya mereka meminta agen atau biro jasa umum yang dapat mengumpulkan tenaga kerja yang cukup. Lama kelamaan biro jasa ini pekerjaannya mengkhususkan diri dalam penyediaan tenaga kerja dan jadilah mereka perusahaan penyedia tenaga kerja.

Pelapisan dalam Masyarakat Indonesia

Manusia dihadapan Tuhan dipandang sederajat, manusia dihadapan hukum dipandang sederajat, namun hal tersebut hanya konsep teoritis yang pada kenyataannya dalam suatu kelompok masyarakat terjadi pembedaan. Pembedaan tersebut dapat terjadi berdasar nilai-nilai yang dominan dihargai seperti uang, tanah, keturunan, kekuasaan, peranan keagamaan, dan lain sebagainya. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Keadaan inilah yang menimbulkan suatu lapisan dalam masyarakat dimana adanya pembedaan posisi bagi seseorang atau kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal/hierarki.

Pelapisan pada masyarakat atau yang dalam bahasa sosiologi dikenal dengan Social Strafication yang berasal dari stratum yang berarti lapisan. Sistem pelapisan seperti ini telah dikenal sejak zaman dahulu, seorang filsuf Yunani kuno pernah berpendapat apabila didalam negara terdapat tiga unsur, yakni mereka yang kaya sekali, yang melarat, dan yang berada ditengah-tengahnya. Dari hal tersebut dapat dilihat adanya pembedaan posisi dengan melihat ukuran kekayaan seseorang.

Namun, hal ini bukanlah sebuah parameter bahwa adanya suatu stratifikasi menunjukan kejelekan pada suatu sistem sosial. Piritim A. Sorokin mengemukakan bahwa sistem berlapis-lapis merupakan ciri-ciri yang umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Artinya merupakan kewajaran adanya stratifikasi dalam masyarakat.

Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan adalah ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan, ukuran kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan

Kemudian beberapa kondisi umum yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial masyarakat adalah perbedaan ras dan budaya, pembagian tugas dan KELANGKAAN, yaitu secara berangsur-angsur stratifikasi sosial terwujud karena alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka.

Hubungan antara Outsourcing dengan Pelapisan Sosial

Outsourcing sendiri sebenarnya kekhususan dari sistem kerja yang ada di Indonesia. Hal ini lahir karena membludaknya kebutuhan akan pekerjaan di masyarakat, terlebih di Indonesia dengan pertumbuhan penduduk yang tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi. Setidaknya ada hal lain yang turut menjadi andil keterbatasan pekerjaan di Indonesia seperti pendidikan dan kebudayaan, kesemua hal tadi memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Bagaimana angka kelahiran tidak dapat dibendung karena beberapa kebiasaan serta kekurangtahuan dalam hal ilmu pengetahuan, imbasnya pada kesulitan mendapatkan pekerjaan. Seperti yang telah disinggung diatas bahwasanya kehidupan dan pekerjaan bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Namun jumlah nyawa yang harus dihidupi khususnya di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Faktor lain yang mempengaruhi antara lain minimnya kualitas pekerja lokal yang berimbas pada kepercayaan pengkaderan dalam suatu vendor pekerjaan. Seseorang akan lebih dipercaya untuk mengerjakan sesuatu apabila memang ia mampu dan capable untuk membidangi hal itu, berkaitan juga dengan modernisasi serta globalisasi yang santer pada masa ini, tenaga kerja lokal tak lagi dianggap sebagai suatu yang berharga sehingga diperebutkan namun sebuah sugesti apabila tenaga asinglah yang lebih mumpuni walau sebenarnya pun tidak demikian.

Kompleks sudah sebenarnya permasalahan pekerjaan di Indonesia, dari masalah kelangkaan lapangan pekerjaan, persaingan dengan orang sendiri (pekerja lokal) hingga persaingan dengan pekerja asing yang lebih dipercaya membuat pemerintah sebagai pengemban amanat dari konstituante mulai mensiasati hal ini. Disepakatilah suatu sistem kerja dimana nantinya setiap warganegara dapat (paling tidak) mencicipi pekerjaan melalui agen-agen penyalur. Dengan adanya pembatasan waktu dan kriteria pekerjaan tertentu maka perputaran kesempatan bekerja akan bisa terlaksana. Begitulah setidaknya konsep yang ingin di usung pada disetujuinya outsourcing di negara kita.

Pelapisan Sistem Kerja

Dari kondisi yang dapat mendorong adanya pelapisan sosial diatas, salah satu diantaranya yaitu karena adanya pembagian tugas, dimana pembagian tugas ini menunjukan spesialisasi dari posisi-posisi yang dapat diduduki dalam sebuah kelompok sosial. Pada sistem kerja secara umum ada dua posisi yang dibagi, yakni pemberi kerja dan pekerja itu sendiri. Aplikasinya secara sederhana telah diterapkan jauh sebelum aturan itu ada. Hal ini terkait dengan penggunaan istilah Class System yang merujuk pada kondisi ekonomis, dalam hal ini Pengusaha sebagai pemberi kerja jelas berada pada taraf ekonomis yang jauh diatas pekerjanya. Dalam pembagian upper, middle dan lower class pun pengusaha berada pada kedudukan tertinggi berdasar kekayaan serta kekuasaan yang dimiliki. Apabila melihat sisi kekuasaan, kelas kekuatan berada pada penguasa sebagai owner dan pemilik modal, pekerja hanya sebagai pelaksana saja.

Dalam outsourcing, terdapat tiga pihak di dalamnya seperti yang telah dibahas sebelumnya, yakni pengusaha, perusahaan penyalur/perusahan outsourcing, dan pekerja. Lembaga sosial di dalamnya pekerja diwakili oleh serikat pekerja yang tugasnya sebagai penyampai dan pengawas apabila ada kesewenang-wenangan dalam praktik. Namun hal ini tetaplah tergantung pada sejauh mana hukum mengakomodir hal tersebut karena mengingat betapa mudahnya modal membelokan aturan yang berlaku. Hal ini diharapkan setelah dibuatnya suatu regulasi. Dan setelahnya pun muncul satu pihak lagi sebagai penengah yakni pemerintah sebagai pengawas murni atas dipatuhi atau tidaknya aturan yang ada.

Hukum sebagai salah satu penyebab stratifikasi

Hukum ada hakekatnya merupakan salah satu unsur dari struktur sosial . Dominansi dari pola-pola yang dibentuk menunjukan struktur sosial lebih diperhitungkan daripada hukum. Hukum secara bottom up dibuat agar dapat diterima masyarakat, menyesuaikan diri dengan struktur sosial yang ada. Yang diyakini ialah bagaimana hukum itu bekerja dan diterima tidak hanya sebagai suatu keharusan, namun suatu kebutuhan sehingga efektif dalam masyarakat. Pembagian kelas berdasar kekuasaan yang dihubungkan dengan hukum akan mendapati suatu kesimpulan bahwa hukum akan semakin ”banyak” berlaku pada seseorang yang berkedudukan rendah dalam suatu stratifikasi sosial, sebaliknya semakin tinggi kedudukan seseorang dalam stratifikasi sosial, maka semakin ”sedikit” pula hukum yang mengaturnya. Hal ini difaktori oleh pihak yang terkait dengan bagaimana hukum itu diciptakan, para pembuat dari regulasi itu sendiri yang notabene sebagian besar berasal dari upper class. Upper class cenderung didominasi oleh orang yang memiliki kekuasaan dan oleh karenanya seminimal mungkin pembatasan atas kebebasan yang diterapkan pada diri mereka melalui peraturan yang mereka buat sendiri. Dalam sistem kerja yang kita bicarakan ialah pengusaha, bahkan mereka dapat membuat suatu aturan lagi bagi pekerjanya melalui suatu perjanjian kerja.

Apabila memang hukum yang mempengaruhi pelapisan dalam masyarakat, maka sedikit banyak pada upper classlah yang menentukan hal tersebut, karena seperti yang disebut bahwa dominansi mereka lebih banyak dalam suatu regulasi terlepas dari suatu analisis politik, namun dari analisis sosial. Pada aturan mengenai sistem kerja yang termaktub dalam undang-undang No 13 tahun 2003, kiranya regulasi tersebut memang memecah masyarakat dalam kelompok/kelas. Adanya pengusaha dan pekerja walau sebelum undang-undang ini lahir telah ada, tetapi pemisahan hak dan kewajiban semakin diperjelas melalui klausul-kalusulnya. Yang menarik dari hal ini ialah muncul suat lapisan baru yag menjadi penyelia diantara pekerja dan pemberi kerja, yang mendapar keuntungan dari adanya kerjasama antara pengusaha dan buruh, yakni perusahaan outsourcing. Hukum melalui undang-undangnya telah menciptakan lapisan baru yang mau tidak mau diterima, walau mungkin sebaliknya, bahwa lapisan ini telah eksis sebelumnya dan hukum hanya mengukuhkannya saja.
Hukum itu diketemukan, bukan dibuat , meminjam apa yang dikemukakan oleh Wolfgang Friedmann bahwasanya hukum terjadi melalui proses yang berjalan secara organik dan tidak disadari. Dan bisa saja memang secara tidak kita sadari outsourcing telah lama eksis.

Stratifikasi Sosial dan Pelanggaran Hukum

Pada pendahuluan telah ditegaskan bahwa tujuan penulisan tidaklah untuk menilai bahwa outsourcing merupakan suatu kejahatan undang-undang atau bukan, melainkan bagaimana outsourcing mempengaruhi sistem sosial ataupun sebaliknya. Dan mengenai pelanggaran yang terjadi dan marak pada beberapa daerah di Indonesia, penulis mencoba memahami dari sudut sosiologi dimana adanya kesempatan tadi mempengaruhi beberapa kalangan untuk melanggar. Pada dasarnya apabila manusia dihadapkan dengan kesempatan untuk memperoleh lebih untuk segala hal, pastinya ia akan begitu segan untuk menolaknya. Sekarang apabila beberapa kesempatan itu hinggap di lapisan sistem kerja, khususnya outsourcing baik itu pengusaha, perusahaan oursourcing maupun pekerja, kesemua pihak akan memilih yang paling menguntungkan bagi mereka. Tidak dikecualikan pula bagi pemerintah, pemerintah pun akan memilih yang lebih menguntungkan bagi mereka.

Namun kesempatan tidak akan jatuh pada keseluruhan pihak dalam lapisan sistem kerja, tidak dinafikan kalau nantinya akan ada conflict of interest bagi masing-masing pihak, artinya akan ada kepentingan yang dikorbankan. Menguntungkan bagi pengusaha belum tentu mnguntungkan bagi pekerja, begitu pula sebaliknya, dan itulah fungsi pemerintah dengan regulasinya untuk mencari win-win solution. Dimulai dari kesempatan serta potensi melanggar yang jatuh pada pengusaha, pengusaha akan diuntungkan dengan kembalinya modal yang didapat dari laba penjualan, dia akan semaksimal mungkin memangkas ongkos produksi dan memaksimalkan kualitas serta kuantitas produksi. Bila di benturkan dengan kesempatan untuk memangkas, tak jarang pengusaha memotong gaji para pekerjanya atau menambah jam kerja agar produksi semakin meningkat, kesempatan ini yang berpotensi melanggar ketentuan undang-undang. Perusahaan outsourcing, pihak ini akan berusaha semaksimal mungkin mencari potensi kualitas pekerja dengan harga yang murah sebanyak-banyaknya. Dan mencari keuntungan dari kerjasama dengan pengusaha atas prosentase gaji yang dapat mereka potong dari pekerja, kesempatan ini pula yang berpotensi melanggar hak pekerja untuk menerima gaji. Pekerja, kesempatan yang mereka bisa peroleh yakni mendapatkan upah yang sebesar-besarnya, untuk itu mereka akan memaksimalkan kinerja/work rate mereka bahkan menambah jam kerja/lembur, kesempatan ini justru menguntungkan pihak pengusaha serta perusahaan outsourcing. Dan pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja biasanya telah diatur mengenai sanksi dan pelanggaran oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Hal ini kembali lagi ke tingkat sosial yang ada pada lapisan sistem outsourcing, bahwa pengusaha dan perusahaan outourcing mempunyai posisi tawar di posisi upper class sedang pekerja berada pada tingkat terbawah. Stratifikasi semacam ini pun mempengaruhi proses penegakan hukum. Lalu bagi pemerintah selaku pembuat undang-undang, mereka malah merasa ditolong untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, terlepas dari politik apa yang digunakan dibaliknya, apabila memang pemerintah murni ingin memaksimalkan kesejahteraan, maka penawaran dari pengusaha serta perusahaan outsourcing bukanlah suatu yang buruk bagi pemerintah.

Terlihat jelas bahwa pekerja/buruh memang akan terus mendapat posisi yang ”kurang nyaman” walau tanpa adanya pelanggaran sekalipun. Namun, kebutuhan akan mengalahkan idealisme, sekali lagi bahwa pekerja dibutakan akan kebutuhan mencari pekerjaan untuk hidup, karenanya mereka cenderung menerima dan hanya sebagian yang melawan. Sebagai contoh keadaan di Purbalingga, buruh pabrik sebenarnya merasa banyak pelanggaran, akan tetapi karena kebutuhan dan kurangnya inisiatif untuk meluruskan (terlalu keras apabila disebut ”melawan”), maka mereka menerima kenyataan itu begitu saja , mereka tidak mau kehilangan pekerjaan mereka karena meluruskan sama halnya dengan menandatangani surat pengunduran diri, sebuah resiko yang enggan untuk diambil tentunya. Demikianlah bagaimana stratifikasi berpengaruh dalam kesejahteraan serta pola hubungan kerja di oursourcing, begitu pula sebaliknya.
Read More...

Zambrotta: Pato, Messi-nya Milan

www.kompas.com


MILAN, Kompas.com - Penampilan gemilang Alexandre Pato membuat seluruh punggawa AC Milan puas dengan kinerjanya. Bahkan, Gianluca Zambotta tidak segan-segan menyamakan kemampuannya seperti penyerang Barcelona, Lionel Messi.

"Mereka pemain yang berbeda, tetapi penampilan kedua-duanya dalam tim selalu selalu memperagakan gaya permainan menghibur di atas-atas segalanya," katanya kepada Tuttosport.

Zambrotta memang sangat mengenal karakter permainan Messi. Pasalnya, dia pernah membela Barcelona selama dua musim sebelum mendarat di San Siro pada 2008. Selama bergabung dengan "El Barca", dia sangat terkesima dengan permainan Messi yang cepat dan aksi-aksinya yang luar biasa.

Ternyata saat membela Milan, Zambrotta kembali menemukan sosok "Messi" karena menurutnya, Pato tidak ubahnya dengan Messi. Zambrotta menilai kedua-duanya mempunyai karakter yang sama yaitu, bertubuh pendek, mempunyai kecepatan, dan sama-sama penyerang yang sangat mematikan. Selain itu, menurutnya, Pato juga sering menjadi juru selamat sama halnya yang dilakukan Messi.

Pernyataan Zambrotta mungkin tidak terlepas dari penampilan Pato yang terus menanjak setelah mandul dari beberapa laga. Permainannya cukup konsisten hingga kini. Bahkan, dia menjadi juru selamat saat Milan membungkan Real Madrid pada pertemuan pertama di Liga Champions.

Pada duel tersebut, "Si Bebek", julukan Pato, berhasil mencetak dua gol dan salah satu golnya yang memeteraikan kemenangan Milan. Kemudian sedikit menilik ke belakang, Pato juga menjadi pahlawan dengan gol yang diciptakannya pada menit ke-67 sehingga Milan mengempaskan AS Roma 2-1.

"Siapa Messi-nya Milan? Ya, pastinya Pato. Kami tahu bagaimana dia sangat berharga dan apa yang dia telah lakukan. Pato bisa lebih dari Messi," katanya mantap. (TTS)
Read More...
 
Copyright (c) 2010 Blogger templates by Bloggermint
Sponsored by : Kaskus Lookup