oleh AkuBukanManusiaPurba
Pada awalan kehidupan ketika manusia mulai diretaskan dengan kemampuan berpola pikir sederhana dan dengan keterbatasan akan pengetahuan tentang batasan itu sendiri, manusia mulai diantarkan pada bentuk pengenalan akan keadaan sekitar. Manusia mulai mampu menganalisa struktur segala sesuatu yang dilihatnya dengan pemaknaan yang cukup dangkal untuk ukuran manusia modern saat ini. Manusia mulai mampu berkomunikasi dengan bahasa atau visualisasi gerakan tubuh sebagai bentuk penyampaian maksud dari individu yang satu pada individu yang lain. Berbanding lurus dengan perkembangan pola pemikiran manusia, peradabanpun semakin berkembang. Penilaian akan peradaban tersebut dapat dimulai dari bagaimana masyarakat suatu bangsa menorehkan perkembangannya pada suatu bentuk simbolisasi pada suatu peninggalan peradaban sebagai dokumentasi bagi generasi selanjutnya.
Pergantian era juga waktu membuat pola pikir kian berkembang, dipengaruhi berbagai faktor serta unsur, manusia menemukan berbagai penemuan-penemuan yang bertujuan untuk mempermudah berbagai kinerja manusia. Berbagai bentuk simbol, label, serta tanda-tanda telah membuncah seiring modernitas berjalan. Tiap sudut pandangan manusia kini dijejalkan dengan kemudahan dalam memaknai sesuatu, dengan adanya suatu simbol atau tanda tertentu. Tanpa repot membuka kamus atau bertanya pada seseorang kita dipermudah dengan tanda serta simbol tadi dengan pemaknaan yang sederhana. Bersifat mudah dimengerti serta dicerna oleh pikiran dan dengan bentuk yang sederhana, simbol atau tanda membantu otak manusia untuk berpikir cepat karena hanya menyentuh permukaan dari bentuk tadi, tidak mendalam mengartikan maknanya.
Tanda atau simbol tak hanya terpaku pada suatu bentuk tulisan atau gambar saja, dapat juga dalam bentuk suara ataupun gerakan tubuh (body language). Kesemuanya merujuk pada suatu tujuan yaitu penyampaian maksud. Agar kita mampu memahami serta mengerti maksud apa yang hendak disampaikan, kita harus mampu membaca situasi serta kondisi saat penyampaian itu agar tidak miss perception. Bidang ini ternaungi dalam suatu ilmu tersendiri mengenai pemaknaan suatu tanda dan symbol, yaitu Semiotika. Dalam semiotika kita dituntut untuk lebih peka memaknai sebuah bentuk penyampaian agar maksud dapat kita tangkap tanpa kehilangan makna aslinya. Celakanya ketika manusia menerapkan cara mereka menilai simbol pada kepribadian seseorang dengan hanya melihat penampilan atau gambaran luar saja. Darisini dapat tercipta suatu pelabelan.
Pelabelan
Memaknai suatu pelabelan lebih sulit daripada memaknai suatu simbol atau tanda biasa. simbol atau tanda merujuk pada suatu hal yang memiliki arti yang konkret, sedang pelabelan dapat bersifat sangat ambigu bahkan sulit diterka makna sebenarnya. Menyoroti akan adanya pelabelan, akan ada permasalahan yang muncul apabila kita memaknai hanya pada permukaan saja tanpa pendalaman. Sebagai contoh penyimbolan, gambar huruf P yang dicoret dengan garis miring, dengan mudah kita menerka bahwa itu tanda dilarang parkir ditempat tanda tersebut dipasang, atau gambar garpu dan sendok yang menyilang, tidak mungkin kita akan mengartikan bahwa itu toilet, pastilah rumah makan. Pada contoh penyimbolan diatas penyampaiannya dimaksudkan pada sesuatu yang konkret yaitu larangan, rumah makan, toilet, dsb dan dengan mudah kita memahami tanpa harus memutar otak lebih keras untuk mengetahuinya.
Lalu bagaimana jika cara tersebut digunakan untuk menilai sebuah kepribadian seseorang dengan melihat tampilan luar mereka?
Judge the book by the cover, itulah yang akan kita lakukan nantinya apabila kita menerapkan cara tersebut, menghakimi. Sebagai contoh, wanita diidentikkan dengan kelembutan dan kelemahan, orang dengan rambut gimbal dan panjang dianggap sebagai preman, seseorang dengan pakaian kucel dan tampang kotor dianggap sebagai gelandangan, dll. Coba telusuri dan maknai lebih dalam, bisa saja wanita tersebut adalah seorang petinju atau pegulat dan jauh dari kesan lemah, bisa saja orang dengan rambut gimbal merupakan seorang ilmuwan yang karena kesibukannya sehingga jarang keramas, atau bisa saja seseorang dengan pakaian kucel tadi merupakan artis yang sedang istirahat dalam masa shooting.
Memang, sebatas tiada yang dirugikan maka pemikiran seperti ini baik-baik saja. Namun, pemahaman yang parsial seperti ini ditakutkan malah akan menjadi boomerang bagi kita sendiri, pikiran kita akan dangkal dan pragmatis dalam memahami sesuatu. Setiap penilaian juga dipengaruhi unsur-unsur tertentu, seperti latarbelakang sosial, ekonomi serta budaya masing-masing. Penilaian seorang dosen berbeda dengan penilaian seorang petani pada mahasiswa, penilaian orang miskin berbeda dengan penilaian orang kaya. Sebagai contoh sebuah pemahaman, kata “hari ini makan apa?” maknanya akan berbeda ketika diucapkan oleh orang miskin dan orang kaya, pada orang miskin kata tersebut merujuk pada pengertian kebingungan bahwa tak ada sesuatu yang dapat mereka makan pada saat itu dengan kondisi memang tak ada pilihan, berbeda halnya ketika kata tersebut dilontarkan oleh borjuis atau konglomerat yang maknanya merujuk pada kebingungan atas berbagai pilihan serta referensi tempat makan serta jenis makanan yang dapat mereka nikmati. Oleh karenanya, sebagai mahasiswa kita dituntut untuk lebih kritis dalam memahami suatu simbol terlebih pelabelan.
Let’s preserve what must be preserved, perfect what cannabe perfected!!
Menurut Heraklitus, seorang filsuf Yunani, bahwa dengan belajar melupakan dan berpikir lateral maka kita akan bisa memperoleh makna yang sesungguhnya. Terkait dengan contoh tadi, apabila kita dalam menilai mereka dengan sejenak kita lupakan bahwa wanita itu lemah, gimbal itu preman, dan kucel itu gelandangan, maka kita akan berusaha secara objektif mencari makna baru. Dan dengan berpikir lateral yaitu berusaha berpikir menyamping yaitu tidak memandang bahwa status kita lebih tinggi dari siapapun dan anggap semua sama maka tak ada subjektifitas yang merugikan dalam penilaian kita.
Sekarang, dapatkah kita berpikir seperti itu??

0 comments:
Post a Comment