iii Prinsipal

Posted on
  • Sunday, November 8, 2009
  • by
  • Giswa Juanda
  • in
  • Labels:

  • Kalau dengar judulnya memang agak mirip-mirip dengan ill Principlenya Nicollo Machiavelli yang isinya tentang sikap Raja untuk mengarahkan rakyat yang dipimpinnya ke tujuan akhir dari negara/kerajaannya kudu keras dan tegas serta absolut, nah ditengah-tengah ada tujuan antara, tujuan antara ini dipake sembari proses ke tujuan akhir. Namun, aku sedang tidak berfilosofi tentang tujuan Negara, hanya saja itu bisa dijadikan sedikit patokan dan gak usah banyak-banyak biar gak dikira plagiat. iii Prinsipal disini terbentuk dari tiga huruf ”i” yang diambil dari akhiran tiga kata yakni Studi, Organisasi, dan Hati. Ini merupakan bentukan dari nasihat seorang kawan yang nama belakangnya Wahyudi dengan nama depan biar enak dipanggil aja jadi disebut Hendra, jadi Hendra Wahyudi lengkapnya. Dia merupakan kawan kental satu organisasi yang aku fokusi sekarang, pokoknya dia ngasih tau 3i ini waktu aku menjadi anggota bersama dia awal-awal dulu dia masih cupu dan aku juga tak kalah cupu, ”Ju, inget 3i, jangan Cuma organisasi aja yang lo pentingin, tapi studi ama hati juga, tiga-tiganya kudu seimbang, jangan bolos mulu lo kuliahnya!!” celotehnya kala itu, dan itu seperti nasehat seorang kakek pada cucunya, sungguh betapa tuanya dirimu kawan.

    Pada mulanya aku memang sudah punya alur untuk aku sendiri ketika memutuskan untuk di hukum, bukan karena salah lantas di hukum, namun belajar di fakultas hukum. Aku sendiri lulusan Teknik Audio Video (TAV), yang tujuannya biar sesuai dengan hobby dan bakat aku yang tukang ngutak-ngutik barang sumbangsih dari sifat rese aku bawaan orok. Namun ”Sebelas-Sembilan Puluh Sembilan” bukan ”Sebelas-Dua belas”, maksud aku gak mirip dan jauh beda dengan yang telah dibayangkan, ternyata masuk ke TAV tak seasyik yang aku kira-kira, mungkin karena saat itu memang aku tiada pandai dalam mengira-ira sesuatu. Lalu lantas kenapa di hukum? Wah, sebenernya aku lebih tertarik dengan Psikologi dan Teknik Informatika, namun memang tiada nasib, Unsoed kala itu tak siap sedia jurusan itu. Batasannya memang Unsoed saja, itu titipan orang tua, karena biar aku tetap terawasi oleh keluarga yang ada di Unsoed, sungguh betapa bijak kalian hai orang tuaku.

    Dan sebenarnya pula aku mendapat tawaran untuk melanjutkan studi ke Universitas Gajah Mada (UGM) di Jogjakarta melalui jalur Program Penjaringan Siswa Berprestasi (PPSB), ini sumbangsih kesuksesan aku dalam meresehi suatu barang Audio Video dan berhasil membuat terkesan para guru sehingga mungkin dengan terpaksa memberi nilai bagus guna di bubuhkan dirapot siswa. Namun, tak berkenan dan berminat, dari tiga siswa, hanya satu saja yang mengambil kesempatan itu, Nandank Utan namanya, sungguh nama yang berkesan bukan. Sedang dua lainnya yakni aku dan seorang kawan bernama Supirman, manusia yang tak bisa terbang, lebih memilih untuk tidak memilih, tapi memilih hal lain dengan maksud menolak. Dan tiada kata tentang hal-hal tadi yang aku sampaikan kepada orang tua nun jauh disana, bukan bermaksud durhaka, namun ini berkaitan dengan masa depan diri seorang aku.

    Nah demi tadi itu, diarahkan pula diriku oleh paman dan bibiku untuk mengambil Hukum dan Elektro Unsoed, betapa memang jodoh, masuklah aku di kampus yang katanya merah ini tapi nyatanya krem warnanya. Tujuan aku jelas sepandangan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang terpaksa berurusan dengan pendidikan demi masa depan yang cemerlang esok hari mereka, yakni lulus cepet dengan IPK luar biasa dan bekerja dengan insentif gaji yang luar biasa pula, amin. Nah, iii Prinsipal ini yang aku gunain buat mencapai tujuan itu, walau mungkin nanti tak seperti itu, namun di usahakan agar seperti itu. Aku akan bahas satu-satu prinsip sumbangsih seorang kawan dan aku fusikan dengan prinsip yang aku percayai bukan yakini biar tiada kesan musrik nanti. Ada Studi, Organisasi dan Hati, yang pertama dengan urutan prioritasnya walau memang kudu seimbang, aku menempatkan Organisasi pada prioritas pertama lalu Studi dan menyusullah Hati, sebagai prioritas setelah organisasi, oh betapa organisasi menjadi puncak tonggak harapanku. Untuk itu akan aku sampaikan satu persatu mengenai hal tadi.

    Organisasi

    Idealnya semua mahasiswa harusnya memprioritaskan studinya diatas yang lain, namun berbeda halnya dengan aku, aku tidak ingin disebut peniru kebiasaan, namun bukan itu alasannya kenapa aku membedakan diriku atas prioritas tadi. Awalnya memang aku melihat suatu niat menuju nilai apik yang dikukuhkan IPK melalui KHS, oh betapa formal hal itu tadi. Namun aku melihat lagi bahwasanya yang dibutuhkan bukan hanya itu saja, melainkan kemampuan verbal dan teknis diluar formal. Terlebih, jurusan yang aku pilih berbeda 130derajat dengan basic aku yang lalu, lebih ke ilmu sosial yang butuh lebih banyak interaksi dengan dunia nyata, tidak teori semata.

    Akibat perbedaan basic pula sebuah rasa yang di sebut minder muncul, aku merasa nanti tak bisa melebur dengan kawan-kawan yang lain, nah dari situ aku melihat sebuah obat penawar dari organisasi, walau sebenarnya itu Cuma perasaan aku saja, dan tanpa organisasipun bahkan aku bisa dikatakan lebih mendominasi kawan-kawan dalam bergaul, karena memang itu sifat alami bawaan genetik aku. Dan aku terlanjur cinta dengan kehidupan organisasi kala itu, dengan pengalaman organisasi yang aku pkir sangat minim. Pengalaman sebelum aku menjadi mahasiswa paling-paling hanya sebagai panitia teknis dari sebuah Event Organizer yang di ketuai Om aku yang kini bubar seiring bertambah tua pemimpinnya, tak tau bagaimana kinerja forumnya. Lalu juga sebagai pengikut event kepramukaan saja, dan sebagai anggota organisasi remaja di daerahku sana.

    Suatu hal konkret dan nyata yang ingin aku dapat yakni ilmu dari masing-masing organisasi yang diwujudkan dalam suatu penghargaan dari beberapa kompetisi atau kegiatan, sungguh bertapa Oportunisnya dirimu hai Juanda. Ouch, jangan salah menilai, karena pada dasarnya semua manusia itu oportunis, selalu mencari apa yang bermanfaat bagi mereka dan itu yang akan ia geluti untuk mencapai itu. Namun bagaimana kita pintar-pintar memisahkan apa yang dinamakan dengan ego dan urusan organisasi dalam bentuk keprofesionalitasan. Dan sungguh, profesionalisme dalam organisasi kampus merupakan suatu hal yang tidak apik, kenapa? Karena organisasi dalam kampus sebenarnya didirikan dengan dasar kebutuhan bersama yang dibalut dengan rasa persaudaraan dan cinta kasih antar anggota dan pengurusnya. Profesional nantinya hanya mengarah ke keadaan terpaksa untuk mengerjakan tanggung jawabnya, bukan karena keiklasan untuk mengembangkan organisasi, dan apabila ada gagasan cemerlang, mungkin menjadi malas untuk di terapkan.

    Dari sinilah aku memberi waktu untuk mencari suatu Experience dan Achievement selama 4 semester pertama, kenapa? 4 semester pertama mahasiswa khususnya FH belum begitu di sibukkan dengan praktek-prekteknya yang sering disebut dengan PLKH. Dengan tidak begitu sibuknya mereka, semangat yang dikasih dari darah muda mereka hendaknya tidak disia-siakan hanya dengan tongkrongan atau berkasih-kasih ria semata, tapi ada upaya konkret yang menghasilkan sesuatu bagi mereka sebagai penolong apabila nanti mereka lulus. Bagi dirikupun, studi melulu tidak menjadi jaminan kita bakal dapet IPK bagus dan lulus cepet lalu dapet kerja dan kawin lalu punya anak cakep-cakep. Maaf, penggunaan kata kawin tidak berkonotasi jelek karena justru kawin adalah kata baku di Indonesia seperti yang disebutkan dalam UU Per”Kawin”an sejak tahun 1974. Dan justru ini adalah upaya pemberi skill bagi mereka yang, maaf, kurang bisa mengejar IP standar dan terkena evaluasi, paling tidak mereka telah mendapat suatu ilmu yang berharga dari organisasi sedangkan ilmu formalnya sendiri tidaklah komplit selesai, sungguh aku sangat menghargai kalian yang dikeluarkan karena D.O dan tetap berjuang hai kawan.

    Nah demikian tadi yang menjadi pertimbangan dipilihnya organisasi sebagai prioritas pertama, yakni demi pengalaman dan hasil konkret dari pengalaman itu yang dikukuhkan dalam bentuk penghargaan. Aku sendiri selain menjadi pengurus dari organisasi yang aku geluti, juga mengikuti kegiatan yang diadakan oleh organisasi itu, tidak sia-sia karena beberapa penghargaan sempat aku kenyam, walau tanpa predikatpun pengalaman telah menjadikan itu tak sia-sia. Mungkin konsep awal aku ialah bagaimana mendapat penghargaan sebanyak-banyaknya, namun kecintaanku pada organisasi justru membuat itu aku anggap tak penting lagi, aku anggap itu sebagai bonus apabila aku mendapatkannya. Aku lebih senang mendapatkan suatu ilmu yang ditemukan bersama dengan kawan-kawan organisasi, entah dalam suatu forum kepengurusan, kepanitiaan, atau pengalih ilmuan ke kawan baru. Beberapa kegiatan perlombaan aku ikuti juga karena ada hiden motivation dari seorang kawan, yang ingin aku tunjukan aku bisa juga mendapat ilmu seperti yang ia dapatkan, bukan semata karena predikat pemenang yang bisa aku raih, sekali lagi kini itu Cuma bonus.

    Ada beberapa hal yang kadang menjadi kendala, yakni ketidaksukaan orang tua terhadap banyaknya kegiatan yang kita geluti dan ketidakfokusan terhadap studi kita. Namun bagiku memang hal itu tak begitu berarti, fokus aku memang ke pengalaman organisasi baru ke studi, sungguh seharusnya mereka tahu bahwa itu sangat membantu.

    Studi

    Adalah sebuah konsekuensi bagiku dengan resiko nilai yang pas-pasan untuk empat semester pertama, namun itu ketika aku lebih memrioritaskan organisasi dan aku samasekali membengkalaikan studi aku. Memang terkadang bolos kuliah menjadi hal yang biasa, namun ada pertimbangan dibaliknya, kalau memang kuliah tersebut sangat tidak menyumbang bagi keilmuan aku pribadi, maksud aku, kita bisa belajar sendiri karena kebanyakan yang diajarkan hanya teori yang ada dibuku melulu, lebih baik melakukan sesuatu yang lebih berguna. Toh belajar bukan hanya kita dapat lakukan di bangku, bahkan di toilet pun kita bisa dapat pelajaran, sungguh betapa ilmu ada dimana-mana. Aku mendapat nilai yang cukup stabil empat semester berturut-turut, dibanding dengan beberapa kawan yang sangat rajin mengikuti perkuliahan pun nilaiku bisa sepadan bahkan lebih dari mereka, beberapa kawan sempat kesal dengan ketidakadilan yang mereka peroleh, paling tidak itu yang mereka pikirkan ketika tau aku yang jarang masuk kelas tapi memperoleh nilai maksimal, sekalipun sebelumnya pernah ada perkara dengan dosen pengampunya yang notabene itu pertanda nilaiku akan hancur, sungguh usaha dan niat baik tiada yang sia-sia.

    Pernah dalam satu mata kuliah aku sama sekali tidak mengenal bahkan tau wajah dosen pengampu, maaf bukan durhaka pada ibu/bapak. Dan hampir hal itu sangat mengecilkan kepalaku saat berhadapan dengan beliau untuk mengumpulkan suatu tugas dan dengan penuh percaya diri aku bertanya pada beliau tentang keberadaan beliau yang jelas-jelas orang yang aku tanyailah orang yang aku cari, betapa tadi menunjukan keaktifan aku dalam membolos kuliah beliau.

    Kini, telah genap empat semester pertamaku, pengalihan orientasi dan fokus kini sedang aku upayakan demi nilai yang maksimal tertera dalam kartu hasil studiku nanti, amin. Studi menjadi fokus prioritasku mengalahkan yang lain saat ini. KHS ternyata berpengaruh terhadap kebahagiaan orang tua kita, mindset mereka, nilai bagus ialah cermin kesuksesan, dan aku masih yakin faktor lain yang lebih menunjang kesuksesan masih banyak, jadi bukan jaminan KHS bagus nasibpun bagus, oh Bunda Panda dengarlah ini. Yang aku kejar kini yaitu kesempatan untuk menjadi salah satu lulusan terbaik dengan predikat Cumlaude, yang memang tidak mudah. Aku mengejarnya hanya demi keformalan belaka, karena sungguh aku tiada punya minat untuk menjadi seorang praktisi hukum. Dunia Jurnalistik atau Perbankan lebih nyaman di otakku untuk aku kenang dulu dan aku praktekkan kemudian, alasannya agar nanti aku tidak terlalu bosan dengan hal-hal yang itu-itu saja, hukum, hukum, dan hukum. Dunia jurnalistik menawarkan berbagai hal yang penuh tantangan, deadline, grafis, fotografi, liputan, sungguh banyak hal yang bisa dikembangkan. Nah, baru kalau jurnalistik gagal aku dapatkan, masuklah aku dalam dunia perbankan, aku termasuk orang yang suka kesibukan, selain menjanjikan kesejahteraan, perbankan juga menawarkan kesibukan. Di luar itu sebenarnya ada hiden motivation kenapa aku memilih dua dunia tadi yang terus memacu untuk aku lebih mengembangkan potensi untuk sukses. Aku bersyukur, studi aku malah terbantu dengan aku bergabung dalam organisasi, hubungan antara keduanya saling mengembangkan satu dengan yang lainnya, aku mendapatkan tempat pengaplikasian teori yang aku peroleh dari studi, dan kini tinggal masalah hati turut mendukung atau tidak.

    Hati

    Hati yang dimaksud disini lebih ke hubungan special antara dua hati. Konkretnya ada hubungan khusus yang terbentuk dalam suatu komitmen. Sebenarnya hati, organisasi, dan studi memang harus seimbang, kepuasan batin kadang susah untuk ditemukan, dan hubungan dengan lawan jenis yang bisa memberi kepuasan batin tadi. Adalah kurang tepat kalau dibilang hati adalah bonus dari organisasi atau studi, ketiganya berdiri sendiri dan harus kita cermati matang-matang. Hanya saja kita tidak dapat memikirkan ketiganya sekaligus dalam satu waktu, ada pembagian prioritas yang harus di ambil, namun bukan berarti yang tidak diprioritaskan samasekali dilupakan. Sudah sukur apabila ada yang mau hatinya kita ajak dalam suatu pertautan, kalau tidak ada, susahlah kita. Susah dan tidak realistis memang ketika berbicara masalah hati, tapi tak apa bila itu menjadi motivasi untuk saling mengembangkan. Justru ketika aku memikirkan seseorang yang aku tunggu namun aku sedang dalam masa prioritas ke organisasi atau studi, aku akan lebih semangat untuk lebih berkreasi dalam sumbangsih ilmu ke studi atau organisasi aku. Dan hati itu aku jadikan motivasi.

    Hati kadang menjadi ganjalan bagi studi dan organisasi pula, oleh karenanya baik-baik kita menempatkan ketiganya dan tidak mencampuraduknya. Kadang susah untuk tidak memikirkan masalah hati, sangat sensitif. Oleh karenanya jangan berani bermain hati kalau takut resikonya, tapi kalau berani ambil resiko, itu patut dicoba dan memang ini saatnya kita mengekspansi hati kita dengan tujuan bukan untuk bermain-main tetapi mencari yang tepat demi masa depan cemerlang.

    Itulah iii prinsipal yang aku maksud, yang sedang aku upayakan berhasil di ketiganya, agar tiada yang dikecewakan karena ketidak becusanku menjalankan apa yang telah prinsip. Bukanlah sebuah hal yang baku apa yang telah aku sebut diatas, namun akan menjadi lebih terarah apabila kita memiliki sebuah pedoman dalam hidup kita. Semoga!!

    0 comments:

    Post a Comment

     
    Copyright (c) 2010 Blogger templates by Bloggermint
    Sponsored by : Kaskus Lookup