Sera duduk di samping jendela sore itu, memperhatikan dr. Pram yang sedang sibuk dengan clipboardnya mencatat setiap jawaban yang Sera lontarkan. dr. Pram ialah dokter ahli kejiwaan di RS Giziest, dan tentu saja Sera tak lain ialah salah satu pasiennya. “Sera, apa yang kau rasakan hingga saat ini?”, dr. Pram melanjutkan pertanyaannya. “Aku masih tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu, yang aku ingat saat ini ialah rasa kekecewaan atas kematian Ibuku. Saat itu aku gagal untuk tetap menjaga ibuku, hingga pondok itu terbakar didepan mataku!”. Pertanyaan ini sebenarnya telah berulang-ulang ditanyakan kepadanya, dan biasanya ia langsung terisak mengenang kejadian tragis itu. Dan ini ialah kali terakhir dr. Pram melontarkan pertanyaan ini, karena menurutnya Sera telah siap untuk meninggalkan tempat ini dan kembali tinggal bersama keluarganya yang tersisa, hanya tinggal menunggu waktu hingga Ayahnya menjemputnya.
Kejadiannya tiga tahun yang lalu, saat itu Sera sedang kalut dalam perjalanannya pulang dari kencan yang ia lakukan bersama Andry, kekasihnya. Mereka telah dua bulan berpacaran dan hubungan mereka kian jauh, namun hampir terlalu jauh hingga Sera melepas paksa pelukan Andry dan pergi bergegas untuk pulang, dia marah karena kenekatan Andry untuk meminta lebih darinya. Dalam kondisi seperti itu dia menghampiri gudang yang terpisah beberapa meter dari rumahnya untuk mengambil minyak tanah yang seingatnya untuk menyulut perapian di rumahnya, kondisinya memang dingin saat itu. Sera bergegas masuk ke rumah dan menuangkan sedikit minyak dalam botol tadi ke kayu dalam perapian, belum sempat ia menyalakanya terdengar suara dari dapur yang sedikit aneh baginya. Ia mengira itu suara Tiwi, kakak perempuannya, namun ia yakin Tiwi belum kembali dari tadi sore waktu ia pergi bersamanya ke tempat Selly, sepupu Andry. Dengan sedikit dorongan ia enggan untuk melihat ke dapur, namun akhirnya ia menggerakan kakinya untuk menghampiri suara tadi. Ia berjingkat berjalan ke sana agar siapapun atau apapun yang ada di sana tidak mengetahui kedatangannya, namun pintu dapur didapatinya terkunci. Tanpa pikir panjang ia lalu mengintip ke dalam dapur melalui lubang kunci dan melihat sesuatu yang sangat tidak ia harapkan dan ia duga akan dia lihat disana, Ayahnya sedang bermesraan dengan Greis, perawat pribadi ibunya. Ibunya memang sudah setahun terkena stroke dan terbaring lemah di pondok samping gudang persis, rumahnya memang terdiri dari tiga bangunan, yakni pondok tempat Ibu dan Greis tidur, gudang dan pondok utama tempat ia, Ayah, dan Tiwi tidur.
Emosi Sera langsung memuncak melihat kejadian itu dan ia langsung berlari keluar berniat mengambil lebih banyak lagi minyak untuk membakar rumahnya sendiri, rumah yang ia dapati sedang digunakan untuk menghianati kepercaan keluarga dan dirinya sendiri. Ia berlari dengan satu jirigen minyak di tangannya menuju ke arah luar dapur tempat Ayah dan Greis berada, namun belum sempat ia menyentuh gagang pintu, terdengar bunyi ledakan kecil dari arah gudang dan api yang sangat besar meluap membungkus gudang dan separuh dari pondok tempat dimana ibu berada. Ia menjerit memanggil ibunya dengan berlari ke arah pondok itu, namun ledakan keras dari pondok ibunya menghempasnya seolah bagai ada yang memukulnya hingga pingsan dan membuatnya tidak sadarkan diri. Itulah pecahan memori yang ia ingat tentang malam tragis saat ibunya meninggal.
Terkadang Sera sangat membenci Ayahnya karena malam itu, tetapi ia berpikir bahwa Ayahnyalah satu-satunya orang tua yang tersisa dan dia mulai memaklumi kejadian malam itu sebagai suatu kewajaran, Ayahnya sudah setahun sejak Ibu terkena stroke tidak mendapat jatah dari ibu. Namun walau begitu ia masih memendam benci kepada Ayahnya dan Greis, walau mereka tidak tau kalau Sera pernah memergoki mereka berdua malam itu.
”Sera, Sera!!” suara dr Pram membangunkannya dari lamunan. ”Sera, barang-barangmu sudah kau kemas? Sepertinya Ayahmu telah datang.” sambung dr Pram. ”Ya, sebentar lagi aku akan menemuinya di luar, mohon dokter menemani Ayahku dulu, aku ingin berganti pakaian.” ucap Sera malas. Sera justru merasa berat untuk kembali ke tempat itu lagi, tempat dimana kejadian tragis itu membuatnya terpukul, namun satu hal yang membuatnya ingin kembali ialah Tiwi, kakak perempuannya, ia sangat rindu kepadanya, Tiwi lama tidak menjenguknya dan ia ingin bertemu dan berenang bersamanya lagi di danau depan pondok mereka.
”Sera, boleh Ayah masuk sayang?” Ayahnya mengetuk di balik pintu. Kini Sera telah siap untuk menemui Ayahnya dan meninggalkan rumah sakit ini. ”Ya, buka saja!!” timpal Sera. Ayah dan dokter langsung masuk ke kamar dan melihat Sera yang berbeda dari yang biasanya, ia memang berbeda sekarang, tampil lebih anggun layaknya seorang wanita remaja, dan itu sudah lama tak Ayahnya dapati, Sera memang cantik, ia sedikit kurus dengan kulit yang putih cerah, rambutnya pendek dengan poni yang baru saja ia buat dengan sedikit sentuhan gunting rumah sakit.
”Yap, aku siap sekarang!!” seru Sera, ia tersenyum cerah pada Ayahnya yang menghampirinya dengan pelukan sayang. ”Oke Sera, semoga kita tidak berjumpa lagi sebagai dokter dan pasien ya!” canda dr Pram. Sera tertawa dan menghampiri dokter Pram dan memeluknya, ”terimakasih dok, aku bakal rindu dokter!” serunya. Sera memang telah menganggap dr Pram sebagai orang tuanya selama tiga tahun bersamanya, begitu pula tampaknya bagi dr Pram. Setelah berpamitan, Sera dan Ayahnya bergegas ke mobil dengan membawa barang-barang Sera di bagasi. Tidak perlu waktu lama untuk menuju ke samping kota tempat rumahnya berada, tempatnya memang agak jauh dari keramaian, suasana relaksasi yang khusus di pesan oleh Ayahnya untuk Ibunya, dengan tiga pondok yang menghadap ke danau dan udara yang sejuk mengitari rumah mereka.
Dalam perjalanan Sera hanya diam, walau Ayahnya sepertinya hendak mengobrol dengannya, namun suasana menjadi kaku sejak Sera melihat cincin perkawinan Ayahnya berbeda dengan yang biasa ia kenakan. Karenannya ia bertanya perihal cincin itu, ”Ayah, itu..” Sera bertanya sambil memperhatikan cincin di pergelangan jari Ayahnya. ”Oh, ini juga yang mau Ayah sampaikan tadi, Ayah telah menikah dengan Greis setahun yang lalu dan kami pikir kami akan memberitahumu setelah kau benar-benar sembuh sayang.” jawabnya. Mendengar itu Sera hanya diam, dan memang tiada haknya untuk marah dan ia menerimanya, namun yang ia pikirkan yakni bagaimana perasaan Tiwi waktu itu, pasti ia sangat marah. Sera sangat berbeda dengan kakaknya, Tiwi sangat tomboy dan keras, Tiwi juga sangat menyayangi ibunya dan Sera pikir Tiwi tidaklah semudah itu menerima Greis menggantikan posisi Ibunya. Kendatipun Sera menerima, namun ia mendukung apabila Tiwi berbuat sesuatu yang tidak mengenakan pada Greis seperti yang sedang ia bayangkan, pasti seru pikirnya.
”Sera, sayang, kau tidak apa-apa?” Ayahnya bertanya. Ia melamun lagi, ”oh, ada apa Yah?”, timpalnya sambil melihat kotak yang ia kenali milik Tiwi ada di pangkuan Ayahnya, sepertinya Ayahnya akan memberikan kotak itu padanya. ”Ini milik Tiwi, dia ingin kau memilikinya, kau tau, sejak kejadian itu Greis merasa bersalah ter..” kata-kata Ayahnya sama sekali tidak Sera dengarkan, ia mengamati kotak itu dengan penuh semangat, dan sembari Ayahnya berceloteh, ia memperhatikan isi kotak itu dan mengingat-ingat kenangan yang pernah ia alami bersama Tiwi, sungguh itu membuatnya ingin segera bertemu dengan kakaknya itu. Di dalamnya ada beragam barang milik Tiwi bersamanya dulu, foto-foto, arloji, gantungan kunci, dan belati gunungnya. Namun anehnya kenapa Tiwi ingin Sera memilikinya, Sera tak pikir panjang mengenai hal itu, yang ia pikirkan ialah berlari ke depan pondok menemui Tiwi dan berenang bersamanya nanti, selang beberapa waktu terlihatlah rumah mereka.
Sera segera berlari seperti yang ia harapkan tadi ke depan pondok ibunya, berharap melihat Tiwi ada disana. Namun ia hanya mendapati pondok kosong yang rupaya telah dibangun ulang setelah habis dilalap api, ia memerhatikan pondok itu dan mulai mengingat kenangan itu, kenangan pahitnya, dan ia mulai melamun lagi. Di tengah lamunannya ia di kagetkan dengan suara di samping pondok, di danau yang padahal dilihatnya kosong tadi, dan kemudian ia melihat Tiwi disana dengan baju renangnya. ”Tiwi!!” ia meneriakan nama itu seolah baru pernah berlatih berbicara, dan sambil berlari ia memerhatikan sosok tinggi nan cantik itu. ”Hai Poni..” timpal Tiwi biasa. Poni memang panggilan Tiwi untuk adiknya itu, dan meskipun tampak biasa saja, namun Sera yakin Tiwi sangat senang bertemu dengannya.
Sera berlari dan menubruk Tiwi kemudian memeluknya erat, ia sungguh sangat rindu kepada kakaknya itu. Mereka sangat berbeda, namun justru karena perbedaan itu mereka saling mengisi, Tiwi sosok yang keras dan sangat perhatian dengan segala hal tentang adiknya, sepertinya dia sudah terlihat iklas dengan perginya Ibu mereka dan dengan pengganti barunya, Greis. Sera pada awalnya menyangka demikian, bahwa Tiwi telah iklas dengan Greis, dan kepergian Ibunya, namun dalam obrolannya sangat-sangat terkesan dia membenci Greis, seperti yang ia tunjukan dalam kata-katanya, ”kau tadi sudah ke rumah? Kau cium bau busuk tidak dari dapur, itu bau masakan pelacur yang mengaku jadi ibu kita!” ucap Tiwi, memang tadi dari mobil ia melihat jendela dapur terbuka dan ada bau panggangan sesuatu yang sempat ia cium sebelum ke danau. ”Oh, belum, tapi aku sempat mencium bau masakan, dan aku pikir itu tidaklah buruk. Kamu gak senang dengan kehadirannya, bukannya kamu udah setahun sama dia, dan aku pikir demi kebaikan Ayah juga dia ada di sini bersama kita!” kilah Sera dengan penuh kemunafikan, sebenarnya Serapun enggan untuk menerimanya, namun ini hanya untuk menenangkan Tiwi saja. ”Hehe, kau cukup dewasa juga, ternyata gak sia-sia kamu disekolahkan di bidang kejiwaan!!” ledek Tiwi yang sambil berlari menghindar dari kejaran Sera. Sera tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan Tiwi, malah ia terhibur, kini mereka berdua saling kejar dan berlari ke arah pondok utama dimana Greis dan Ayah sedang menantinya untuk makan.
Sera masuk sendiri kerumahnya karena didapatinya Tiwi menghilang waktu ia mengejarnya, Sera berpikir selain Tiwi jago berlari, dia basah kuyup sehabis berenang dan dari ucapannya tadi di danau, dia tak mau makan makanan yang bau busuk seperti yang Tiwi pikir tadi, karenanya mungkin Tiwi menghilang dan lewat pintu belakang sekalian mandi. Namun Sera tidak menyangka Tiwi sekeras itu terhadap Greis, karena dari pertemuan pertamanya Greis tampaknya baik-baik saja dan memang begitulah ia yang Sera tau saat merawat Ibu dulu, hanya saja kekurangannya yakni mencoba menggantikan posisi Ibu, dan bagaimanapun Ibu tetaplah Ibu, tak ada orang lain yang dapat menggantikan ibu, sebaik apapun orang itu, dan itu mungkin yang Tiwi rasakan sekarang.
”Hai Sera,” sapa Greis kepadanya saat ia menghampiri ruang keluarga, Ayah dan Greis berdiri menyambutnya. ”Maaf tadi aku tak bisa ikut dengan Ayahmu untuk menjemputmu, aku harus menyiapkan makan malam untuk kita semua malam ini..” sambutnya lagi. ”Ya, tak apa lagian Ayah sudah cukup menerangkan kenapa kau tidak ikut menjemputku tadi di mobil, ya kan Ayah?” jawab Sera sambil memandang Ayahnya yang balik tersenyum pada Sera karena ternyata Sera memperhatikan apa yang diucapkannya tadi di perjalanan. Suasana kian menghangat saat makan malam yang di hadiri hanya oleh mereka bertiga, Sera belum mendapati kakaknya kembali dari tadi sore sehabis dari danau. Sera berpikir itu memang kebiasaannya sejak setahun yang lalu, tak pernah makan bersama dengan Greis dan Ayah, dan Sera segan menanyakan ini pada Ayah ataupun Greis yang ia pikir hanya akan membuyarkan suasana yang Greis dan Ayahnya coba untuk dibuat hangat, dan Sera mencoba menghargai mereka dengan ikut bersikap manis.
Malamnya, ia pergi ke kamarnya dan mencoba berbenah, walau Greis sudah cukup membantunya dengan ikut menata barang-barangnya saat ia ada di danau bersama Tiwi tadi sore. Hanya tersisa beberapa pekerjaan yang memang harus Sera sendiri untuk membenahinya. Dan hari mulai gelap ketika ia melihat kotak milik Tiwi lagi, ia teringat kalau tadi ia belum berterima kasih pada kakaknya itu atas barang-barang miliknya yang ia beri untuk Sera. Karena itu ia pergi ke kamar Tiwi seusai berbenah, tadinya kamar Tiwi ada di sebelah kamarnya, namun kini pindah ke bekas kamar ibunya di pondok samping gudang. Sera pergi kepondok itu dan didapatinya pondok itu terang, sepertinya Tiwi ada di sana. Alih-alih mendapati kakaknya, Sera malah mendapati Andry ada di sana bersama Greis. Ada perahu ditambatkan di danau yang aku kenali sebagai kapal milik toko serba ada milik keluarga Andry, karena begitulah bunyi tulisan di dinding kapal itu. Sera menghampiri mereka, dan mereka bertiga terlihat kikuk, nampaknya Andry sedang mengantarkan barang yang di beli Greis. ”Hai Sayang, belum tidur?” tanya Greis, namun Sera sibuk memandangi Andry yang juga sibuk memandangi Sera. ”Sera!!” panggil Greis sekali lagi, ”oh, ya aku belum ngantuk, tadi aku melihat lampu menyala dari atas, aku pikir ada orang jadi aku kemari” jawabnya kaget. Andry hanya diam dan sama sekali tidak menyapa Sera. Keduanya masih ingat kejadian malam itu, sebelum kejadian tragis itu terjadi.
”Sera, bisa bantu aku membawa ini ke gudang?” tanya Greis sekali lagi sambil menunjuk banyak barang yang baru saja di turunkan dari kapal milik Andry. ”Ya, sebentar!” jawabnya sambil melihat Greis berlalu membawa barang ke gudang. Perginya Greis membuat suasana lebih cair dan Andry terlihat begitu santai, ”hai, maaf, dulu, aku, tadi..” ucap Andry terbata-bata mencoba mengawali pembicaraan. ”Oh, hai, sekarang kau menggunakan itu untuk mengantar barang?” jawab Sera tenang sambil menunjuk kapal yang ada di pinggir danau. ”Ya, maksud aku tadi aku dengar kamu sudah balik dari Ayahmu sewaktu memesan barang-barang ini dari tokoku. Oh ya, sekarang aku yang mengantar barang-barang toko, dan beberapa bulan lalu Ayah membeli kapal khusus untuk mengantar barang ke pelanggan-pelanggan di pinggir danau, termasuk Greis” jawab Andry. Dulu memang Ayahnya yang mengantar barang dengan truk pick up, namun memang harus berputar jauh karena tokonya ada di ujung danau, dan Andry belum cukup umur untuk mengendarai mobil atau kapal saat itu. Danau di depan pondok memang terhubung dengan sungai besar yang dilalui kapal barang, danau terbesar yang ada di propinsi ini. ”Sera, maaf kejadian dulu itu, aku gak ada maksud buat..” sela Andry, Sera paham yang Andry maksudkan dan ia sudah lama melupakan itu. ”Oh, gak masalah kok Ndri, itu udah lama, lagian itu wajar kok, maksud aku, kamu cowok!!” jawab Sera. Obrolan mereka terputus dengan kembalinya Greis dari gudang dan berdehem kepada mereka berdua sebagai sindiran. Merasa tersindir, Andry dan Sera ikut membantu mengangkat barang kegudang, dan sambil mengobrol, kini mereka kian akrab.
Barang-barang kebutuhan sudah masuk ke gudang, dan Andry sudah kembali, namun ia tertarik dan penasaran dengan kata-kata terakhir sebelum mereka berpisah, ”Sera, aku tahu semuanya, kejadian malam itu, kalau mau, aku tunggu kau besok di tempat biasa!!” Namun Sera tidak begitu paham dengan apa yang ia maksudkan, dan terkesan Andry sangat hati-hati sekali dengan Greis, karena ia tidak melanjutkan kata-katanya ketika ia melihat Greis datang untuk memberi uang sisa pembayaran barang tadi siang. Penasaran dengan itu, Sera berniat menemui Andry besok malam, namun ia teringat tujuannya datang ke pondok, yakni melihat apakah Tiwi sudah kembali atau belum, dan tadi ia lupa menanyakan apakah Tiwi ada bersama Selly kepada Andry. Sera mengecek lewat jendela dan ia tidak melihat Tiwi ada di sana, Sera pun kembali ke kamarnya.
Sera ada di kamar ibunya, melihat ibunya ingin berkata-kata namun tiada kata yang terdengar dari mulut rentanya, ia terlihat sangat tua dan ia menunjuk sesuatu menerobos jendela ke arah pondok utama, Sera menghampiri Ibunya, dan dilihatnya api mulai berkobar, Sera berteriak, menjerit sekeras-kerasnya melihat ia menjauh dari gambaran ibunya. Sera berada diluar pondok sekarang, dia melihat api menyala dari gudang dan menjalar ke pondok ibunya, Sera berlari ke arah pondok dan melihat seseorang berdiri disana, di tempat yang ditunjuk oleh Ibunya tadi sambil memegang sebuah kaleng jerigen minyak, dan ia mengenali orang itu sebagai Greis. Greis tertawa saat Sera meminta pertolongannya, ”dimana Tiwi, dimana Ayah? Greis tolong ibu, Greis, tolong ibu!!!”, teriak Sera dalam mimpinya. Sera tak menyadari itu hanya mimpi sampai ia terbangun di tengah malam karena panggilan Tiwi. Peluh Sera mengalir di keningnya, ia kaget mendapati Tiwi ada di sampingnya, ”hei darimana saja kau ini? Sekarang siapa pacar kamu berani membuat kamu pulang jam segini?” tanya Sera. ”Kau mimpi buruk? Aku dari tadi ada di bawah, aku juga tau waktu Andry datang, dan aku tau kalau tadi Andry ingin mengatakan sesuatu..” timpal Tiwi, ”dibawah, kapan, tadi aku liat dari jendela gak ada!! Udahlah, eh kak, kamu temenin aku yah malem ini, trus besok temenin aku ke tempat Andry ya, ya!!” pinta Sera. ”iya-iya, tidur lagi gih!!” balas Tiwi sambil ikut tertidur. Sera tertidur lagi dan melihat Tiwi telah tiada di sampingnya esok paginya, dia tau kebiasaan olahraga kakaknya itu, jadi Sera berpikir pasti Tiwi sedang lari pagi.
Pagi ini Serapun mendapati Tiwi tidak makan bersama dengan Ayah dan Greis, dan itu menggambarkan betapa hubungan mereka sangat renggang, Sera belum berani menanyakan hal ini kepada Ayahnya maupun Greis. ”Yah, nanti aku mau pergi ke tempat Andry sama..” belum selesai Sera berucap, Greis telah berkata dan memotong ucapan Sera, ”oh, kebetulan, nanti kamu ikut aku aja sekalian ke toko Andry, ada sesuatu yang kemarin lupa aku beli, biar kamu gak repot pergi sendiri nanti. Sera sempat kesal pada Greis, lagian siapa yang mau pergi sendiri, Sera berniat pergi bersama Tiwi tadinya. Namun ia juga tidak berani menolak ajakan Greis, dan ia berniat menemui Tiwi untuk membatalkan janjinya, namun ia tidak melihat Tiwi disekitar pondok. Pagi itu Ayah membicarakan pendidikan lanjutannya, seharusnya ia telah di perguruan tinggi sekarang, namun tiga tahun di rawat membuatnya tertinggal dan harus ikut pendidikan susulan sendiri, dan ia baru sadar Tiwi harusnya juga kuliah, namun ketika akan menanyakannya pada Ayah, Ayah telah berangkat dan ia cukup segan bertanya hal itu pada Greis. Greis berbicara panjang lebar pagi itu di ruang makan tentang masa depan Sera dan pendidikan yang pantas untuknya, namun Sera tidak mendengarkan dan di malah memikirkan ucapan Andry semalam, Greis mulai membereskan meja dan menuju dapur, saat itulah Tiwi datang dengan baju olahraganya dan keringat yang bercucuran dan langsung menyambar roti bakar di meja. Dia hanya berkedip pada Sera dan pergi lagi ketika Sera memberi tahu tentang batalnya ia mengajak Tiwi pergi. Tiwi memang aneh pikir Sera.
Di toko Sera tidak ngobrol banyak dengan Andry, seperti yang ia pikirkan, Greis akan membuat Andry jadi segan untuk mengobrol dengan Sera. Dan hingga mau pulangpun Andry hanya sibuk dengan barang belanjaan kami, namun Andry sempat berucap ”nanti malam di tempat biasa saja!!” dan Greis terkesan mengamati kami dari dalam mobil saat Andry mengucapkan itu sembari meletakkan barang di bagasi. Sera sebenarnya bingung dengan kata tempat biasa, karena tiga tahun tak bersamanya tidak menjadikan itu biasa lagi, namun ia menebak tempat biasa yang dimaksud Andry yakni tebing di atas pantai tempat mereka biasa pacaran dulu.
Di rumah, Sera tidak bertemu dengan Tiwi, ia sibuk membantu Greis di dapur menyiapkan segala kebutuhan pesta besok lusa. Lusa malam akan diadakan pesta syukuran kembalinya Sera ke rumah ini dan pesta ulang tahun perkawinan Ayah dan Greis yang pertama. Itu menjawab kenapa banyak barang yang ia beli semalam dan hari ini. Greis menghadiahi Sera gaun yang cantik, yang harus ia gunakan di pesta nanti. ”Kau akan terlihat cantik dengan gaun ini!!” papar Greis, ”Yup, kau juga akan terlihat cantik besok malam Greis!!” balas Sera saat Greis mencocokkan gaun Sera dengan badan Sera. ”Aku akan sangat bersyukur kalau kau mau menerima aku sebagai pengganti ibumu, dan aku juga akan sangat berterima kasih bila kau tidak merusak hubunganku dengan James, Ayahmu!!” ungkap Greis, dan kata-kata tadi sungguh menyinggung Sera hingga ia pergi meninggalkan Greis di dapur. ”aku, pengganggu, siapa yang penggangu sebenarnya disini, aku atau dia” gerutu Sera di kamar. ”Pantas saja Tiwi gak betah di rumah, pasti dulu juga dia berkata seperti itu pada Tiwi.” tambahnya. Tak sadar karena kelelahan, Sera tertidur dengan bayangan Greis, Andry dan Tiwi ada di kepalanya.
Sera melihat ibunya melambai kepadanya, menyuruhnya untuk menghampirinya, mereka ada di pondok itu, tepat sebelum kebakaran terjadi, dan sekali lagi ibunya ingin berteriak tentang sesuatu, ia menunjuk ke arah Sera sekarang dan berkata ”bahaya!!” dengan suara yang tak keluar, dan api mulai berkobar disertai jeritan Sera meminta pertolongan, dia melihat Andry sekarang, namun dengan tempat yang berbeda, suasana gerimis saat itu dan dia berada di tebing di atas bukit yang semestinya di penuhi bintang. Andry ada di sana, dia menunjuk ke arah Sera, sama seperti yang ibunya lakukan tadi, namun ia meminta pertolongan sekarang dia memegang tangan Sera kuat, sangat kuat, seolah Andry sedang ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat hingga tarikan itu membuat kulit Sera terkelupas. Andry menangis dan menjerit, tulangnya terlihat keluar perlahan dan semakin kuar tarikan itu hingga Sera menjerit ketakutan. Sera terbangun dari tidurnya, dan merasakan seolah-olah hal itu baru terjadi, dia melihat jam dan sekarang sudah lebih dari tengah malam, dia teringat janjinya dengan Andry, namun di luar hujan dan sepertinya Andry juga telah pulang. Sera menghidupkan lampu kamarnya dan melihar ada jejak lumpur dan pakaian basah di depan kamar mandi, dan beberapa saat kemudian Tiwi keluar dari kamar mandi sambil memegangi pergelangan tangannya yang terlihat terluka. ”darimana kamu kak malam-malam gini? Ini apaan baju kotor ama bekas lumpur?” tanya Sera. ”Entahlah, aku malam ini tidur disini ya!! Jawab Tiwi. Setelah membereskan kamar dan luka Tiwi, Sera kembali tidur dengan ingatan yang masih sama seperti tadi dan dengan teka-teki apa yang hendak Andry sampaikan.
Esoknya, Sera dibangunkan oleh Ayah dengan Tiwi yang sekarang entah kemana. Mungkin Ayah ingin memberi informasi mengenai sekolah baruku, atau tentang Greis yang kemarin mengadukanku tentang ketidaksopananku padanya. Namun bukan keduanya yang Ayah sampaikan pada Sera pagi itu, melainkan berita kematian, ”Sera, Ayah harap kamu tabah, Andry ditemukan terjatuh dari tebing di sisi pantai danau tadi pagi, tulang-tulangnya patah dan dokter tidak dapat berbuat banyak untuk hidupnya, Andry meninggal sayang!!” ucap Ayah pada Sera yang langsung terisak mendengar kabar itu.
Sera bingung dengan kejadian-kejadian yang ia alami, seolah ada sesuatu dibalik ini semua, dia ingin sekali bercerita dengan kakaknya, namun Tiwi entah pergi kemana, mungkin ia pergi ke tempat pemakaman Andry bersama Selly setelah tadi diberitahu oleh Ayah, pikir Sera. Mimpi-mimpinya, sikap Andry, sikap Tiwi, juga sikap Greis yang aneh, Sera punya banyak pikiran tentang ini semua dan ia harus tahu kebenaran dari ini. Dan saat Sera sedang menyusun potongan-potongan memori di otaknya, Tiwi datang dengan mata sembab, dan sepertinya dia memang dari pemakaman bersama Selly. Tiwi, Selly dan Andry merupakan kawan akrab, ia pula yang mengenalkan Andry pada Sera, karenanya pasti Tiwi sangat sedih. Namun Sera kaget dengan kata-kata yang diucapkan oleh Tiwi pertama kali datang ke kamarnya dia mencari kotak miliknya yang diberikan Ayah padaku dan mengambil belati gunungnya. ”Akan ku bunuh wanita jalang itu, dia sudah keterlaluan, dulu ibu, lalu Ayah, dan sekarang Andry!!” ucapnya dengan emosi yang menjadi-jadi. Sera takut saat itu, dan ia memandang mata Tiwi dengan penuh tanda tanya, dan Tiwi paham maksud Sera, ia duduk dan menjelaskan semuanya. ”Maaf aku baru menjelaskan ini padamu Sera, kamu harus tahu kalau Greislah yang meracuni pikiran Ayah, dia ingin merebut posisi ibu dan lalu mengambil harta Ayah, dia perawat gadungan, dia berpura-pura bekerja sebagai perawat agar bisa meracuni ibu sekaligus merebut hati Ayah, dia yang membakar pondok ibu, Sera!!” jelasnya cepat. Sera semakin bingung, namun ini menjawab semua teka-teki itu. ”Semua itu gak ada buktinya kak, kita gak bisa asal nuduh kalau Greis yang bunuh Ibu!!” papar Sera. ”Sera sayang, selama tiga tahun ini aku mencari bukti itu, aku tahu kalau dia bukanlah perawat dari data yang aku dapat di rumah sakit. Dia tidak pernah bekerja sebagai perawat di kota ini, Ayah telah dibohongi. Lalu Andry juga tau tentangnya tentang kebusukannya, itu pula yang ingin Andry ungkap kepadamu, namun Andry telah dibunuhnya juga, sekarang aku akan bunuh dia Sera, sekarang juga, sebelum Ayah atau kamu jadi korban dia!!” ucap Tiwi.
Sera terlalu takut untuk membayangkan kejadian dibawah, Tiwi telah turun dengan membawa belati ke bawah, Sera sudah mencoba meyakinkan untuk melaporkan Greis ke polisi, namun Tiwi tidak mau mendengarkan, ”polisi tidak dapat dipercaya, sayang!!, ucap Tiwi. Dan kini Tiwi sedang menuju dapur dimana Greis sedang sibuk dengan persiapan pestanya. Dan Ayah sedang tidak dirumah, Sera merasa sangat dilema dengan ini semua. Akhirnya Sera memutuskan untuk turun dan melihat kejadian dibawah, Sera melihat keadaan yang berubah sepi, kemana mereka semua. Sera perlahan menuju dapur dan melihar bercak darah dilantai, pikirannya entah kemana, dan yang dilihatnya Greis sedang membungkus sesuatu dengan bercak darah. Sera secara tidak sadar berteriak kepada Greis, ”Apa yang kau lakukan, dimana Tiwi, kau apakan Tiwi, kau apakan Andry?” jeritnya pada Greis. Greis hanya diam melihat Sera berteriak, dan Sera tiba-tiba melihat belati Tiwi yang berlumpur ada di samping bak cuci piring, Sera meraih belati itu dan mengacungkannya pada Greis. ”Apa lagi ini, tolong jangan kau hancurkan rumah tanggaku dengan James, dari awal aku tidak setuju kau ada disini, kau masih gila, kau masih tanya tentang Andry dan Tiwi yang jelas-jelas mereka sudah mati!!” ungkapnya.
Mendengar kata-kata itu Sera sontak kaget dan emosinya memuncak, ”mereka mati karenamu, kau memang pelacur!!” makinya pada Greis. Dan tiba-tiba ada tangan mendekap Sera dari belakang dan dilihatnya Greis lari keluar dapur, Sera berteriak namun tangan yang mendekapnya lebih kuat dari dirinya sendiri. Greis kembali beberapa saat kemudian dengan membawa alat suntik di tangannya. Dan Sera mulai terkulai lemas setelah jarum suntik itu menembus kulit tangannya. Dia masih setengah sadar saat tangan kekar itu membaringkannya di atas sofa, dan dia juga sempat mendengar percakapan mereka berdua. ”Terima kasih Pak, iya nanti saya telepon lagi bila saya butuh bantuan, suami saya sedang memanggil dokter untuknya!!” ucap Greis. Dan beberapa saat kemudian Greis datang dengan senyum di wajahnya, mengucapkan sesuatu yang Sera mengerti dengan kondisi yang lemah terkulai, ”Aku mohon kepadamu untuk menjadi anak yang baik, sungguh selama disini kelakuanmu kurang normal, kau sering berbicara sendiri dan tak mau toleran dengan apa yang telah aku dan Ayahmu lakukan” tambah Greis. Sungguh kata-kata tadi membuat Sera muak, dan benar-benar ingin memusnahkan Greis dari hadapannya. Greis sedang ke atas mengambil selimut untuk Sera ketika Sera melihat pisau buah di meja samping sofa, Sera dengan sekuat tenaga menggerakan tangannya untuk mengambil pisau itu, upayanya tampaknya membuahkan hasil, ia berhasil memegang pisau itu, namun pisau itu diambil oleh sosok tangan yang muncul, tangan Greis, dan dikembalikannya pisau itu ke meja. Greis lalu menyelimuti Sera lalu menatap matanya, dan Sera pun tak sadarkan diri, ia tertidur.
Sera terbangun dan melihat Greis sedang duduk membelakanginya di samping telepon, ia sedang bercakap-cakap serius dengan seseorang di telepon. Sera bergegas bangun karena didapatinya tenaganya telah cukup untuk meraih pisau tadi, namun ketika dilihat ternyata pisau itu telah lenyap. Sera dengan tergopoh berdiri dan berjalan kearah dapur, namun ia jatuh lagi dan pingsan. Dia terbangun lagi ketika bau darah menyengat hidungnya, pemandangan pertama yang ia dapati ialah Tiwi sedang berjongkok di sampingnya dengan badan penuh darah, baju putihnya terisi dengan bercak-bercak merah dan itulah asal bau tadi. Tiwi membangunkan Sera yang kaget melihat Tiwi masih hidup, namun Tiwi menangis saat itu juga. ”Maafkan aku, aku telah menjadi seorang pembunuh” katanya dengan air mata yang menetes. Sera segera berdiri dan melihat bekas seretan darah di lantai, ”kau benar-benar membunuh Greis kak?” tanyanya tak percaya.
Sera mengikuti jejak seretan itu, sambil memandangi Tiwi ia berjalan bersama ke luar rumah, menuju tempat sampah di samping jalan depan gudang, tempat dimana jejak seretan itu berhenti, tempat dimana mayat Greis berada, tempat dimana Ayahnya ada di sana dengat raut sesal yang teramat sangat terhadap pemandangan yang ia dapati, Ayah bersama orang lain malam itu, dokter Pram. Sera memandang Tiwi sekali lagi, Tiwi ada disampingnya, tetap seperti tadi dengan bercak darah dan memegang pisau, ”akan aku jelaskan semuanya pada Ayah, dia pasti akan mengerti!!” ucapnya pada Tiwi. Sera berjalan menuju Ayahnya dan dokter Pram berada. ”Ayah, ini tidak seperti yang kau kira, dia pantas mendapatkannya, dia yang membunuh Ibu dan dia membohongi Ayah selama ini dengan berpura-pura menjadi perawat, dia juga yang membunuh Andry Ayah, kami punya buktinya!!” ucap Sera tegas pada Ayahnya. Ayah hanya menangis melihat Sera dan mayat Greis, ”James, biar aku yang bicara,” ucap dokter Pram. ”Sera, pertama-tama letakkan pisau itu dan tenang, semua bisa diatasi. Ada siapa lagi di dalam selain kamu?” tanya dr Pram. ”Pisau, pisau apa, hanya ada kami berdua, aku dengan Tiwi!!” timpalnya dengan memandang Tiwi sekali lagi. ”Sera, kau ini sedang apa, apa yang sedang kau lakukan dengan semua ini? Sera, Tiwi sudah lama meninggal, kakakmu meninggal bersama dengan Ibumu tiga tahun yang lalu!!” jawab Ayahnya tegas. Sera melihat ke arah Tiwi tidak percaya, dan dia terbangun dari khayalnya, dia sadar kini dia memegang pisau itu, pisau yang ia gunakan untuk membunuh Greis, dan pakaian yang dikenakan Tiwi ialah pakaian yang ia kenakan sekarang. Sera lemas dan jatuh tersungkur.
Bayangan-bayangan itu mulai ia ingat lagi, malam itu setelah ia kembali dari kencannya dan ia mendapati Ayahnya dan Greis sedang bermesraan di dapur, ia berlari ke gudang untuk mengambil minyak tanah, dan sebelum meninggalkan gudang, ia membakar sisa minyak tanah digudang itu dan berlari keluar untuk membakar pondok utama. Tanpa ia sadari Andry mengikutinya saat ia kembali dari bukit bersama Andry, dan Andry melihat Sera membakar gudang itu, Andry pula yang menghadang Sera dan memukulnya hingga pingsan agar Sera tidak membakar pondok utama, dan akan berlari ke arah pondok dimana Tiwi dan ibunya berada saat semua terlambat, Pondok meledak karena aliran gas didapur pondok, membawa serta Tiwi dan Ibunya dalam kematian.
Sera tidak mengetahui meninggalnya Tiwi sampai saat kotak itu diberikan oleh Ayahnya saat perjalanan dari rumah sakit. Sera menangis sepanjang perjalanan, karenanya tidak banyak obrolan dengan Ayahnya saat itu, Sera tidak terima dengan meninggalnya Tiwi, karena itu pula terbentuk karakter khayal Tiwi setiap dia melamun, saat dia sendiri, apa yang dilakukan oleh Tiwi, adalah apa yang ia lakukan sendiri, termasuk mendorong jatuh Andry dari atas tebing malam itu, seketika itu ia melihat lengannya, dan ia mendapati luka goresan di kulitnya sama seperti yang ia dapati di mimpinya malam itu. Dia menjadi karakter yang berbeda ketika mengingat tragedi itu, dan tidak terima ketika itu di ungkapkan oleh Andry malam saat ia dibunuh, olehnya sendiri. Sera menangis dan menangis.
”Sera, coba ingat apa yang kamu lakukan tadi, cuma kamu yang ada disini, dan cuma kamu yang bisa melakukan ini, tadi polisi yang mengatakan kamu mengarahkan pisau kepada Greis saat dia datang dan menenangkanmu, dan Ayahmu mendengar jeritan dari telepon yang sebelum terputus, hanya ada suaramu dan suara Greis.” papar dr Pram. Sera hanya diam dan tetap menangis, ”kami sedang mengawasimu Sera, Ayahmu melaporkan saat kau tida disini kau sering berbicara sendiri di danau, di kamarmu saat tengah malam, bahkan saat sedang makan!!” imbuh dr Pram dan mulai mendekati Sera yang tersungkur. Sera kini telah terdiam, dan saat dr Pram membantunya berdiri, Sera hanya tersenyum, senyum penuh misteri.
Dari beberapa film psikologi misteri yang pernah ditonton
Kamar hitam, November 2009