Debat Kusir Bersama Polisi Delman

Posted on
  • Monday, December 28, 2009
  • by
  • Giswa Juanda
  • in
  • Labels:

  • oleh Giswa Juanda
    akubukanmanusiapurba.blogspot.com

    Berdebat dalam dunia nyata kadang kala tak seperti yang dilakukan dalam suatu kompetisi debat dimana ada aturan jelas bahkan moderator yang menengahi. Namun terkadang susah untuk memoderatori diri kita sendiri dalam berdebat dengan orang lain, maunya tiada kalah menghampiri pihak kita. Terlebih apabila mendebatkan sesuatu yang menjadi keyakinan diri sendiri, masing-masing punya keyakinan bahwa diri masing-masing tadi yang paling super duper ekstra ultra benar, susah untuk mengalah. Pernah beberapa kali seperti itu, tapi yang berkesan saat berdebat dengan aparat kepolisian yang lagi tugas buat mengawasi jalannya tertib hukum lalu lintas di kota Sleman, Jogjakarta. Sumbangsih dari pelanggaran yang tidak berat dan cukup enteng yang aku rasa aku tiada berbuat hal yang polisi rasa aku perbuat. Nah ini yang jadi masalah, kedua pihak sama-sama Cuma merasa, jadinya kalau rasanya ada yang hambar tiada nyata yang menunjangnya. Dan judul diatas seharusnya ”Debat Kusir Bersama Polisi Sleman”, bukan Delman, tapi tak apa biar agak tersambung dengan kusirnya, biar kusirnya ada pekerjaan buat mengawasi delman, walau sudah ada polisi, tapi dalam cerita ini polisinya sibuk berdebat dengan diriku, jadi takut kusirnya nganggur, aku ganti Slemannya dengan Delman, begitulah.


    Ceritanya bermula saat sekembalinya aku dengan seorang kawan dari jalan-jalan ke Jogjakarta guna menyegarkan otak dari penat kepanitiaan. Kawan tadi bernama Novi, dilengkapi dengan dua kata sifat lagi di belakangnya, jadi Novi Suci Setia, agak aneh, tapi jadi mudah nebak arti namanya. Novi itu November, Suci itu tiada najis yang menghampiri dan Setia itu tiada perselingkuhan melanda. Jadi arti totalnya kira-kira Gadis yang tanpa najis yang lahir di bulan November dengan harapan tiada perselingkuhan melingkupi hidupnya. Tapi tak tepat juga ternyata, Novi itu bukan dari bulan lahirnya, melainkan dari Novia Kolopaking, artis kesukaan Bunda Ibunya si Novi. Dan ternyata bulan lahirnya sama dengan diriku bahkan tanggal lahirnya pula, itu pula yang menjadikan kami layaknya saudara yang sama tapi beda, dekat dan bersahabat, peduli karena bersaudara, dan kata sifat lain yang nunjukin kalau kami kayak kakak dan adik. Pada intinya aku sedang bertanggung jawab buat menemani dia atas ketidakpulangan dia ke kampung halamannya di Bekasi sana saat liburan semester karena keperluan organisasi, dia sebagai ketua panitia dan aku sebagai sekretarisnya. Jadilah kami pergi bertamasya berkeliling-keliling kota sambil melihat-lihat pemandangan yang ada. Naik motor berdua, jadi bertiga kalau motornya dihitung satu dan kami dua, malah bisa jadi lima kalau ban motornya ditambah dihitung dua. Intinya kami penat dan pingin ke Jogja buat liburan.

    Berangkat hari Senin pagi dengan sedikit air menetes-netes dari langit di beberapa kota yang kami lewati dan hinggap di kota Jogja sebelum siang hari dan berputar-putar sebentar disana. Kira-kira saat matahari condong 130 derajat ke barat, saat itulah kami memutuskan untuk pulang, namun dengan arah yang berbeda dengan berangkat tadi, penginnya lewat Wonosobo dan sekitarnya, sunah Rosul katanya untuk mengambil jalan yang berbeda saat berangkat juga pulang dari beribadah. Dan aku anggap ini sebagai ibadah, ibadah dengan menyenangkan orang lain dan diri sendiri, juga menuntut ilmu bersama-sama bisa disebut ibadah. Intinya justru ini awal mula pertemuanku dengan si Petugas Polisi yang sukanya merasa saja.

    Di jalan Magelang (nama jalan di Sleman, masih Jogja, bukan Magelang) saat itu kurasa spedometer motorku menunjuk aku berada pada kecepatan 50km/jam, dan bertambah cepat karena hari mulai sore dan hujan mulai menetes. Di beberapa traffic light aku mempercepat diri agar tiada macet menjebakku, juga dukungan dari si Novi yang menyuruh aku agar cepat melintas lampu hijau biar tidak jadi kuning, dan cepet melintas lampu kuning biar tidak jadi merah. ”Jun, cepetan tuh lagi ijo, ayo terobos cepet!” kata Novi yang entah itu menyindir karena aku ngebut atau memang murni memberi dukungan. Hal itu di ucapkan beberapa kali pada beberapa traffic light yang kami lewati, hingga yang terakhir kami harus di stop oleh bapak polisi yang memakai motor lanangnya yang katanya biasa dipakai guna mengejar motor-motor balap. Kami di stop setelah kira-kira hampir satu kilometer dari traffic light terakhir. Jadi merasa gimana gitu dikejar polisi ampe segitunya, jadi merasa penting aja. Pertama kali aku lihat tuh polisi justru agak aneh, gayanya meminggirkan kami seperti gaya orang senam, tangan ke atas lalu muka ke samping, dan diulang-ulang terus sampai kami paham harus berbuat apa untuk polisi tadi, ”minggir mas, stop donk, cape nih tangannya gerak-gerak mulu nyetop sampean,” kira-kira begitu sepertinya hati si Polisi tadi.

    ”Selamat sore Pak, bisa lihat surat-suratnya?” pinta polisi. Wah pertama kali aja sudah bikin miss persepsi gini, pertama tentang sapaan, masih muda kok ya dipanggil Pak, mentang-mentang aku boncengin Ibu-ibu dikiranya kali, Maaf Nov. Yang kedua, nyuruh ngeluarin surat-surat lagi, gak jelas pula surat apa gitu ngomongnya, kalau aku keluarin surat proposal dana kegiatan organisasi aku gimana coba dia, mana mau dia ngasih dana. Tapi berhubung aku pernah beberapa kali seperti ini jadi pahamlah aku. ”Sore Pak, surat ya, bentar ya, ribet pak, sabar ya!!” jawabku sambil buka-buka jaket buat ambil dompet lalu buka-buka dompet guna nyari surat-surat. ”Oh ini pak, ini SIMnya, ini STNKnya, ini motornya!!” kataku sembari memilah-milah jenis suratnya. Setelah beberapa saat diperhatikannya surat-surat aku, dia lalu berkata ”Saudara tahu apa kesalahan saudara?” tanyanya. Seperti nya familiar kayak di sinetron-sinetron, tadinya mau aku jawab ”kesalahannya ya gara-gara ketemu bapak!!”, tapi berhubung saya lapar dan itu gak ada hubungannya, jadi biasa aja jawabnya. ”gak tahu tuh pak!” jawabku. ”kalau begitu ikut saya ke kantor, di sebelah taman tadi di perempatan sana!!” pintanya. ”Kok gitu pak, ngapain harus ke sana, sini aja pak!!” protesku. ”Nanti saya jelaskan disana!!” jawabnya lagi. Gaya bicaranya seperti emosi dan kurang bisa berinteraksi, kaku gitu. Namun karena hujan sudah datang, jadi kami mau ikut ke kantor.

    Di jalan aku mikir, mang aku salah apaan ya, menghamili anak orang kah, pipis sembarangan kah, bawa kabur anak orang kah, atau tersangka kasus bom kah. Apapun itu, Novi jadi khawatir saat itu. ”mang kita salah apaan Jun?” tanya novi padaku. ”gak tau syirik kali dia sama kita!!” jawabku. Dan aku terus berpikir sampe ke kantor tadi mau ngapain dan di apain kira-kira. Kantornya ada di samping taman di perempatan jalan Magelang, mungkin lebih tepatnya disebut pos polisi walau lebih luas dari pos-pos jaga biasa yang bisa ditemui di jalan-jalan umum kota, tapi ada beberapa ruangan dan kami dibawa ke ruangan bagian belakang guna menemui polisi yang lainnya. Total ada dua polisi yang ada di pos tersebut, yang satu polisi yang mengejar kami dan yang satu polisi yang menunggu dan sepertinya akan menginterogasi kami.


    ”Mas Juanda ya, darimana mau kemana?” tanya polisi satunya yang selanjutnya kita sebut Polisi 2, baru masuk setelah kami menunggu lama di ruangan belakang, ruang khusus interogasi sepertinya, agak gelap dan surat-surat tilang ada di atas meja, suatu tatanan untuk ngasih efek psikologi gimana gitu. Sambil berjabat tangan maunya aku jawab ”daritadi pak, mau pergi dari hadapan bapak sepertinya!!” tapi takut menyinggung dan sepertinya akan menyinggung, jadi aku jawab biasa saja. ”Dari Jogja mau balik ke Purwokerto Pak!!” terangku pendek. ”loh, bapak yang tadi ngejar kami mana Pa, kok jadi Bapak yang di sini?” tanyaku pada Polisi 2 tadi. ”sedang bertugas, jadi saya yang menggantikan!” jawabnya. Kalau dilihat dari tatanan geografis mukanya sih sepertinya Polisi 2 ini lebih tenang dan pandai berbicara dari pada Polisi 1 yang terlihat kaku dan serem. ”Jadi kami salah apa nih pa’, kok sampe dibawa kantor segala?” tanyaku. ”Jadi kalian belum tahu kesalahan kalian apa?” tanya dia balik. ”Dari tadi kami tanya ke petugas yang satunya tapi gak dijawab, sekarang ditanya balik lagi, kelengkapan surat sudah ada, kelengkapan motor sudah dicek pula, nerobos lampu merah juga enggak, ngebut juga enggak Pa’!!” terangku. ”Seperti ini Mas Juanda, jadi dari arah kota tadi saudara ngebut nerobos lampu merah, jadi saudara melanggar ketentuan undang-undang dan dikenai sanksi administratif untuk itu!!” terangnya. Sempat nengok ke Novi aku buat liat ekspresi dia, tapi keliatannya tenang-tenang aja dia. ”Maaf yah Pa, tapi sungguh tadi saya sama sekali gak merasa melanggar lampu merah, Nov, tadi waktu kita lewat lampunya apa?” jawab dan tanyaku pada Novi. ””Ijo!!” jawab Novi singkat. ”Nah tuh Pa, tadi masih Ijo kok, sungguh Pa’, juga kami jalan bareng sama kendaraan yang lain, kalau kami salah, kenapa motor dan mobil yang lain gak di kejar juga, kenapa Cuma kami coba?” tanyaku lagi. Bapak polisi jadi terlihat emosi gara-gara mendengar pembelaanku barusan, ronanya berubah dari manis ke hambar.

    Hujan pun semakin deras, nambah suasana jadi makin tegang, nambah angin makin kenceng, juga nambah petugasnya makin emosi dengan senyum simpul palsu yang kentara dibuat-buat biar tegangnya tak terasa. ”Gini Mas Juanda, tadi itu saudara tidak merasa melanggar, tapi kami melihat sendiri saudara menerobos lampu merah dan terus ngebut, tadi itu hanya perasaan dari kalian saja, sekarang tetap kalian akan dikenai sanksi administratif, bisa tiga pilihan, kalian sidang atau membayar sendiri, kalian asalnya mana?” tanya belanya. ”Justru itu Pa’, kalau kami Cuma merasa, bapak juga dong, Bapak Cuma merasa kami yang salah, trus kendaraan yang lain kok tidak diproses seperti kami, lagian bapak tidak punya bukti kalau kami melanggar lampu merah tadi, saya juga bisa bilang kalau Cuma liat aja!!” sergahku langsung. Polisi 2 nya jadi terlihat benar-benar kesel sekarang, dia langsung nulis surat tilang. ”Oke, berhubung tadi saudara merasa tidak melanggar, jadi saya kasih surat yang merah dan bisa dibawa waktu sidang hari Jumat nanti!!” tanggapnya dengan sedikit emosi dengan penekanan pada kat melanggar. ”Loh kok bisa gitu Pa’, katanya tadi ada tiga opsi, sih gimana, lagian hari Jumat kami nanti mudik Pa’, dan harus bolak-balik Purwokerto Jogja donk Pa, sekarang sanksi yang lain apa deh Pa?” tanyaku. ”Loh, tadi bukannya saudara yang bilang tidak merasa, nah nanti waktu sidang hari Jumat baru saudara bisa melakukan pembelaan di depan pengadilan,” terangnya. ”Bapak, saya pernah seperti itu dulu, tapi nyatanya Cuma setor dan itu pun hakimnya gak dateng pa, mau pembelaan kayak apa coba!! Trus alternatif yang lain apa Pa, kan katanya tadi ada tiga opsi!!” tanyaku lagi. ”Saya pastikan disini tidak seperti itu, kalau seperti itu, saya yang kasih jaminan, kamu balik ke sini lagi setelah sidang dan saya kasih kamu uang sepuluh kali lipat dari uang denda kamu!!” katanya. Wah, tawaran yang menarik, tapi tetap saja tidak menjawab pertannyaanku tadi, tapi kalau di hitung bisa sampe 300 rb kalau dendanya 30rb, tapi gak efektif pikirku lagi, masa harus bolak-balik Jogja sih. ”Saya masih belum yakin Pa’, saya mau tahu dulu opsi yang lain apa deh Pa’!!” pintaku lagi. ”Saya yang hadir sendiri kalau gitu, duduk di belakang saudara kalau saudara gak yakin. Sebenarnya kalau tadi saudara ngaku, saya kasih surat yang biru untuk di setorkan di BRI kantor cabang daerah saudara, atau BRI Jogjakarta, tapi kan tadi saudara sendiri yang bilang merasa tidak melanggar, jadi saya kasih surat yang warna merah buat dipengadilan dan saudara bisa membela diri disana!!” terangnya lagi. ”Gak bisa gitu donk Pa, kita milih yang bayar di kantor cabang Purwokerto aja Pa’!!” tiba-tiba Novi angkat bicara, agak emosi juga dia. ”Nah tuh Pa’ temen saya mau mudik, jadi gitu dia, kasihan kan Pa, kita milih yang opsi bayar di BRI aja Pa’, biar deh gak ada bela-belaan, asal efektif Pa’, lagian Bapak yang nawarin opsi tadi, eh sekarang mau main mutusin sendiri, saya yakin gak ada aturannya kaya gitu!!” sanggahku.

    Kalau kalian kira aku emosi, justru sebaliknya, aku sangat bersemangat malah, kalau kata orang-orang muka aku menyebalkan, jadi merasa terintimidasi kalau bicara sama aku, Novi yang sering ngomong gitu, mukanya dibodoh-bodohin kayak muka anak TK yang gak tau apa-apa, tapi songong jadi bikin kesel. Mungkin itu pula yang sedang dirasakan oleh Bapak petugas ini, sabar Pa, gak tiap hari kok. Sepertinya opsi Cuma sekedar opsi, ujung-ujungnya kami harus sidang dengan alasan teknis. ”Untuk pembayaran di BRI bisa dilakukan mulai minggu depan tapi hanya untuk kantor pusat di Semarang dan cabang Sleman, untuk Purwokerto belum bisa!!” terangnya lagi. Uh, bapak memang jago ngeles nih, sini ngajarin adik aku pelajaran biologi, bagaimana cara membelah diri biar jadi banyak dan bisa kabur dari Bapak. ”Kok bisa gitu Pa, wah agak jauh juga kalau harus ke Semarang, trus BRI sama PN Sleman dimana Pa?” tanyaku. ”Kalau kantor BRI kalian tadi sudah lewat waktu jalan dari kota, kalau PN ada di selatan pos ini, saudara Juanda silahkan tanda tangan disini!!” terangnya sembari menyodorkan kertas tilang dan bolpen. ”Nanti dulu Pa’ kan belum ada kesepakatan, saya masih mau nanya lagi nih Pa’, jadi kalau bayar itu waktunya mulai minggu depan kan, tapi kalau sidang waktunya Jumat ini, trus opsi yang bayar di BRI Purwokerto gak bisa?” tegasku lagi. ”Betul, nanti saya kasih alamat PN dan nomor telfonnya!!” imbuhnya. ”Ah, bapak nih dari tadi mengarahkan ke sidang melulu, tapi gakpapa dari pada minggu depan udah mulai sibuk ngurus tugas-tugas panitia lagi, nah, tapi kesepakatan tadi gimana Pa’, yang sepuluh kali lipat?” tekanku lagi. ”Kalau misalkan nanti datang saudara Cuma setor saja tanpa sidang dan tanpa bisa melakukan pembelaan, saya yang bayar denda saudara ditambah sepuluh kali lipat dari denda buat saudara pulang, kalau perlu buat ongkos jalan-jalan lagi ke Jogja!!” tegasnya. ”Bener yah Pa!! Oh ya belum kenalan Pa!!” tanggapku sembari berkenalan dan sebut saja nama petugas tadi itu Joko, bukan nama sebenarnya. Dan hujan tetap deras, kira-kira udah beberapa waktu disana. Dan kami tetap ngobrol, antai malah, sempat beberapa introspeksi mampir ke diriku sebagai saran dari petugas tadi.

    ”Trus kalau ternyata yang saudara takuti itu tidak terjadi lalu buat saya apa, kalau saya tadi berani sepuluh kali lipat, saudara berani berapa?”tantangnya. ”Wah, kalau masalah duit mah gak bisa banyak-banyak, lagian kan yang nawarin tadi Bapak, namanya juga mahasiswa, kadang banyak surut daripada pasangnya Pa’, tapi nanti kalau mau satu mangkok bakso bisa deh Pa’, itung-itung buat saling kenal!!” jawabku. Kalau dipikir jauh juga perbandingannya, satu mangkok lima ribu perak dibandingin dengan duit 300rb sebagai taruhan, tapi itu resiko dia yang mau meyakinkan kalau proses penegakan hukum di daerahnya betul-betul tegak, tak letoy, tak miring dan tak amblas. Pembicaraan berlanjut, saling menanyakan asal dan daerah kami, lalu ke kenyataan kalau kami sama-sama mahasiswa namun berbeda perguruan, tapi juga sama-sama ambil jurusan Hukum, aku semester tiga dan dia semester tujuh. Dan masuk ke sesi konseling sekarang. ”Kamu termasuk cerdas, tapi kadang sok menggurui orang lain, kayak tadi saya agak emosi juga, dan kamu ati-atilah, kamu bukan orang asli Jawa kan, kamu orang luar (dari Ternate maksudnya), harus pintar-pintar menempatkan diri kamu itu!!” tegurnya. ”Begitu ya Pa’, tapi saya sudah lebih dari 13 tahun di Jawa kok Pa’, lagian tadi kan Cuma kepengen tau yang bener tuh kaya apa, kan gak berarti kita harus nerima gitu aja kan Pa’!!” tanggapku. ”Tapi saya salut sama Bapak, biasanya kalau di daerah lain ada uang di tempat pa, langsung bayar gitu, tapi tadi Bapak gak gitu!!” imbuhku. ”Wah, gak bisa disamain semua daerah kaya gitu, itu oknum itu, agak susah buat dibenahi seluruhnya, tapi di Sleman hukum selalu terjamin!!” promosinya lalu.

    Percakapan berakhir karena hujan agak reda dan kesepakatan didapat, yakni untuk aku pergi ke PN Jumat nanti tanpa Novi yang katanya mau mudik itu. Dan pulang lah kami ke tempat kakakku di Temanggung untuk menginap lalu baru pulang ke Purwokerto esok harinya. ”Kamu loh Jun, Polisi buat mainan, liat mukanya donk tadi!!” tangapan Novi sambil kita balik. ”Muka siapa nih muka aku apa muka dia?” tanyaku. ”Kalian berdua, yang satu mukanya dibodoh-bodohin, jadi ngeselin, yang satu emosinya kliatan banget,” katanya. ”Oh..” jawabku.

    Dua hari setelah kami balik, Kamisnya aku dan kawanku yang juga saudaraku berangkat lagi ke Jogja guna mengikuti persidangan. Kami menginap dulu di rumah paman di Jogja sana, dan ketika sampai kabar perihal ditilangnya diriku oleh petugas Sleman kemarin Senin, spontan pamanku ingin menuntaskan masalah tadi dengan jalan lobi-lobi. ”Loh, kenapa kemarin gak telpon waktu masih di Jalan Magelang, jadi Om bisa langsung ke sana!!” ujar Pamanku. Sebenarnya itu sudah terpikir, namun alasan yang pertama kenapa aku menolak yakni waktu itu aku sedang bersama Novi, agak tidak tidak enak membawanya serta ke tempat Pamanku, yang kedua aku tidak mampir ke rumah pamanku itu waktu seharian di Jogja, jadilah nanti dikira sombong, walau sekarang akhirnya mau tidak mau aku menginap ditempatnya. ”Lah, ntar malah ngrepotin, An pikir juga bisa langsung kelar kok Om, tapi polisinya ngotot minta sidang aja, yaudah gakpapa, rak ben dina kok (gak tiap hari kok)!!” tanggapku. ”Yaudah, siapa nama polisinya, tak telpon Kapolresnya!!” ujar Pamanku. ”Wah mboten Om lah, sampun janji kok kalih Polisine, wonten taruhanne, hehe,” ujarku menolak, Gak usah Om, dah ada janji kok sama polisinya, ada taruhannya juga, hehe. Pamanku memang punya relasi yang cukup deras di Jogja sana karena pernah menjadi penasehat spiritual Sultan Jogja jadi cukup dikenal juga, tapi akupun tidak terlalu dekat dengannya jadi agak segan juga. Dan Cuma numpangnya kami makan waktu sehari sampai esok paginya kami berangkat ke Sleman untuk sidang dan langsung pulang ke Purwokerto.

    Sampai di PN dengan melewati Pos terlebih dahulu, tak kulihat si Pa’ Joko, petugas yang menilangku ada di sana, jadi aku pikir dia udah ada di PN. Sesampainya disana sempat nunggu lama juga kaminya, hari Jumat, hari dimana biasanya pada pegawai melakukan olahraga bersama, jadi sejumlah orang yang bernasib sama denganku alhasil menunggu sampai para petugas tadi pada selesai senam, mulurlah waktu hingga satu jam. Dan yang sedikit membuat kecewa, memang tiada pembelaan, karena begitulah konsepnya. Beberapa orang sebelum aku sempat protes sebelum saat dipanggil hakim yang hanya memakai baju training, maaf, ternyata bukan hanya hakim, tapi semua petugas disana. Jadi terkesan tidaklah penting kami-kami ini. Hasilnya tetaplah sama seperti sebelum-sebelumnya hanya setor saja. Dan malas mau melakukan protes, baik ke PN maupun ke si Joko tadi, selain karena tidak datangnya dia seperti yang ia janjikan, juga tidak adanya dia di Pos jaganya.

    Pak Joko, Pak Joko, Petugas yang naik delman dan duduk di muka, mengendarai kuda supaya baik jalannya. Lebih pantas jadi Kusir, Pak, Pak!!

    Purwokerto, 081209







    0 comments:

    Post a Comment

     
    Copyright (c) 2010 Blogger templates by Bloggermint
    Sponsored by : Kaskus Lookup