Hiburan sebagai Topeng

Posted on
  • Thursday, November 12, 2009
  • by
  • Giswa Juanda
  • in
  • Labels:


  • Kebutuhan akan hiburan bagi sisi rohani, bagaikan kebutuhan akan pangan bagi sisi jasmani manusia. Keduanya menjadi hal yang primer dan tak terganti dengan suplai kehidupan lainnya. Tetapi terkadang hiburan dijadikan kedok bagi tindakan yang sebenarnya dapat diklasifikasikan sebadai tindakan yang bertentangan dengan asusila, moral, bahkan hukum.”

    Tiap aspek kehidupan tak elak manusia membutuhkan sesuatu untuk mengimbangi penat rutinitas mereka, kebutuhan akan tawa, rasa riang, serta rileks, semua berorientasi pada kepuasan rohani mereka. Untuk itulah mereka mencari sesuatu yang bersifat entertain, menghibur jiwa mereka. Berbagai hal dapat dijadikan sebagai alat pemuas akan hiburan seperti musik, olahraga, games, serta berbagai hal lain. Tak heran tiap individu memiliki
    preferensi tersendiri sebagai hiburan mereka, dengan kata lain hiburan merupakan sesuatu yang relatif bagi tiap individu. Hiburan pun dapat menjadi parameter strata sosial, mungkin bagi kaum papa, traveling ke luar negeri, permainan Golf, karaoke di RestoCafe mahal merupakan hal yang hanya mampu mereka jamah di alam mimpi, tapi bagi kaum borjuis hal itu lumrah dan teramat murah.

    Kini tilik fenomena masyarakat yang mengatasnamakan hiburan pada kegiatan yang kerap disebut Penyakit Masyarakat, yaitu gambling. Gambling atau Judi yang kata Rhoma Irama merusak keimanan ternyata efektif sebagai obat penat bagi masyarakat. Lihat saja dari berbagai kemasan yang mampu diciptakan oleh masyarakat dan dicap dengan label Hiburan. Dari sabung ayam hingga permainan kelas kasino, dari yang bermodal receh hingga emas batangan, semua kian diminati masyarakat dari berbagai kalangan. Bahkan dunia maya pun kian memberi berbagai akses ke permainan ini. Kotor dan menyedihkan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hal yang tersirat dari Judi sabung ayam bahkan pada level yang lebih tinggi, judi gulat manusia. Kita terhibur melihat kekerasan dan menilai itu dengan nominal uang, betapa rendah martabat manusia saat itu, dan atas nama hiburan semua menjadi legal dipertontonkan dan disandingkan demi kepuasan segelintir manusia.

    Judi merupakan tindakan yang menaruhkan resiko atas harta bendanya pada hasil akhir yang tak pasti. Pada taraf hiburan, hal ini tidak signifikan menguras ekonomi seseorang karena hanya sekedar mengisi waktu, tetapi sifat addicted (candu) dari permainan ini mampu menghipnotis manusia untuk mengubah preferensi dari permainan menjadi mata pencaharian. Seperti drugs, seseorang akan kecanduan untuk terus mengambil resiko kehilangan harta bendanya hingga ia menang. Dipadukan dengan sifat ego manusia yang tidak pernah merasa puas dan selalu ingin lebih, mereka terus bertaruh. Permasalahan muncul apabila mereka telah kecanduan dan tidak memiliki apapun untuk dipertaruhkan, mereka akan mencari dan terus mecari bahkan bukan harta miliknya, dengan kata lain mencuri atau merampok. Inilah mengapa Judi disebut sebagai penyakit manyarakat, karena akibat yang ditimbulkan setelahnya mengarah pada tindak kriminal. Walau seperti itu, nama hiburan tetap kental sebagai topeng yang menutupi belang dari penyakit masyarakat ini.

    Pada kasus lainnya, hiburan kerap kali digunakan sebagai kedok untuk menghadirkan tontonan asusila di hadapan publik. Dengan dalih meng-entertain masyarakat, mereka menampilkan goyangan dengan penampilan yang membutakan mata, jelas imbasnya pada sisi moral masyarakat yang terkontaminasi. Lebih berani lagi, café-café remang di beberapa daerah menyajkan hiburan yang benar-benar menggiurkan namun merusak, pijat plus-plus, karaoke striptease dan layanan kencan misalnya. Kini memang keinginan akan hiburan yang terimajinasikan oleh seseorang kian berbanding terbalik dengan norma dalam masyarakat. Maka itulah peran akal serta pikiran difungsikan, sebagai penyaring segala tindakan agar sesuai dengan apa yang disepakati, bukan apa yang diinginkan.

    Sekarang semua kembali pada kita sebagai penentu hal yang pantas atau tidak yang akan kita tetapkan sebagai penghibur diri. Sempurnakan apa yang kita anggap kurang, bukan mengurangi yang telah sempurna.

    Lets perfect what cannabe perfected!! Mampu gak ya!!!!

    0 comments:

    Post a Comment

     
    Copyright (c) 2010 Blogger templates by Bloggermint
    Sponsored by : Kaskus Lookup