Pers Mahasiswa

Posted on
  • Saturday, December 5, 2009
  • by
  • Giswa Juanda
  • in
  • Labels:

  • oleh Giswa Juanda 
    akubukanmanusiapurba

    Adalah sebuah kewajiban untuk mengetahui perihal tentang sesuatu yang akan kita kecimpungi nantinya, dalam hal ini ketika kita memilih untuk terjun dalam dunia jurnalistik dengan batasan kita sebagai mahasiswa, maka kita perlu mengetahui perihal mengenai pers kampus itu sendiri, khususnya pers mahasiswa. Di Indonesia, pers kampus ataupun pers mahasiswa cenderung sama hanya saja untuk aktivitas yang sedang kita bicarakan kali ini lebih di tekankan dengan penyebutan pers mahasiswa (persma), mengingat beberapa kalangan memandang pers kampus lebih luas cakupannya daripada pers mahasiswa, seperti kegiatan penerbitan penelitian ilmiah baik itu penelitian mahasiswa atau dosen, penerbitan buku panduan universitas, dan kegiatan penerbitan atau percetakan yang pada umumnya pers mahasiswa tidak lakukan.

    Lalu apa itu Pers Mahasiswa?

    Pers mahasiswa merupakan segmen kecil dari keseluruhan segmen pers nasional. Yang menjadi batasan ialah segala kegiatan jurnalistik dan pers yang dilakukan oleh mahasiswa, dan batasan tadi bukanlah merupakan
    suatu parameter baku pendefinisian suatu pers mahasiswa, namun pada kenyataannya itulah yang kerap digunakan. Selanjutnya kita akan menggunakan istilah pers umum untuk menyebut pers diluar pers mahasiswa yang jelas terdapat perbedaan, dan pada hakekatnya segala asas dan ilmu dasar dari pers mahasiswa itu sendiri berakar dari pers umum. Artinya segala aturan, konsep dasar, prinsip serta wawasan pers umum merupakan acuan bagi pers mahasiswa dalam kegiatannya.

    Lalu apa yang membedakan pers umum dengan pers mahasiswa?

    Apabila melihat dari fungsi pers yang disebutkan pada undang-undang, pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial, disamping fungsi-fungsi tersebut, pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Namun pada pers mahasiswa fungsi lembaga ekonomi sulit dan bahkan tidak mungkin dimasukkan didalamnya. Hal ini dikarenakan pers mahasiswa bukanlah suatu lembaga yang bertujuan mencari keuntungan (provit oriented) namun sebuah organisasi mahasiswa yang digerakkan oleh idealisme masing-masing anggotanya guna mengembangkan bakat jurnalistik mereka, artinya pers mahasiswa juga mementingkan proses bagaimana anggotanya dapat berkembang, dan itulah nature dari suatu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), suatu wadah pengembangan talenta mahasiswa. Dengan demikian berimbas pada pers mahasiswa bukanlah lembaga profesional yang mementingkan hasil semata, namun ada hal lain yang lebih diprioritaskan oleh mahasiswa itu sendiri yakni studi mereka.

    Pers mahasiswa sebagai media alternatif. Terkait dengan fungsi pers mahasiswa diatas, dan lepasnya persma sebagai lembaga keuangan, maka persma dapat dikatakan memiliki kekhususannya sendiri dalam pemberitaannya, yakni sebagai media alternatif. Pers mahasiswa dapat memberitakan segala hal yang tidak diberitakan oleh pers umum, hal yang mendasar dari imbas kapitalis keuangan yang mengakibatkan pers umum menjadi tidak objektif karena adanya keberpihakan kepada pemilik modal semata. Kasarnya dapat dikatakan bahwa berita kini dapat dibeli, fakta dapat disiasati dengan modal. Walau tidak secara langsung, namun ketika pers umum hanya mengedepankan hiburan semata karena itu yang dianggap sebagai sasaran pasar dan meninggalkan suatu objektifitas. Pada pers mahasiswa hal demikian sangatlah jarang, ini merupakan hasil dari idealisme yang diusung oleh persma itu sendiri, yang membuat ia tetap konsisten untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa dan lebih dari itu yakni aspirasi masyarakat umum.

    Kekhususan tadilah yang membuat persma mempunyai taring dan merupakan senjata yang ampuh saat masa sebelum kemerdekaan hingga masa orde baru. Idealisme dan perubahan yang dibawa sangat signifikan untuk menumbangkan suatu rezim pemerintahan sekalipun. Saat pers-pers umum mati suri karena pemberangusan oleh pemerintah, mahasiswa tetap meneriakan keadilan dan dikukuhkan dalam tulisan-tulisan kritis yang lalu dipublikasikan melalui media kampus. Oleh karenanya, persma sangat lekat dengan fungsi pergerakan mahasiswa dan bagai dua sisi mata uang, dimana ada persma, disitu ada pergerakan mahasiswa. Namun, konsep tersebut sangat gaung pada masa orde baru dan sebelumnya, sekarang pasca reformasi ketika media telah sangat bebas, apakah fungsi pergerakan pada persma masih diperlukan?

    Jawaban dari pertanyaan diatas tentunya melihat sejauh mana ketidakadilan itu eksis dalam suatu lembaga pendidikan sehingga menimbulkan suatu reaksi massa dan memancing adanya suatu pergerakan untuk mengatasi ketidakadilan itu. Dan sudah tentu fungsi itu masih sangat diperlukan, ketidakadilan tetap ada dan terjadi sekalipun pada lingkup kampus sekalipun. Kampus dapat diibaratkan sebagai negara dalam lingkup kecil, terdapat pemerintah dan rakyat didalamnya, yakni birokrat dan mahasiswa. Dan fungsi pergerakan sangat efektif sebagai upaya check and balance antara kewajiban dan hak masing-masing pihak. Agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dalam penentuan kebijakan.

    Sekarang, dalam situasi kebebasan pers yang sangat terbuka seharusnya pers mahasiswa harus memainkan peran yang berbeda dengan pers umum. Hal ini menjadi penting agar supaya pers mahasiswa punya warna dan citra tersendiri. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian adalah tentang isi, yang harus berbeda dengan pers umum. Misalnya, pokok utama adalah tentang dunia pendidikan dan minimal wilayah kampus masing-masing menjadi obyek pemberitaan.
    Karakteristik Pers Mahasiswa

    Karena lahir dari mahasiswa, dikelola oleh mahasiswa, dan target utama pembacanya mahasiswa juga, maka karakteristik utama Pers Kampus yang tertuang dalam visi, misi, dan isinya ditujukan untuk kepentingan mahasiswa juga atau seluruh sivitas akademika, dan tidak diarahkan menjadi pers umum. Profil mahasiswa sebagai kaum intelektual harus tercermin dalam Pers Kampus, yakni ilmiah, objektif, rasional, kritis, dan tidak menjadi media gosip semata tanpa adanya data yang valid dalam pemberitaannya.

    Pers Kampus juga harus mampu mencerminkan sosok mahasiswa sebagai agent of change yang independen, bebas dari kepentingan pihak-pihak tertentu dan tetap berada pada keberpihakan pada kepentingan mahasiswa. Karakteristik ideal sebuah Persma yang dikemukakan oleh William L. Rivers, pakar jurnalistik dari Universitas Stanford, sebagaimana dikutip Assegaf (1985:104),yaitu:

    1. Harus mengikuti pendekatan jurnalistik yang serius
    2. Harus berisikan kejadian-kejadian yang bernilai berita bagi lembaga dan kehidupannya
    3. Harus menjadi wadah bagi penyaluran ekspresi mahasiswa
    4. Haruslah mampu menjadi pers yang diperlukan oleh komunitas kampusnya
    5. Tidak boleh menjadi alat klik atau permainan yang memuaskan kelompok kecil di kampus
    6. Harus dapat memenuhi fungsinya sebagai media komunikasi

    Dengan demikian terkait dengan karakteristik yang telah disampaikan diatas, maka Persma haruslah mampu menarik perhatian mahasiswa sebagai target pembacanya agar dapat dikatakan bahwa persma tersebut berguna dan dibutuhkan. Untuk itu persma haruslah pintar menempatkan diri ditengah idealisme dan kebutuhan mahasiswa, jangan sampai saling mengalahkan, ketika persma mementingkan idealisme, maka pemberitaan mengenai hal yang menjadi kebutuhan mahasiswa dilupakan, begitu pula sebaliknya. Yang berimbas pada anggapan bahwa persma ada hanya untuk pengurus atau anggotanya semata tanpa mementingkan lingkungan dimana persma tersebut berada.

    Tantangan Persma masa kini

    Apabila yang telah kita bahas diatas merupakan kondisi ideal dari bagaimana seharusnya pers mahasiswa itu digerakan, sekarang mari kita tilik kondisi persma pada masa kini. Dan dari beberapa keadaan yang terjadi di beberapa persma, terlihat beberapa kendala dalam perputaran organisasi itu, antara lain:

     Faktor eksternal

    Minat baca, faktor ini senantiasa mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat kampus, sehingga pengelola pers mahasiswa harus berfikir ulang tentang orientasi persnya. Pragmatisme dan hedonisme hari ini bukan monopoli masyarakat borjuis dan tak berpendidikan, tetapi juga para mahasiswa dan mungkin sebagian dosennya. Pengaruh ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap media baca yang diminati mahasiswa. Walaupun tentu saja perubahan minat baca inipun masih dianggap lumayan dibanding dengan menurunnya minat baca mahasiswa karena lebih tertarik untuk belanja dan memanjakan diri.

     Faktor internal

    Dana, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa pers mahasiswa sesungguhnya berada pada sebuah Negara kecil sehingga sangat tergantung kepada kebijakan pimpinan "negara" itu, hingga segala sesuatu yang ada di dalamnya. tingkat ketergantungan pers mahasiswa terhadap rektorat biasanya begitu tinggi, sebab anggaran penerbitan menjadi bagian dari beban rektorat. Pada satu sisi, system pendanaaan seperti ini tentu saja plus minus, plusnya tidak usah mencari dana dari luar, sedangkan minusnya, tidak memiliki tingkat independensi, sehingga pada sisi idealisme persma itu sendiri bisa berkurang bahkan teralihkan, dan pada sisi teknis penerbitan, hal ini sangat tergantung pada kebijakan pengeluaran dana tadi dari birokrat. Sekarang dengan adanya pergantian konsep keuangan beberapa universitas di Indonesia, berganti pula kebijakan pengeluaran dana mahasiswa khususnya untuk penerbitan produk persma, karenanya hal ini sangat menyulitkan bagi proses pencapaian fungsi dari pers itu sendiri. Mensiasati hal tersebut tidaklah mudah, persma dituntut untuk lebih mandiri dan memaksimalkan kinerja dari salah satu divisi yang pada umumnya di kalangan persma bertugas untuk mencari pembiayaan produk yaitu perusahaan.

    Profesionalisme, sebagai pers yang mengharapkan partisipasi mahasiswa, pers kampus akan menemukan beberapa kendala pada sisi kualitas dan kuantitas. Mereka biasanya kalau tidak bekerja separuh waktu, juga terancam oleh hilangnya para pengelola di tengah jalan karena habis masa kuliah. Pergantian SDM yang terlalu cepat, akan mengakibatkan kepada kualitas dan profesionalisme pers kampus.

    Pada prinsipnya, pers mahasiswa harus tetap mempertahankan kehadirannya sebagai bagian dari alternatif bacaan mahasiswa dengan coraknya yang khas. Dengan mengambil segmentasi mahasiswa, sesungguhnya pers mahasiswa sudah dapat menemukan sebuah pasar yang khas dan tidak dimiliki pers secara umum. Tingkat pendidikan yang tinggi bagi segmen pers mahasiswa adalah nilai plus yang harus dibaca sebagai modal awal untuk menentukan visi media tersebut. Nilai alternatif ini akan semakin kokoh jika para insan pers mahasiswa tidak mudah tergiur oleh konten media secara umum. Nilai alternatif pers kampus juga harus dipandang sebagai bentuk sarana mahasiswa untuk melakukan sebuah perubahan sosial sesuai den gan fungsi mahasiswa itu sendiri yaitu sebagai agen perubahan sosial (agen of social change). Sedangkan untuk melakukan sebuah perubahan sosial, dibutuhkan sebuah amunisi, dan amunisi paling penting bagi mahasiswa adalah idealisme dan intelektualisme transformatif.

    Kini, mampukah kita menjaga fungsi persma dengan tantangan yang ada??

    -------------- GJ --------------





    0 comments:

    Post a Comment

     
    Copyright (c) 2010 Blogger templates by Bloggermint
    Sponsored by : Kaskus Lookup