Saat ini dunia teknologi sedang ramai membicarakan game Pokemon Go besutan Niantic dan Pokemon Corp. Game baru yang berbasis augmented reality digabungkan dengan geotagging GPS tersebut begitu booming hingga penggemarnya di negara-negara yang seharusnya game tersebut belum rilis saja sudah mengunduh dan memainkan game ini. Indonesia sendiri merupakan satu-satunya negara di Asia yang dapat memainkan game ini meskipun belum resmi dirilis, jadi kebanyakan pemain masih mendownload aplikasi dari pihak ketiga (non play store), sedangkan di negara asia lain, game ini dapat terinstal namun tidak dapat dimainkan secara sempurna. Saat ini Pokemon Go menjadi game smartphone paling laris dalam sejarah, sejauh yang saya ketahui, lebih laris ketimbang Angry Bird dan Flappy Bird bahkan COC. Mengapa?
Alasan pertama mengapa game ini sebegitu larisnya karena teknologi yang digunakan merupakan teknologi baru yang memberikan usernya pengalaman bermain yang hampir nyata. Kunci dari larisnya permainan ini adalah rasa penasaran untuk menjajal sensasi menangkap pokemon di berbagai titik lokasi yang ada disekitar pemainnya. Pemain dituntut untuk terus bergerak untuk mencari dan menangkap serta bertarung dengan pemain lain di lokasi nyata dimana mereka tinggal.
Alasan kedua karena permainan ini mudah dimainkan dan tidak memerlukan items tambahan, cukup dengan smartphone berbasis android dan ios, pemain dapat langsung berkeliling menangkap pokemon. Sebenarnya sebelum ini Niantic telah merilis game yang juga berbasis AR yaitu Ingress, namun tidak begitu laris dipasar gamer dunia, saya pikir alasannya karena game tersebut tidak semudah Pokemon Go yang semua kalangan dapat memainkannya.
Pokemon Go tidak hanya menjadi perbincangan karena larisnya game ini di pasaran, namun juga karena beberapa pihak merasa bahwa game ini lebih banyak memberikan dampak negatif ketimbang dampak positifnya. Beberapa negara seperti Mesir telah melarang warganya memainkan game ini, bahkan game ini di cap haram oleh MUI Kabupaten Indramayu. Mengapa pendapat negatif ini bermunculan?
Teknologi baru dari Pokemon Go memicu setidaknya 2 hal bagi kalangan umum, yang pertama adalah rasa PENASARAN, yang membuat game ini laris manis bahkan sebelum resmi dirilis, dan yang kedua adalah rasa TAKUT, yang membuat banyak komentar negatif dan teori konspirasi bermunculan mengenai game ini. Beberapa pendapat negatif dan konspirasi yang bermunculan yaitu:
1. Pokemon Go dianggap sebagai ancaman pertahanan negara karena menggunakan sistem geotagging dan AR yang dapat membocorkan dokumen rahasia keamanan negara.
Beberapa instansi melarang anggotanya memainkan game ini karena alasan tersebut. Saat memainkan permainan ini dikhawatirkan gambar yang ditangkap oleh kamera saat mencari pokemon akan juga terkirim ke server Niantic yang merupakan besutan Google dan bisa disebarluaskan sebagai bahan spionase negara lain.
Teori ini saya rasa terlalu berlebihan, Niantic dan Pokemon Corp merupakan organisasi profit yang murni mengejar keuntungan dari penjualan game ini. Selain itu untuk apa suatu negara menggunakan game sebagai spionase jika bisa lebih efektif menggunakan alat yang jelas lebih canggih untuk memata-matai negara lain. Game ini tidak sehebat itu untuk bisa menampung semua data video curian diseluruh dunia hanya untuk tujuan spionase mereka, hal ini juga disampaikan oleh ahli telematika forensik, Ruby Alamsyah. Justru yang lebih membahayakan adalah penggunaan email pribadi dengan ektensi google, yahoo, dll yang rentan dibajak informasi rahasianya. Pengguna juga dapat mengecek data apa saja yang dikirim ke server Niantic melalui beberapa cara sehingga bisa memastikan apakah terjadi pencurian data penting atau tidak.
Niantic sebenarnya memanfaatkan layanan google maps yang telah ada, bahkan google telah merilis street view dari daerah-daerah dan gedung-gedung di seluruh pelosok dunia, jadi game ini hanya menggabungkan teknologi yang sudah eksis jauh hari namun mengapa protes ini justru tidak dilangsungkan ketika google berkeliling dengan mobil street viewnya ke tiap pelosok daerah?
Munculnya teori ini karena adanya kekhawatiran berlebihan karena ramainya game ini dimainkan oleh gamer diseluruh dunia. Mungkin beberapa tahun lagi game dengan jenis AR seperti ini akan banyak dan menjadi biasa, namun saat ini beberapa pihak masih mewaspadai adanya game ini. People afraid with things that they dont understand!!
2. Pokemon Go dianggap mengurangi produktifitas karyawan dan pelajar yang memainkannya.
Hal ini juga tidak tepat jika hanya menyalahkan Pokemon Go saja, mengingat setiap game yang dimainkan secara berlebihan, tidak pandang game apapun, pasti akan mengganggu kinerja orang itu. Saat ini orang masih penasaran dengan game ini, seiring berjalannya waktu, mereka akan mulai mengganggap game ini biasa saja dan melupakannya. Tidak perlu melarang orang untuk memainkan game ini, cukup mengingatkan mereka akan posisi dan tanggung jawab mereka.
3. Pokemon Go dianggap melecehkan agama karena beberapa Pokestop (lokasi items pokemon berada) merupakan tempat tempat ibadah sehingga banyak pemain masuk kesana.
Memang benar pokestop merupakan lokasi unik seperti gapura, relief, ukiran, patung, dan tempat-tempat ibadah seperti masjid, gereja, klenteng, dsb, namun bagi yang telah memainkan game tersebut akan tau jika pemain tidak perlu memasuki tempat tersebut untuk dapat mengambil items di pokestop. Pemain cukup berada maksimal sekitar 10 meter untuk dapat mengakses pokestop.
Apabila diambil hal positifnya, justru pokestop ini mengenalkan lokasi-lokasi penting disekitar kita yang mungkin sebelumnya kita tidak ketahui, bahkan mengajak kita untuk ke tempat ibadah yang bahkan jarang kita lakukan.
Kebanyakan orang yang takut juga menganggap pokestop (yang kebanyakan tempat ibadah) merupakan tempat menangkap pokemon, karenanya pemain harus berlarian di pokestop untuk mengejar pokemon. Menangkap pokemon tidak seperti manangkap ayam atau kucing didunia nyata, kita cukup memperhatikan notifikasi dan petunjuk adanya pokemon yang tidak hanya di pokestop, namun bisa dimana saja. Cara menangkapnya pun cukup dengan melempar bola virtual di smartphone yang bisa dilakukan dengan berdiri, duduk, jongkok, atau tiduran. Kalaupun ada yang dilakukan sambil berlarian, mungkin mereka melakukan itu biar greget.
4. Pokemon Go juga dicap haram oleh MUI Indramayu karena menganggap permainan ini sama seperti arak yang memabukkan pemainnya dan memainkan game ini dianggap membuang buang waktu.
Saya akan mendukung MUI bila secara sportif mencap haram seluruh game yang ada karena setiap game memang bertujuan untuk membuat pemainnya ketagihan bermain. Namun sayangnya MUI hanya mencap haram Pokemon Go saja yang membuat saya berpikir bahwa MUI sendiri tidak mengetahui tujuan dari dibuatnya sebuah permainan. Akan lebih bijak bila MUI cukup mengingatkan umatnya agar lebih bisa membagi waktu dan mengingatkan anak atau saudaranya bila bermain game secara berlebihan. The time you enjoy wasting is not wasting time!!
5. Pokemon Go juga dilarang karena dianggap buatan umat Yahudi, bahkan Pokemon diartikan sebagai saya yahudi dalam bahasa Syria.
Hal ini berlebihan karena produk-produk yahudi seperti Facebook, CocaCola, dan banyak lainnya masih beredar adem ayem sedangkan game ini sudah di cap aneh dan haram. Pokemon sendiri sudah muncul di TV sejak era 90an yang menjelaskan arti Pokemon berasal dari singkatan Pocket Monster, monster saku, monster yang ditangkap dengan pocket ball kemudian dimasukkan ke saku atau tas.
6. Pokemon Go mengancam keselamatan pemainnya.
Saya agaknya bisa sependapat dengan alasan ini, karena memang resiko dari permainan ini membuat pemain fokus ke smartphone dan kurang aware dengan lingkungan sekitar, akan berbahaya bila dilakukan sambil mengemudikan kendaraan. Namun sekali lagi, game apapun akan berbahaya bila dilakukan sambil melakukan pekerjaan yang butuh fokus tinggi seperti mengemudikan kendaraan.
Namun beberapa orang melarang karena khawatir anaknya mengejar pokemon hingga ke tengah jalan, atau sungai. Seperti hal yang saya sampaikan diatas, pemain yang baik akan memperhatikan lingkungan sekitar, pokemon juga bisa ditangkap tanpa harus dikejar-kejar, hanya dengan memperhatikan notifikasi pokemon disekitar saja. So, Be Aware, Be Save!!
Disclaimer
Ulasan ini saya tulis karena banyak nya pro kontra mengenai game ini, banyak pula pendapat asal yang beredar tanpa mencoba atau merasakan pengalaman bermain ini sendiri. Saya bukan seorang gamer, bukan seorang pokemon maniak, namun saya mencoba untuk mengulas melalui pengalaman pribadi memainkan game ini. Saya mencoba untuk memainkan game ini dengan sengaja sebelum saya mengulas baik atau buruknya. Layaknya ketika saya mengulas suatu film, saya akan memberi komentar setelah saya selesai melihat filmnya, bukan hanya trailernya saja.
Be Objectif, Selamat bermain.





0 comments:
Post a Comment